Seputar Kaltim
Seminar laporan akhir kajian penulisan buku sejarah dan budaya Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim), Mulyono, menyebut sejarah berbagai suku di Kutim perlu dibukukan agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Saat ini, Disdikbud Kutim tengah mengkaji penulisan tiga buku sejarah dan budaya, yakni Kisah-Kisah dari Kutai Timur: Budaya, Tradisi, dan Kehidupan, Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur, serta Sejarah Perkembangan Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan.
Menurut Mulyono, penulisan buku sejarah tidak hanya terbatas pada tiga buku tersebut. Ia berharap seluruh suku yang ada di Kutim, termasuk Kutai, Banjar dan kelompok masyarakat lainnya, memiliki catatan sejarah dan kebudayaan
“Nanti semua suku lah yang ada di Kutim ini dibuatkan buku. Jadi semua juga punya catatan dokumentasinya, semua suku mulai Kutai, Banjarnya, semuanya yang ada di Kutim,” ujar Mulyono saat seminar laporan akhir kajian penulisan buku sejarah dan budaya Kutim.
Buku-buku tersebut nantinya akan menjadi koleksi museum dan sekolah sehingga sejarah serta kebudayaan Kutim dapat dipelajari oleh masyarakat, terutama generasi muda.
“Kita buatkan bukunya sebagai koleksi museum dan juga koleksi di sekolah-sekolah ya,” katanya.
Mulyono juga mengingatkan tim penyusun agar teliti menulis nama tokoh dan tempat. Ia meminta naskah diperiksa kembali sebelum diterbitkan untuk menghindari kesalahan penulisan.
“Jangan sampai nama orang, nama tempat ini nanti bisa jadi masalah. Sungguh sangat disayangkan buku yang begitu bagus, karya yang begitu bagus, tapi ada pihak yang komentar, nama saya kok begitu. Jadi mohon nanti dikaji ulang,” tuturnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Seminar laporan akhir kajian penulisan buku sejarah dan budaya Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim), Mulyono, menyebut sejarah berbagai suku di Kutim perlu dibukukan agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Saat ini, Disdikbud Kutim tengah mengkaji penulisan tiga buku sejarah dan budaya, yakni Kisah-Kisah dari Kutai Timur: Budaya, Tradisi, dan Kehidupan, Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur, serta Sejarah Perkembangan Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan.
Menurut Mulyono, penulisan buku sejarah tidak hanya terbatas pada tiga buku tersebut. Ia berharap seluruh suku yang ada di Kutim, termasuk Kutai, Banjar dan kelompok masyarakat lainnya, memiliki catatan sejarah dan kebudayaan
“Nanti semua suku lah yang ada di Kutim ini dibuatkan buku. Jadi semua juga punya catatan dokumentasinya, semua suku mulai Kutai, Banjarnya, semuanya yang ada di Kutim,” ujar Mulyono saat seminar laporan akhir kajian penulisan buku sejarah dan budaya Kutim.
Buku-buku tersebut nantinya akan menjadi koleksi museum dan sekolah sehingga sejarah serta kebudayaan Kutim dapat dipelajari oleh masyarakat, terutama generasi muda.
“Kita buatkan bukunya sebagai koleksi museum dan juga koleksi di sekolah-sekolah ya,” katanya.
Mulyono juga mengingatkan tim penyusun agar teliti menulis nama tokoh dan tempat. Ia meminta naskah diperiksa kembali sebelum diterbitkan untuk menghindari kesalahan penulisan.
“Jangan sampai nama orang, nama tempat ini nanti bisa jadi masalah. Sungguh sangat disayangkan buku yang begitu bagus, karya yang begitu bagus, tapi ada pihak yang komentar, nama saya kok begitu. Jadi mohon nanti dikaji ulang,” tuturnya.
(Sf/Lo)