Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi simbol HIV/AIDS. (freepik)
Tanjung Redeb - Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mencatat pada tahun 2024 kasus orang terkena penyakit Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Berau meningkat yakni 64 kasus. Sedangkan pada tahun 2023 kasus orang yang terkena HIV/AIDS sebanyak 36 kasus. Hal ini menunjukan peningkatan dari tahun sebelumnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Garna Sudarsono mengatakan dari hasil pemeriksaan, ditemukan bahwa ada 64 orang yang dinyatakan positif HIV. Namun, hanya 45 orang saja yang bersedia menjalani pengobatan.
"Sebagian pasien tidak melanjutkan pengobatan karena memilih pulang ke kampung halaman atau karena alasan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, kami tidak dapat memaksa," ujar Kabid P2P Dinkes Berau, Garna Sudarsono.
Ia pun menjelaskan, hasil yang diperoleh merupakan pemeriksaan rutin terhadap kelompok yang berisiko tinggi, seperti ibu hamil, individu yang menunjukkan gejala HIV/AIDS, komunitas penyuka sesama jenis dan pekerja di tempat hiburan malam.
HIV/AIDS merupakan virus yang sangat berbahaya yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel darah putih yang disebut sel CD4. HIV menghancurkan sel CD4 sehingga melemahkan kekebalan manusia terhadap penyakit, seperti tuberkulosis dan infeksi jamur, infeksi bakteri tingkat berat, dan beberapa jenis kanker. Sampai saat ini belum ada obat yang bisa melawan HIV.
Ia pun menyampaikan, bahwa Dinkes Berau terus berupaya dan mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah penyebaran HIV. Oleh karena itu, pihaknya juga terus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahayanya penyakit menular HIV.
"Edukasi mengenai HIV juga menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya," terangnya.
Dirinya mengatakan, HIV dapat tertular terutama dengan bergonta ganti pasangan dan penggunaan alat kontrasepsi saat berhubungan.
"Termasuk penularan melalui narkotika, terutama yang menggunakan jarum suntik," katanya.
Garna Sudarsono pun mengimbau masyarakat untuk menghindari penggunaan alat pribadi secara bersama-sama, seperti sikat gigi atau alat cukur, serta menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan secara rutin.
"Kami sangat memerlukan sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk bersama-sama menekan angka penyebaran kasus ini di Kabupaten Berau," kuncinya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi simbol HIV/AIDS. (freepik)
Tanjung Redeb - Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mencatat pada tahun 2024 kasus orang terkena penyakit Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Berau meningkat yakni 64 kasus. Sedangkan pada tahun 2023 kasus orang yang terkena HIV/AIDS sebanyak 36 kasus. Hal ini menunjukan peningkatan dari tahun sebelumnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Garna Sudarsono mengatakan dari hasil pemeriksaan, ditemukan bahwa ada 64 orang yang dinyatakan positif HIV. Namun, hanya 45 orang saja yang bersedia menjalani pengobatan.
"Sebagian pasien tidak melanjutkan pengobatan karena memilih pulang ke kampung halaman atau karena alasan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, kami tidak dapat memaksa," ujar Kabid P2P Dinkes Berau, Garna Sudarsono.
Ia pun menjelaskan, hasil yang diperoleh merupakan pemeriksaan rutin terhadap kelompok yang berisiko tinggi, seperti ibu hamil, individu yang menunjukkan gejala HIV/AIDS, komunitas penyuka sesama jenis dan pekerja di tempat hiburan malam.
HIV/AIDS merupakan virus yang sangat berbahaya yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel darah putih yang disebut sel CD4. HIV menghancurkan sel CD4 sehingga melemahkan kekebalan manusia terhadap penyakit, seperti tuberkulosis dan infeksi jamur, infeksi bakteri tingkat berat, dan beberapa jenis kanker. Sampai saat ini belum ada obat yang bisa melawan HIV.
Ia pun menyampaikan, bahwa Dinkes Berau terus berupaya dan mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah penyebaran HIV. Oleh karena itu, pihaknya juga terus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahayanya penyakit menular HIV.
"Edukasi mengenai HIV juga menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya," terangnya.
Dirinya mengatakan, HIV dapat tertular terutama dengan bergonta ganti pasangan dan penggunaan alat kontrasepsi saat berhubungan.
"Termasuk penularan melalui narkotika, terutama yang menggunakan jarum suntik," katanya.
Garna Sudarsono pun mengimbau masyarakat untuk menghindari penggunaan alat pribadi secara bersama-sama, seperti sikat gigi atau alat cukur, serta menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan secara rutin.
"Kami sangat memerlukan sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk bersama-sama menekan angka penyebaran kasus ini di Kabupaten Berau," kuncinya.
(Sf/Rs)