Tangani Masalah Strategis, Kecamatan Samarinda Seberang Luncurkan Forum Orangtua Asuh Peduli

    Seputarfakta.com - Tria -

    Seputar Kaltim

    19 Januari 2025 02:19 WIB

    Camat Samarinda Seberang, Aditya Koesprayogi. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Untuk menangani sejumlah masalah yang ada di wilayah kecamatan Samarinda Seberang, dibentuklah Forum Orangtua Asuh Peduli sebagai langkah inovatif untuk mengatasi permasalah tersebut. 

    Camat Samarinda Seberang, Aditya Koesprayogi mengatakan, forum ini digagas sebagai upaya di luar mekanisme pemerintah formal, berangkat dari hasil diskusi bersama tokoh masyarakat, pengusaha, dan para orangtua. 

    Forum ini, kata dia, memfokuskan perhatian pada tiga isu utama, yaitu anak putus sekolah, stunting, dan anak jalanan.  

    "Jika kita berinvestasi secara positif pada anak-anak, hasilnya akan baik. Namun, jika dibiarkan, mereka berpotensi menjadi beban bagi daerah atau bahkan negara," ujar Adit.  

    Lebih lanjut, ia mengatakan, fokus utama program ini adalah memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan sebagai bentuk investasi jangka panjang.  

    Salah satu terobosan dalam forum ini adalah pendirian sanggar belajar yang berlokasi di Kantor Kecamatan Samarinda Seberang. Sanggar ini bertujuan membantu anak-anak putus sekolah yang disebabkan oleh faktor ekonomi, sosial, atau keengganan untuk kembali ke pendidikan formal.  

    Dalam pelaksanaannya, pihak kecamatan bekerja sama dengan psikolog dari Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk memberikan pendampingan bagi anak-anak tersebut. 

    "Kami memberikan orientasi tentang pentingnya pendidikan, meskipun kelak mereka bekerja di sektor seperti perikanan. Wawasan luas tetap penting untuk menghadapi tantangan zaman," jelasnya.  

    Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda juga turut dilibatkan dengan mengadakan sesi belajar rutin setiap malam Kamis dan malam Jumat pukul 19.00–21.00 WITA. 

    Dukungan juga datang dari berbagai pihak. Ia menyebut tokoh masyarakat, pengusaha, hingga anggota DPRD juga turut berkontribusi, yang tidak hanya bertindak sebagai donatur, tetapi juga motivator bagi anak-anak.  

    Selain itu, forum ini juga berupaya membantu anak-anak yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Dalam hal ini, pihak kecamatan bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menyelamatkan anak-anak yang berpotensi terjerat dalam lingkaran peredaran narkoba. 

    Adit mengakui bahwa salah satu tantangan utama adalah menjaga semangat anak-anak dan orangtua dalam program ini. Untuk mengatasi kendala seperti transportasi, pihak kecamatan bahkan menyediakan mobil dinas untuk menjemput peserta.  

    "Jika dari sepuluh anak yang kami dampingi, lima saja bisa diselamatkan, itu sudah sangat berarti," ungkapnya.  

    Melalui Forum Orangtua Asuh Peduli, Adit berharap Samarinda Seberang dapat berkembang menjadi wilayah yang lebih maju dan terbuka. Ia ingin menghapus stigma bahwa Samarinda Seberang adalah kawasan pinggiran. Padahal menurutnya wilayah ini memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik.  

    "Kami membatasi jumlah peserta hingga 50 orang terlebih dahulu agar program ini tetap terkelola dengan baik. Sambil berjalan, kami belajar untuk meningkatkan efektivitasnya," pungkasnya.  

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Tangani Masalah Strategis, Kecamatan Samarinda Seberang Luncurkan Forum Orangtua Asuh Peduli

    Seputarfakta.com - Tria -

    Seputar Kaltim

    19 Januari 2025 02:19 WIB

    Camat Samarinda Seberang, Aditya Koesprayogi. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Untuk menangani sejumlah masalah yang ada di wilayah kecamatan Samarinda Seberang, dibentuklah Forum Orangtua Asuh Peduli sebagai langkah inovatif untuk mengatasi permasalah tersebut. 

    Camat Samarinda Seberang, Aditya Koesprayogi mengatakan, forum ini digagas sebagai upaya di luar mekanisme pemerintah formal, berangkat dari hasil diskusi bersama tokoh masyarakat, pengusaha, dan para orangtua. 

    Forum ini, kata dia, memfokuskan perhatian pada tiga isu utama, yaitu anak putus sekolah, stunting, dan anak jalanan.  

    "Jika kita berinvestasi secara positif pada anak-anak, hasilnya akan baik. Namun, jika dibiarkan, mereka berpotensi menjadi beban bagi daerah atau bahkan negara," ujar Adit.  

    Lebih lanjut, ia mengatakan, fokus utama program ini adalah memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan sebagai bentuk investasi jangka panjang.  

    Salah satu terobosan dalam forum ini adalah pendirian sanggar belajar yang berlokasi di Kantor Kecamatan Samarinda Seberang. Sanggar ini bertujuan membantu anak-anak putus sekolah yang disebabkan oleh faktor ekonomi, sosial, atau keengganan untuk kembali ke pendidikan formal.  

    Dalam pelaksanaannya, pihak kecamatan bekerja sama dengan psikolog dari Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk memberikan pendampingan bagi anak-anak tersebut. 

    "Kami memberikan orientasi tentang pentingnya pendidikan, meskipun kelak mereka bekerja di sektor seperti perikanan. Wawasan luas tetap penting untuk menghadapi tantangan zaman," jelasnya.  

    Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda juga turut dilibatkan dengan mengadakan sesi belajar rutin setiap malam Kamis dan malam Jumat pukul 19.00–21.00 WITA. 

    Dukungan juga datang dari berbagai pihak. Ia menyebut tokoh masyarakat, pengusaha, hingga anggota DPRD juga turut berkontribusi, yang tidak hanya bertindak sebagai donatur, tetapi juga motivator bagi anak-anak.  

    Selain itu, forum ini juga berupaya membantu anak-anak yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Dalam hal ini, pihak kecamatan bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menyelamatkan anak-anak yang berpotensi terjerat dalam lingkaran peredaran narkoba. 

    Adit mengakui bahwa salah satu tantangan utama adalah menjaga semangat anak-anak dan orangtua dalam program ini. Untuk mengatasi kendala seperti transportasi, pihak kecamatan bahkan menyediakan mobil dinas untuk menjemput peserta.  

    "Jika dari sepuluh anak yang kami dampingi, lima saja bisa diselamatkan, itu sudah sangat berarti," ungkapnya.  

    Melalui Forum Orangtua Asuh Peduli, Adit berharap Samarinda Seberang dapat berkembang menjadi wilayah yang lebih maju dan terbuka. Ia ingin menghapus stigma bahwa Samarinda Seberang adalah kawasan pinggiran. Padahal menurutnya wilayah ini memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik.  

    "Kami membatasi jumlah peserta hingga 50 orang terlebih dahulu agar program ini tetap terkelola dengan baik. Sambil berjalan, kami belajar untuk meningkatkan efektivitasnya," pungkasnya.  

    (Sf/Rs)