Cari disini...
Seputar Kaltim
Galeri tersebut menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan melihat berbagai koleksi sejarah kota Balikpapan. (Foto : maya sari/seputarfakta.com)
Balikpapan - Keberadaan Galeri Arsip yang baru diluncurkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan mulai mendapat perhatian masyarakat, khususnya dari kalangan pelajar.
Galeri tersebut menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan melihat berbagai koleksi arsip yang berkaitan dengan sejarah Kota Balikpapan.
Kepala Dispustakar, Neny Dwi Winahyu mengatakan, antusiasme masyarakat mulai terlihat sejak galeri tersebut diluncurkan.
“Bahkan sehari setelah peresmian, pihaknya telah menerima kunjungan dari dua rombongan sekolah yang datang untuk melihat secara langsung koleksi arsip yang dipamerkan,” ucap Neny kepada awak media, Senin (7/9/2026).
Dispustakar akan terus memperkuat koleksi Galeri Arsip dengan mengumpulkan berbagai arsip dan dokumen yang berkaitan dengan sejarah Kota Balikpapan.
Upaya tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).“Dispustakar juga akan menggandeng sejumlah pegiat budaya, serta lembaga yang memiliki kepedulian terhadap sejarah Balikpapan, salah satunya Rumah Dahor,” terangnya.
Ia menjelaskan, saat ini koleksi yang telah terdata berjumlah sekitar 50 arsip. Sementara itu, sejumlah arsip nasional dari ANRI yang telah memiliki kode juga sudah tersedia untuk mendukung koleksi di galeri.
“Untuk koleksinya sejauh ini masih dalam proses pendataan, tetapi sekitar 50-an. Kalau yang berasal dari ANRI, arsip nasional yang sudah memiliki kode-kode itu sudah ada,” ungkapnya.
Meski demikian, belum seluruh koleksi yang dimiliki Dispustakar dapat dipajang di Galeri Arsip. Kondisi tersebut disebabkan keterbatasan ruang pamer yang tersedia.
Karena itu, Dispustakar berencana melakukan pembaruan koleksi secara berkala. Dengan cara tersebut, masyarakat yang berkunjung dapat melihat arsip yang berbeda pada setiap kunjungan.
“Karena ruangannya masih terbatas, masih ada koleksi yang disimpan dan belum seluruhnya dipajang. Insyaallah akan dilakukan pembaruan koleksi sekitar sebulan sekali,” akunya.
Sementara itu, terkait kemungkinan adanya arsip sejarah Balikpapan yang saat ini berada di luar negeri, Neny menyebut pihaknya masih perlu melakukan koordinasi lebih lanjut dengan ANRI.
Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan keberadaan sekaligus status arsip yang dimaksud. Menurutnya, kewenangan terhadap arsip yang telah berada di luar negeri berada pada pemerintah pusat.
Sebutnya, arsip yang saat ini ditampilkan di Galeri Arsip Dispustakar merupakan arsip sekunder. Adapun arsip primer atau dokumen aslinya tetap berada di ANRI di Jakarta.
“Kalau sudah lintas negara, kewenangannya memang berada di pemerintah pusat. Kami akan terus berkoordinasi dengan ANRI,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Galeri tersebut menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan melihat berbagai koleksi sejarah kota Balikpapan. (Foto : maya sari/seputarfakta.com)
Balikpapan - Keberadaan Galeri Arsip yang baru diluncurkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan mulai mendapat perhatian masyarakat, khususnya dari kalangan pelajar.
Galeri tersebut menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan melihat berbagai koleksi arsip yang berkaitan dengan sejarah Kota Balikpapan.
Kepala Dispustakar, Neny Dwi Winahyu mengatakan, antusiasme masyarakat mulai terlihat sejak galeri tersebut diluncurkan.
“Bahkan sehari setelah peresmian, pihaknya telah menerima kunjungan dari dua rombongan sekolah yang datang untuk melihat secara langsung koleksi arsip yang dipamerkan,” ucap Neny kepada awak media, Senin (7/9/2026).
Dispustakar akan terus memperkuat koleksi Galeri Arsip dengan mengumpulkan berbagai arsip dan dokumen yang berkaitan dengan sejarah Kota Balikpapan.
Upaya tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).“Dispustakar juga akan menggandeng sejumlah pegiat budaya, serta lembaga yang memiliki kepedulian terhadap sejarah Balikpapan, salah satunya Rumah Dahor,” terangnya.
Ia menjelaskan, saat ini koleksi yang telah terdata berjumlah sekitar 50 arsip. Sementara itu, sejumlah arsip nasional dari ANRI yang telah memiliki kode juga sudah tersedia untuk mendukung koleksi di galeri.
“Untuk koleksinya sejauh ini masih dalam proses pendataan, tetapi sekitar 50-an. Kalau yang berasal dari ANRI, arsip nasional yang sudah memiliki kode-kode itu sudah ada,” ungkapnya.
Meski demikian, belum seluruh koleksi yang dimiliki Dispustakar dapat dipajang di Galeri Arsip. Kondisi tersebut disebabkan keterbatasan ruang pamer yang tersedia.
Karena itu, Dispustakar berencana melakukan pembaruan koleksi secara berkala. Dengan cara tersebut, masyarakat yang berkunjung dapat melihat arsip yang berbeda pada setiap kunjungan.
“Karena ruangannya masih terbatas, masih ada koleksi yang disimpan dan belum seluruhnya dipajang. Insyaallah akan dilakukan pembaruan koleksi sekitar sebulan sekali,” akunya.
Sementara itu, terkait kemungkinan adanya arsip sejarah Balikpapan yang saat ini berada di luar negeri, Neny menyebut pihaknya masih perlu melakukan koordinasi lebih lanjut dengan ANRI.
Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan keberadaan sekaligus status arsip yang dimaksud. Menurutnya, kewenangan terhadap arsip yang telah berada di luar negeri berada pada pemerintah pusat.
Sebutnya, arsip yang saat ini ditampilkan di Galeri Arsip Dispustakar merupakan arsip sekunder. Adapun arsip primer atau dokumen aslinya tetap berada di ANRI di Jakarta.
“Kalau sudah lintas negara, kewenangannya memang berada di pemerintah pusat. Kami akan terus berkoordinasi dengan ANRI,” pungkasnya.
(Sf/Lo)