Taman Kota Raja Kian Redup, Pedagang Soroti Pencurian Kabel dan Minim Perawatan

    Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -

    Seputar Kaltim

    03 Juni 2026 12:36 WIB

    Kondisi Taman Kota Raja Saat dikunjungi (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Tenggarong – Maraknya dugaan pencurian kabel dan fasilitas penerangan, minimnya perawatan, serta banyaknya lampu yang tidak lagi berfungsi membuat Taman Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) kian kehilangan daya tarik. 

    Kondisi tersebut dikeluhkan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengaku omzet terus menurun seiring berkurangnya jumlah pengunjung yang datang ke salah satu ruang publik ikonik di ibu kota Kutai Kartanegara tersebut.

    Salah seorang pedagang UMKM di kawasan Taman Kota Raja, Eni, mengatakan kondisi taman saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika kawasan tersebut masih menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat untuk bersantai pada malam hari.

    Menurutnya, sejumlah lampu taman sudah lama tidak berfungsi sehingga membuat kawasan tersebut gelap saat malam. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya kabel dan fasilitas penerangan yang diduga hilang akibat pencurian.

    “Lampu-lampunya sudah banyak yang mati. Jembatan Ulin juga gelap karena tidak ada penerangan. Dulu terang dan ramai, sekarang jadi sepi,” ujar Eni, Rabu (3/6/2026).

    Eni yang telah berjualan sejak 2018 mengaku penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada omzet usaha para pedagang. Bahkan, untuk memperoleh pendapatan harian sebesar Rp100 ribu saja kini tidak mudah.

    “Turun banget. Mau dapat Rp100 ribu sehari saja susah sekarang,” tuturnya.

    Ia menuturkan keramaian hanya terjadi pada momen-momen tertentu, seperti saat libur Lebaran. Di luar itu, suasana taman cenderung sepi meski pada akhir pekan.

    “Sekarang malam Minggu atau hari Minggu tetap saja seperti hari biasa. Kecuali waktu Lebaran kemarin, masih lumayan ramai karena banyak orang dari luar datang,” ungkapnya.

    Selain minim penerangan, Eni menilai munculnya sejumlah taman dan ruang terbuka baru di Tenggarong turut memengaruhi jumlah pengunjung yang datang ke Taman Kota Raja. Namun demikian, ia meyakini kawasan tersebut masih memiliki daya tarik apabila kembali ditata dan dirawat dengan baik.

    Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dapat melakukan perbaikan fasilitas, khususnya lampu penerangan, serta meningkatkan perawatan taman agar kembali menarik minat masyarakat.

    “Harapannya lampu-lampunya diperbaiki lagi, tamannya dirawat dan diperbarui supaya pengunjung kembali ramai. Kalau ramai, UMKM juga bisa terbantu,” katanya.

    Menurut Eni, saat ini masih terdapat sekitar 15 hingga 16 pelaku UMKM yang berjualan di kawasan tersebut. Namun sebagian pedagang memilih berhenti karena pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.

    Selain persoalan sepinya pengunjung, para pedagang juga mengaku menghadapi masalah keamanan. Sejumlah barang dagangan maupun fasilitas pendukung penerangan dilaporkan pernah hilang. Karena itu, pedagang kini memilih membawa pulang seluruh perlengkapan usaha setiap selesai berjualan.

    Meski kondisi usaha semakin berat, Eni mengaku tetap bertahan berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

    “Walaupun sedikit, yang penting ada untuk belanja sehari-hari,” jelasnya.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Taman Kota Raja Kian Redup, Pedagang Soroti Pencurian Kabel dan Minim Perawatan

    Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -

    Seputar Kaltim

    03 Juni 2026 12:36 WIB

    Kondisi Taman Kota Raja Saat dikunjungi (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Tenggarong – Maraknya dugaan pencurian kabel dan fasilitas penerangan, minimnya perawatan, serta banyaknya lampu yang tidak lagi berfungsi membuat Taman Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) kian kehilangan daya tarik. 

    Kondisi tersebut dikeluhkan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengaku omzet terus menurun seiring berkurangnya jumlah pengunjung yang datang ke salah satu ruang publik ikonik di ibu kota Kutai Kartanegara tersebut.

    Salah seorang pedagang UMKM di kawasan Taman Kota Raja, Eni, mengatakan kondisi taman saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika kawasan tersebut masih menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat untuk bersantai pada malam hari.

    Menurutnya, sejumlah lampu taman sudah lama tidak berfungsi sehingga membuat kawasan tersebut gelap saat malam. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya kabel dan fasilitas penerangan yang diduga hilang akibat pencurian.

    “Lampu-lampunya sudah banyak yang mati. Jembatan Ulin juga gelap karena tidak ada penerangan. Dulu terang dan ramai, sekarang jadi sepi,” ujar Eni, Rabu (3/6/2026).

    Eni yang telah berjualan sejak 2018 mengaku penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada omzet usaha para pedagang. Bahkan, untuk memperoleh pendapatan harian sebesar Rp100 ribu saja kini tidak mudah.

    “Turun banget. Mau dapat Rp100 ribu sehari saja susah sekarang,” tuturnya.

    Ia menuturkan keramaian hanya terjadi pada momen-momen tertentu, seperti saat libur Lebaran. Di luar itu, suasana taman cenderung sepi meski pada akhir pekan.

    “Sekarang malam Minggu atau hari Minggu tetap saja seperti hari biasa. Kecuali waktu Lebaran kemarin, masih lumayan ramai karena banyak orang dari luar datang,” ungkapnya.

    Selain minim penerangan, Eni menilai munculnya sejumlah taman dan ruang terbuka baru di Tenggarong turut memengaruhi jumlah pengunjung yang datang ke Taman Kota Raja. Namun demikian, ia meyakini kawasan tersebut masih memiliki daya tarik apabila kembali ditata dan dirawat dengan baik.

    Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dapat melakukan perbaikan fasilitas, khususnya lampu penerangan, serta meningkatkan perawatan taman agar kembali menarik minat masyarakat.

    “Harapannya lampu-lampunya diperbaiki lagi, tamannya dirawat dan diperbarui supaya pengunjung kembali ramai. Kalau ramai, UMKM juga bisa terbantu,” katanya.

    Menurut Eni, saat ini masih terdapat sekitar 15 hingga 16 pelaku UMKM yang berjualan di kawasan tersebut. Namun sebagian pedagang memilih berhenti karena pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.

    Selain persoalan sepinya pengunjung, para pedagang juga mengaku menghadapi masalah keamanan. Sejumlah barang dagangan maupun fasilitas pendukung penerangan dilaporkan pernah hilang. Karena itu, pedagang kini memilih membawa pulang seluruh perlengkapan usaha setiap selesai berjualan.

    Meski kondisi usaha semakin berat, Eni mengaku tetap bertahan berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

    “Walaupun sedikit, yang penting ada untuk belanja sehari-hari,” jelasnya.

    (Sf/Rs)