Cari disini...
Seputar Kaltim
SPBU KM 9 Nipah-Nipah, salah satu titik pengisian BBM di PPU. Pemkab berencana membangun SPBU pemerintah untuk memperluas akses BBM bagi masyarakat. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memiliki tujuh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Jumlah itu dinilai belum cukup menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari titik pengisian BBM.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro, mengatakan persoalannya bukan pada pasokan. Kuota BBM yang diajukan pemerintah telah dihitung berdasarkan kebutuhan Kabupaten PPU.
Masalahnya berada pada akses. Jarak antar-SPBU yang jauh ditambah antrean membuat masyarakat di wilayah tertentu memilih membeli BBM eceran karena lebih mudah diperoleh.
"Persoalannya jarak antar-SPBU jauh, antreannya mengular," kata Hadi, belum lama ini.
Menurut Hadi, kondisi itu membuat akses terhadap BBM subsidi belum sepenuhnya mudah bagi masyarakat.
"Di PPU, jarak antarstasiun bahan bakar itu jauh. Karena butuh cepat, masyarakat tidak punya pilihan, akhirnya banyak membeli eceran. Padahal BBM bersubsidi harusnya bisa diakses," ujarnya.
Menjawab masalah di lapangan, Pemkab PPU menyiapkan opsi membangun SPBU sendiri melalui BUMD.
Dikatakan Bupati PPU, Mudyat Noor, Jumat (4/9/2026), rencana tersebut disiapkan agar pemerintah punya ruang lebih besar dalam mengatur penyaluran BBM subsidi.
"Rencana mendirikan SPBU pemerintah sehingga BBM subsidi bisa kita kendalikan," kata Mudyat.
Bukan hanya soal titik pengisian, pemerintah juga ingin kuota BBM subsidi dapat ditentukan sesuai kebutuhan. Langkah itu diharapkan menekan praktik pengetapan yang belakangan terjadi.
Rencana awal pembangunan SPBU berada di kawasan Korpri. Mudyat menyebut lokasi tersebut memiliki akses jalan yang luas sehingga pembangunan tidak harus mengambil posisi di pinggir jalan utama.
Modalnya direncanakan berasal dari BUMD. Pemkab masih berkonsultasi dengan Pertamina Patra Niaga untuk membahas pola bisnis dan kemungkinan kegiatan SPBU menjadi tambahan pemasukan bagi perusahaan daerah.
Mudyat mengatakan skema kerja sama dengan pihak ketiga belum menjadi pilihan awal. Jika pihak lain dilibatkan, proses kerja sama akan dibahas lebih lanjut.
Selain kendaraan angkutan, pemerintah ingin BBM subsidi juga bisa diakses sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Penyalurannya akan diarahkan agar penerima lebih terkoordinasi.
"Harapannya nanti juga bisa diakses untuk kebutuhan pertanian, perkebunan, dan perikanan," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

SPBU KM 9 Nipah-Nipah, salah satu titik pengisian BBM di PPU. Pemkab berencana membangun SPBU pemerintah untuk memperluas akses BBM bagi masyarakat. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memiliki tujuh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Jumlah itu dinilai belum cukup menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari titik pengisian BBM.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro, mengatakan persoalannya bukan pada pasokan. Kuota BBM yang diajukan pemerintah telah dihitung berdasarkan kebutuhan Kabupaten PPU.
Masalahnya berada pada akses. Jarak antar-SPBU yang jauh ditambah antrean membuat masyarakat di wilayah tertentu memilih membeli BBM eceran karena lebih mudah diperoleh.
"Persoalannya jarak antar-SPBU jauh, antreannya mengular," kata Hadi, belum lama ini.
Menurut Hadi, kondisi itu membuat akses terhadap BBM subsidi belum sepenuhnya mudah bagi masyarakat.
"Di PPU, jarak antarstasiun bahan bakar itu jauh. Karena butuh cepat, masyarakat tidak punya pilihan, akhirnya banyak membeli eceran. Padahal BBM bersubsidi harusnya bisa diakses," ujarnya.
Menjawab masalah di lapangan, Pemkab PPU menyiapkan opsi membangun SPBU sendiri melalui BUMD.
Dikatakan Bupati PPU, Mudyat Noor, Jumat (4/9/2026), rencana tersebut disiapkan agar pemerintah punya ruang lebih besar dalam mengatur penyaluran BBM subsidi.
"Rencana mendirikan SPBU pemerintah sehingga BBM subsidi bisa kita kendalikan," kata Mudyat.
Bukan hanya soal titik pengisian, pemerintah juga ingin kuota BBM subsidi dapat ditentukan sesuai kebutuhan. Langkah itu diharapkan menekan praktik pengetapan yang belakangan terjadi.
Rencana awal pembangunan SPBU berada di kawasan Korpri. Mudyat menyebut lokasi tersebut memiliki akses jalan yang luas sehingga pembangunan tidak harus mengambil posisi di pinggir jalan utama.
Modalnya direncanakan berasal dari BUMD. Pemkab masih berkonsultasi dengan Pertamina Patra Niaga untuk membahas pola bisnis dan kemungkinan kegiatan SPBU menjadi tambahan pemasukan bagi perusahaan daerah.
Mudyat mengatakan skema kerja sama dengan pihak ketiga belum menjadi pilihan awal. Jika pihak lain dilibatkan, proses kerja sama akan dibahas lebih lanjut.
Selain kendaraan angkutan, pemerintah ingin BBM subsidi juga bisa diakses sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Penyalurannya akan diarahkan agar penerima lebih terkoordinasi.
"Harapannya nanti juga bisa diakses untuk kebutuhan pertanian, perkebunan, dan perikanan," pungkasnya.
(Sf/Rs)