Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud. (foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ketua DPRD Kalimantan Timur, Hasanuddin Mas’ud, memastikan pembangunan pusat Sekolah Rakyat (SRT) di kawasan Palaran, Samarinda, ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
Proyek yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Kaltim dan didanai oleh Kementerian PUPR tersebut diproyeksikan mampu menampung hingga seribu siswa prasejahtera.
Hasanuddin menjelaskan, saat ini pihaknya belum bisa melakukan penambahan siswa baru lantaran masih bergantung pada dukungan sarana dari Kementerian Sosial (Kemensos).
Penambahan siswa, terangnya, otomatis membutuhkan tambahan ruang kelas, asrama, dan fasilitas penunjang lainnya.
"Mudah-mudahan dengan pembangunan di Palaran yang saat ini sudah berproses, akhir tahun ini bisa selesai. Nanti siswa yang berada di SRT 24 dan 57 bisa dipindahkan ke sana, dan kapasitasnya bisa menampung hampir seribu siswa," ungkap Hasanuddin.
Saat ini, proses belajar mengajar masih memanfaatkan fasilitas yang ada. Di SRT 58 dan SRT 57 masing-masing terdapat 4 rombongan belajar (rombel).
Sementara di kawasan Jalan Perjuangan terdapat 3 rombel, dan saat ini sedang diajukan tambahan 2 rombel lagi ke Kemensos. Kuota per rombel diisi oleh 25 siswa yang mencakup jenjang SD hingga SMA.
Selain fokus pada infrastruktur, operasional Sekolah Rakyat juga sangat memperhatikan kondisi sosial ekonomi para siswanya. Hamas memaparkan, pihak sekolah menerapkan sistem antar-jemput bagi siswa, meskipun hal tersebut tidak diwajibkan dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).
Langkah ini diambil karena mayoritas siswa tidak memiliki biaya transportasi. Penjemputan yang dilakukan langsung oleh guru dan pengurus sekolah juga bertujuan untuk memastikan keamanan anak-anak saat berangkat maupun pulang ke rumah masing-masing.
"Bahkan ada beberapa anak yang tidak kita pulangkan saat libur karena mereka tidak memiliki orang tua. Jadi mereka ditampung oleh wali asrama dan tetap tinggal di sana. Selama ini tidak ada siswa yang menolak kembali ke sekolah, mereka justru betah karena merasa nyaman dan seluruh kebutuhannya ditanggung," jelasnya.
Selama hampir setahun berjalan, program Sekolah Rakyat dinilai membawa dampak positif yang signifikan. Hasanuddin menyebut ada perubahan karakter pada siswa yang kini jauh lebih disiplin dan memiliki kemampuan interaksi sosial yang lebih baik.
Hal ini tak lepas dari dukungan fasilitas yang mumpuni. Siswa kini difasilitasi dengan smartboard (papan pintar), pakaian, tas, hingga laptop.
Khusus untuk laptop, Kemensos telah menyalurkan sekitar 75 unit. Setiap anak mendapatkan satu unit yang disimpan dan digunakan khusus di area sekolah selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Ke depan, Pemprov Kaltim tidak hanya akan memusatkan Sekolah Rakyat di Palaran. Hasanuddin membeberkan adanya rencana penambahan lokasi di beberapa daerah lain, di antaranya Bukit Biru (Tenggarong), Sekambing (Bontang), dan Lawe-Lawe (Penajam Paser Utara).
"Untuk siswa yang di Jalan Perjuangan, itu sifatnya sementara karena menggunakan aset provinsi. Nanti jika pembangunan di Bukit Biru sudah selesai, mereka akan kita pindahkan ke sana," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud. (foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ketua DPRD Kalimantan Timur, Hasanuddin Mas’ud, memastikan pembangunan pusat Sekolah Rakyat (SRT) di kawasan Palaran, Samarinda, ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
Proyek yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Kaltim dan didanai oleh Kementerian PUPR tersebut diproyeksikan mampu menampung hingga seribu siswa prasejahtera.
Hasanuddin menjelaskan, saat ini pihaknya belum bisa melakukan penambahan siswa baru lantaran masih bergantung pada dukungan sarana dari Kementerian Sosial (Kemensos).
Penambahan siswa, terangnya, otomatis membutuhkan tambahan ruang kelas, asrama, dan fasilitas penunjang lainnya.
"Mudah-mudahan dengan pembangunan di Palaran yang saat ini sudah berproses, akhir tahun ini bisa selesai. Nanti siswa yang berada di SRT 24 dan 57 bisa dipindahkan ke sana, dan kapasitasnya bisa menampung hampir seribu siswa," ungkap Hasanuddin.
Saat ini, proses belajar mengajar masih memanfaatkan fasilitas yang ada. Di SRT 58 dan SRT 57 masing-masing terdapat 4 rombongan belajar (rombel).
Sementara di kawasan Jalan Perjuangan terdapat 3 rombel, dan saat ini sedang diajukan tambahan 2 rombel lagi ke Kemensos. Kuota per rombel diisi oleh 25 siswa yang mencakup jenjang SD hingga SMA.
Selain fokus pada infrastruktur, operasional Sekolah Rakyat juga sangat memperhatikan kondisi sosial ekonomi para siswanya. Hamas memaparkan, pihak sekolah menerapkan sistem antar-jemput bagi siswa, meskipun hal tersebut tidak diwajibkan dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).
Langkah ini diambil karena mayoritas siswa tidak memiliki biaya transportasi. Penjemputan yang dilakukan langsung oleh guru dan pengurus sekolah juga bertujuan untuk memastikan keamanan anak-anak saat berangkat maupun pulang ke rumah masing-masing.
"Bahkan ada beberapa anak yang tidak kita pulangkan saat libur karena mereka tidak memiliki orang tua. Jadi mereka ditampung oleh wali asrama dan tetap tinggal di sana. Selama ini tidak ada siswa yang menolak kembali ke sekolah, mereka justru betah karena merasa nyaman dan seluruh kebutuhannya ditanggung," jelasnya.
Selama hampir setahun berjalan, program Sekolah Rakyat dinilai membawa dampak positif yang signifikan. Hasanuddin menyebut ada perubahan karakter pada siswa yang kini jauh lebih disiplin dan memiliki kemampuan interaksi sosial yang lebih baik.
Hal ini tak lepas dari dukungan fasilitas yang mumpuni. Siswa kini difasilitasi dengan smartboard (papan pintar), pakaian, tas, hingga laptop.
Khusus untuk laptop, Kemensos telah menyalurkan sekitar 75 unit. Setiap anak mendapatkan satu unit yang disimpan dan digunakan khusus di area sekolah selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Ke depan, Pemprov Kaltim tidak hanya akan memusatkan Sekolah Rakyat di Palaran. Hasanuddin membeberkan adanya rencana penambahan lokasi di beberapa daerah lain, di antaranya Bukit Biru (Tenggarong), Sekambing (Bontang), dan Lawe-Lawe (Penajam Paser Utara).
"Untuk siswa yang di Jalan Perjuangan, itu sifatnya sementara karena menggunakan aset provinsi. Nanti jika pembangunan di Bukit Biru sudah selesai, mereka akan kita pindahkan ke sana," tutupnya.
(Sf/Rs)