Cari disini...
Seputarfakta.com - Agus Saputra -
Seputar Kaltim
Kondisi salah satu miniatur di Taman Replika Tenggarong (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Kondisi Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia di Jalan Anggana, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) kini terlihat memprihatinkan akibat tidak terawat dengan baik.
Infrastruktur yang dibangun dengan menelan anggaran sekitar Rp20 miliar itu terbengkalai diduga akibat ketidakjelasan status pengelolaan aset, sehingga belum diketahui organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki tanggung jawab atas aset tersebut.
Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono menyatakan pihaknya bersama DPRD kini tidak mencari pihak yang harus disalahkan atas terbengkalainya Taman Replika, tapi fokus pada upaya untuk mengoptimalkan kembali aset berharga milik daerah tersebut.
“Yang terpenting adalah bagaimana ke depan, anggaran yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah daerah bisa benar-benar fungsional,” ujar Wiyono, Selasa (14/4/2026).
Sebagai salah satu upaya penanganan awal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar akan melibatkan sejumlah OPD untuk melakukan aksi gotong royong membersihkan area Taman Replika, mengingat bangunan yang telah berdiri sejak 2015 itu kondisinya telah ditumbuhi tanaman liar dan miniatur kerajaan dipenuhi dedaunan kering.
“Kemungkinan Jumat ini kita akan lakukan pembersihan bersama. Nanti setelah itu, baru kita diskusikan rencana pengelolaan dan pemanfaatannya,” terang Wiyono.
Selain bersih-bersih, pemerintah daerah juga akan berupaya agar Taman Replika dapat dialiri air dan arus listrik untuk mendukung operasional serta pemanfaatan fasilitas di kawasan tersebut.
Tidak hanya itu, keberadaan penjaga dinilai penting guna memastikan aset tersebut terawasi dan terjaga dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mencoba untuk merusak.
“Yang utama adalah kebutuhan dasar, yaitu listrik dan air karena saat ini belum tersedia. Padahal, kalau kita berbicara ingin dioperasionalkan, maka dua hal itu sangat dibutuhkan,” terangnya.
Wiyono menilai kawasan tersebut masih memiliki potensi untuk dihidupkan kembali, apabila dibarengi dengan pengelolaan yang jelas.
“Kalau sudah dibangun, tentu sayang kalau tidak dimanfaatkan kembali. Jadi yang penting, setelah dibersihkan harus ada kegiatan. Kalau tidak, dalam waktu singkat akan kembali tidak terawat,” tandasnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Agus Saputra -
Seputar Kaltim

Kondisi salah satu miniatur di Taman Replika Tenggarong (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Kondisi Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia di Jalan Anggana, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) kini terlihat memprihatinkan akibat tidak terawat dengan baik.
Infrastruktur yang dibangun dengan menelan anggaran sekitar Rp20 miliar itu terbengkalai diduga akibat ketidakjelasan status pengelolaan aset, sehingga belum diketahui organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki tanggung jawab atas aset tersebut.
Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono menyatakan pihaknya bersama DPRD kini tidak mencari pihak yang harus disalahkan atas terbengkalainya Taman Replika, tapi fokus pada upaya untuk mengoptimalkan kembali aset berharga milik daerah tersebut.
“Yang terpenting adalah bagaimana ke depan, anggaran yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah daerah bisa benar-benar fungsional,” ujar Wiyono, Selasa (14/4/2026).
Sebagai salah satu upaya penanganan awal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar akan melibatkan sejumlah OPD untuk melakukan aksi gotong royong membersihkan area Taman Replika, mengingat bangunan yang telah berdiri sejak 2015 itu kondisinya telah ditumbuhi tanaman liar dan miniatur kerajaan dipenuhi dedaunan kering.
“Kemungkinan Jumat ini kita akan lakukan pembersihan bersama. Nanti setelah itu, baru kita diskusikan rencana pengelolaan dan pemanfaatannya,” terang Wiyono.
Selain bersih-bersih, pemerintah daerah juga akan berupaya agar Taman Replika dapat dialiri air dan arus listrik untuk mendukung operasional serta pemanfaatan fasilitas di kawasan tersebut.
Tidak hanya itu, keberadaan penjaga dinilai penting guna memastikan aset tersebut terawasi dan terjaga dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mencoba untuk merusak.
“Yang utama adalah kebutuhan dasar, yaitu listrik dan air karena saat ini belum tersedia. Padahal, kalau kita berbicara ingin dioperasionalkan, maka dua hal itu sangat dibutuhkan,” terangnya.
Wiyono menilai kawasan tersebut masih memiliki potensi untuk dihidupkan kembali, apabila dibarengi dengan pengelolaan yang jelas.
“Kalau sudah dibangun, tentu sayang kalau tidak dimanfaatkan kembali. Jadi yang penting, setelah dibersihkan harus ada kegiatan. Kalau tidak, dalam waktu singkat akan kembali tidak terawat,” tandasnya.
(Sf/Rs)