Taman Super Hero di Tenggarong Menuai Kontroversi, Identitas Lokal Dipertanyakan

    Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -

    Seputar Kaltim

    12 Desember 2025 11:49 WIB

    Taman super hero yang berada di Kawasan Pasar Tangga Arung, Kecamatan Tenggarong. (Foto: Aan/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Taman Super Hero yang berada di Pasar Tangga Arung menuai pro dan kontra dari sejumlah masyarakat Kecamatan Tenggarong. 

    Masyarakat mempertanyakan konsep taman dan patung yang dipajang justru bertentangan dengan amanat regulasi.

    “Bangunan pasarnya modern, tapi tidak sesuai dengan identitas lokal. Kalau dilihat dari sejarah Kota Tenggarong saja sudah tidak nyambung dengan patung-patung yang dipasang,” kata Warga, Rara, Jumat (12/12/2025).

    Kukar memiliki banyak figur dan legenda lokal yang bisa jadikan sebagai ikon, salah satunya Awang Long Senopati sebagai lambang perlawanan Kutai. 

    Sementara, Ketua Ormas Remaong Kutai Berjaya (RKB), Hebby Arafat juga menyuarakan kekecewaannya melalui Facebook. Ia menyebut patung-patung tersebut tidak mencerminkan tokoh di tanah Kutai.

    “Ini patung malang adat. Tenggarong tanah Kutai, bukan tanah Jawa. Tanah Kutai tidak kehabisan tokoh. Jangan hilangkan kearifan lokal di tanah kita,” ujar Hebby.

    Kata dia, bahkan nama taman juga bisa menggunakan istilah budaya lokal seperti Taman Odah Benaong atau Taman Odah Bejono’an. 

    “Saya lihat semakin hari semakin hilang identitas Kutai etam,” ujarnya.

    Ia menegaskan pihaknya siap melakukan aksi turun ke jalan jika patung-patung tersebut dalam tiga hari tidak segera diganti.

    “Pembangunan fisik yang berkaitan dengan etnik harus disosialisasikan dan melibatkan unsur kebudayaan daerah. Jangan sampai ada kesalahpahaman seperti ini. Saya rasa sudah sangat jelas ujar pepatah kita, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” tegasnya.

    Pemerintah harusnya dapat berdialog dengan budayawan, ormas dan tokoh masyarakat sebelum melakukan pembangunan yang berpotensi menghamburkan anggaran seperti ini.

    “Kami ingin pemerintah segera melakukan evaluasi supaya penataan ruang publik tetap sesuai dengan identitas budaya Kutai.

    Hingga berita ini naik, seputarfakta.com telah berupaya mengonfirmasi Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar dan belum mendapatkan tanggapan. 

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Taman Super Hero di Tenggarong Menuai Kontroversi, Identitas Lokal Dipertanyakan

    Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -

    Seputar Kaltim

    12 Desember 2025 11:49 WIB

    Taman super hero yang berada di Kawasan Pasar Tangga Arung, Kecamatan Tenggarong. (Foto: Aan/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Taman Super Hero yang berada di Pasar Tangga Arung menuai pro dan kontra dari sejumlah masyarakat Kecamatan Tenggarong. 

    Masyarakat mempertanyakan konsep taman dan patung yang dipajang justru bertentangan dengan amanat regulasi.

    “Bangunan pasarnya modern, tapi tidak sesuai dengan identitas lokal. Kalau dilihat dari sejarah Kota Tenggarong saja sudah tidak nyambung dengan patung-patung yang dipasang,” kata Warga, Rara, Jumat (12/12/2025).

    Kukar memiliki banyak figur dan legenda lokal yang bisa jadikan sebagai ikon, salah satunya Awang Long Senopati sebagai lambang perlawanan Kutai. 

    Sementara, Ketua Ormas Remaong Kutai Berjaya (RKB), Hebby Arafat juga menyuarakan kekecewaannya melalui Facebook. Ia menyebut patung-patung tersebut tidak mencerminkan tokoh di tanah Kutai.

    “Ini patung malang adat. Tenggarong tanah Kutai, bukan tanah Jawa. Tanah Kutai tidak kehabisan tokoh. Jangan hilangkan kearifan lokal di tanah kita,” ujar Hebby.

    Kata dia, bahkan nama taman juga bisa menggunakan istilah budaya lokal seperti Taman Odah Benaong atau Taman Odah Bejono’an. 

    “Saya lihat semakin hari semakin hilang identitas Kutai etam,” ujarnya.

    Ia menegaskan pihaknya siap melakukan aksi turun ke jalan jika patung-patung tersebut dalam tiga hari tidak segera diganti.

    “Pembangunan fisik yang berkaitan dengan etnik harus disosialisasikan dan melibatkan unsur kebudayaan daerah. Jangan sampai ada kesalahpahaman seperti ini. Saya rasa sudah sangat jelas ujar pepatah kita, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” tegasnya.

    Pemerintah harusnya dapat berdialog dengan budayawan, ormas dan tokoh masyarakat sebelum melakukan pembangunan yang berpotensi menghamburkan anggaran seperti ini.

    “Kami ingin pemerintah segera melakukan evaluasi supaya penataan ruang publik tetap sesuai dengan identitas budaya Kutai.

    Hingga berita ini naik, seputarfakta.com telah berupaya mengonfirmasi Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar dan belum mendapatkan tanggapan. 

    (Sf/Lo)