Cari disini...
Seputar Kaltim
Infografis Karhutla Samarinda Januari-September 2026. (Foto: BPBD Kota Samarinda)
Samarinda - Status tanggap darurat bencana di Kota Samarinda resmi diperpanjang. Hal itu diungkapkan Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kota Samarinda, Hamzah, saat dikonfirmasi via WhatsApp, Sabtu (26/9/2026).
Hamzah menjelaskan, ada empat alasan mendasar kenapa perpanjangan ini harus dilakukan.
Pertama, soal cuaca. Rilis BMKG menyebut ancaman El Nino masih panjang. Kemarau belum akan selesai dalam waktu dekat dan prakiraan hujan baru akan turun di akhir Oktober.
"Kondisi kemaraunya masih panjang, hujan baru diprediksi akhir Oktober," kata Hamzah.
Kedua, risiko karhutla yang masih sangat tinggi. Eskalasi kejadian terus naik. Sampai 21 September tercatat sudah lebih dari 198 kejadian, dan per hari ini angkanya sudah tembus 224 kejadian lebih dengan luasan terbakar 497,75 hektare.
"Itu eskalasinya enam hari berturut-turut, dari 16 sampai 22 September kemarin," ungkapnya.
Ketiga, krisis air bersih yang masih terjadi. Kondisi Bendungan Benanga sebagai sumber baku air dilaporkan kering dan menjadi titik kritis distribusi. Dalam 14 hari pertama tanggap darurat sempat ada penormalan dari PDAM, tapi fluktuasi air masih naik turun.
"Bahkan per hari ini, dari kemarin PDAM rilis ada lima IPAL yang tetap mengalirkan air meski kondisinya payau, asin, dengan kadar klorida melebihi 250 ppm," jelasnya.
Alasan terakhir, terkait mekanisme anggaran. Untuk penanggulangan bencana, regulasi mengharuskan status tanggap darurat agar Belanja Tidak Terduga (BTT) bisa dicairkan.
"Supaya bisa mencairkan belanja tidak terduga, harus ada mekanisme yang diatur lewat status tanggap darurat," pungkas Hamzah.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Infografis Karhutla Samarinda Januari-September 2026. (Foto: BPBD Kota Samarinda)
Samarinda - Status tanggap darurat bencana di Kota Samarinda resmi diperpanjang. Hal itu diungkapkan Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kota Samarinda, Hamzah, saat dikonfirmasi via WhatsApp, Sabtu (26/9/2026).
Hamzah menjelaskan, ada empat alasan mendasar kenapa perpanjangan ini harus dilakukan.
Pertama, soal cuaca. Rilis BMKG menyebut ancaman El Nino masih panjang. Kemarau belum akan selesai dalam waktu dekat dan prakiraan hujan baru akan turun di akhir Oktober.
"Kondisi kemaraunya masih panjang, hujan baru diprediksi akhir Oktober," kata Hamzah.
Kedua, risiko karhutla yang masih sangat tinggi. Eskalasi kejadian terus naik. Sampai 21 September tercatat sudah lebih dari 198 kejadian, dan per hari ini angkanya sudah tembus 224 kejadian lebih dengan luasan terbakar 497,75 hektare.
"Itu eskalasinya enam hari berturut-turut, dari 16 sampai 22 September kemarin," ungkapnya.
Ketiga, krisis air bersih yang masih terjadi. Kondisi Bendungan Benanga sebagai sumber baku air dilaporkan kering dan menjadi titik kritis distribusi. Dalam 14 hari pertama tanggap darurat sempat ada penormalan dari PDAM, tapi fluktuasi air masih naik turun.
"Bahkan per hari ini, dari kemarin PDAM rilis ada lima IPAL yang tetap mengalirkan air meski kondisinya payau, asin, dengan kadar klorida melebihi 250 ppm," jelasnya.
Alasan terakhir, terkait mekanisme anggaran. Untuk penanggulangan bencana, regulasi mengharuskan status tanggap darurat agar Belanja Tidak Terduga (BTT) bisa dicairkan.
"Supaya bisa mencairkan belanja tidak terduga, harus ada mekanisme yang diatur lewat status tanggap darurat," pungkas Hamzah.
(Sf/Lo)