Seputar Kaltim

    Tak Jauh dari IKN dan Masih di Kawasan Pemkab PPU, Sopir Truk Rela Antre Solar Berhari-hari, Pendapatan Tergerus

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    01 Mei 2026 pukul 16:17 WITA

    Puluhan truk mengantre solar di SPBU KM 9 Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam. (Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Puluhan truk berbaris di sepanjang jalur kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang berjarak kurang dari 100 kilometer dari kawasan inti Ibu Kota Nusantara (IKN). Di momen Hari Buruh, tak ada aksi. Yang terlihat justru antrean panjang untuk mendapatkan solar.

    Sejak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) diumumkan, para pekerja sektor transportasi itu diliputi kecemasan akan ketersediaan solar, yang menjadi penopang utama operasional mereka.

    Sebagian dari mereka bahkan harus bermalam di dalam kendaraan demi mendapatkan jatah. Solar yang diperoleh pun hanya mampu bertahan dua hingga tiga hari, sebelum kembali masuk antrean.

    Salah seorang sopir yang enggan disebutkan namanya mengaku, waktu yang habis untuk mengantre tak sebanding dengan pendapatan yang diterima.

    "Pendapatan kita tergerus kalau waktu hanya digunakan mengantre. Bahan bakarnya paling banter dua hari, setelah itu antre lagi," ujarnya saat ditemui Seputarfakta.com, Jumat (1/5/2026).

    Kondisi ini berdampak langsung pada penghasilan. Di sisi lain, kebutuhan keluarga tetap berjalan, menggantungkan harapan dari hasil kerja para sopir.

    "Kalau kita ini bukan saja lelah mengantre, tapi juga panik tidak kebagian kuota solar," imbuhnya.

    Antrean panjang tampak hampir sepanjang hari di SPBU Kilometer 9 Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik utama penyedia solar subsidi di PPU, selain SPBU di Babulu.

    Para sopir mengaku harus menginap di jalan. Lamanya antrean kerap menimbulkan kejenuhan, terlebih harus berbagi dengan pickup jenis L300 yang ikut mengisi bahan bakar.

    "Kebanyakan kami ini menginap di jalan. Antreannya panjang, ditambah mobil kecil juga ikut antre, bahkan diserobot, jadi makin lama," ucapnya.

    Situasi ini membuat sebagian sopir tetap dibebani setoran kepada pemilik mobil, sementara pendapatan berkurang karena waktu kerja tersita untuk mengantre.

    Soal penyampaian aspirasi lewat aksi sudah pernah dilakukan, namun dinilai belum membawa perubahan signifikan.

    "Dulu pernah demo, tapi tetap saja antrean panjang, tidak tertib, solar tiba-tiba langka. Pengawasan pemerintah masih lemah," bebernya.

    Bagi para sopir, Hari Buruh yang seharusnya menjadi momen refleksi kesejahteraan pekerja, justru terasa sebaliknya.

    "Kita mengorbankan waktu, mengorbankan uang juga karena makan di jalan. Truk-truk sudah banyak yang terlambat kerja. Tidak ada Hari Buruh, yang ada hari buruk," katanya.

    Mereka berharap pemerintah dapat turun langsung ke lapangan, memperketat pengawasan, serta memastikan distribusi solar berjalan lancar dan tepat sasaran.

    "Pemerintah turun lapangan, lihat kami antre di depan kantor mereka. Kami kalah cepat dengan mobil kecil, padahal kami yang bermalam. Mereka bolak-balik bisa dapat solar. Semoga sistem bisa diperbaiki," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Tak Jauh dari IKN dan Masih di Kawasan Pemkab PPU, Sopir Truk Rela Antre Solar Berhari-hari, Pendapatan Tergerus

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    01 Mei 2026 pukul 16:17 WITA

    Puluhan truk mengantre solar di SPBU KM 9 Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam. (Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Puluhan truk berbaris di sepanjang jalur kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang berjarak kurang dari 100 kilometer dari kawasan inti Ibu Kota Nusantara (IKN). Di momen Hari Buruh, tak ada aksi. Yang terlihat justru antrean panjang untuk mendapatkan solar.

    Sejak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) diumumkan, para pekerja sektor transportasi itu diliputi kecemasan akan ketersediaan solar, yang menjadi penopang utama operasional mereka.

    Sebagian dari mereka bahkan harus bermalam di dalam kendaraan demi mendapatkan jatah. Solar yang diperoleh pun hanya mampu bertahan dua hingga tiga hari, sebelum kembali masuk antrean.

    Salah seorang sopir yang enggan disebutkan namanya mengaku, waktu yang habis untuk mengantre tak sebanding dengan pendapatan yang diterima.

    "Pendapatan kita tergerus kalau waktu hanya digunakan mengantre. Bahan bakarnya paling banter dua hari, setelah itu antre lagi," ujarnya saat ditemui Seputarfakta.com, Jumat (1/5/2026).

    Kondisi ini berdampak langsung pada penghasilan. Di sisi lain, kebutuhan keluarga tetap berjalan, menggantungkan harapan dari hasil kerja para sopir.

    "Kalau kita ini bukan saja lelah mengantre, tapi juga panik tidak kebagian kuota solar," imbuhnya.

    Antrean panjang tampak hampir sepanjang hari di SPBU Kilometer 9 Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik utama penyedia solar subsidi di PPU, selain SPBU di Babulu.

    Para sopir mengaku harus menginap di jalan. Lamanya antrean kerap menimbulkan kejenuhan, terlebih harus berbagi dengan pickup jenis L300 yang ikut mengisi bahan bakar.

    "Kebanyakan kami ini menginap di jalan. Antreannya panjang, ditambah mobil kecil juga ikut antre, bahkan diserobot, jadi makin lama," ucapnya.

    Situasi ini membuat sebagian sopir tetap dibebani setoran kepada pemilik mobil, sementara pendapatan berkurang karena waktu kerja tersita untuk mengantre.

    Soal penyampaian aspirasi lewat aksi sudah pernah dilakukan, namun dinilai belum membawa perubahan signifikan.

    "Dulu pernah demo, tapi tetap saja antrean panjang, tidak tertib, solar tiba-tiba langka. Pengawasan pemerintah masih lemah," bebernya.

    Bagi para sopir, Hari Buruh yang seharusnya menjadi momen refleksi kesejahteraan pekerja, justru terasa sebaliknya.

    "Kita mengorbankan waktu, mengorbankan uang juga karena makan di jalan. Truk-truk sudah banyak yang terlambat kerja. Tidak ada Hari Buruh, yang ada hari buruk," katanya.

    Mereka berharap pemerintah dapat turun langsung ke lapangan, memperketat pengawasan, serta memastikan distribusi solar berjalan lancar dan tepat sasaran.

    "Pemerintah turun lapangan, lihat kami antre di depan kantor mereka. Kami kalah cepat dengan mobil kecil, padahal kami yang bermalam. Mereka bolak-balik bisa dapat solar. Semoga sistem bisa diperbaiki," pungkasnya.

    (Sf/Rs)