Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Samarinda menunjukkan peningkatan sepanjang tahun 2024. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Samarinda, tercatat ada 1.362 kasus DBD, naik signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 867 kasus.
Meski begitu, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismid Kusasih, memastikan bahwa peningkatan ini tidak sampai pada status Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Sampai akhir tahun 2024, ada enam kasus kematian akibat DBD, tetapi secara keseluruhan Samarinda tidak berstatus KLB,” ujar Ismid belum lama ini.
Berkaitan dengan hal itu, Ismid menyebut fokus pemerintah dalam pencegahan DBD saat ini diarahkan pada kebersihan lingkungan. Menurut Ismid, meskipun imunisasi DBD telah diberikan, perbaikan lingkungan menjadi langkah utama dalam menekan angka kasus.
“Dalam dua tahun terakhir, Samarinda tidak lagi berstatus KLB untuk DBD. Ini berkat lingkungan yang semakin terjaga kebersihannya. Bahkan indeks kebersihan Samarinda terbaik se-Kaltim,” terangnya.
Langkah pencegahan berbasis kebersihan lingkungan ini juga menjadi perhatian serius Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Program gotong royong lewat Program Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat (Probebaya) menurutnya juga menjadi salah satu upaya nyata dalam meningkatkan kebersihan lingkungan dan mencegah penyebaran penyakit seperti DBD.
Kemudian, sosialisasi gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur) terus dilakukan, dan ia berharap masyarakat bisa lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama di musim peralihan.
Pengalaman dalam menangani pandemi Covid-19 juga menjadi pelajaran penting bagi Dinas Kesehatan. Menurut Ismid, kebersihan lingkungan terbukti berperan besar dalam mencegah berbagai penyakit.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, ia optimis dapat menekan angka kasus DBD di masa mendatang, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan kota.
“Sekarang Samarinda jauh lebih bersih. Dulu sering banjir, sekarang tidak. Ini membantu mengurangi risiko penyakit, termasuk DBD,” jelasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Samarinda menunjukkan peningkatan sepanjang tahun 2024. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Samarinda, tercatat ada 1.362 kasus DBD, naik signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 867 kasus.
Meski begitu, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismid Kusasih, memastikan bahwa peningkatan ini tidak sampai pada status Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Sampai akhir tahun 2024, ada enam kasus kematian akibat DBD, tetapi secara keseluruhan Samarinda tidak berstatus KLB,” ujar Ismid belum lama ini.
Berkaitan dengan hal itu, Ismid menyebut fokus pemerintah dalam pencegahan DBD saat ini diarahkan pada kebersihan lingkungan. Menurut Ismid, meskipun imunisasi DBD telah diberikan, perbaikan lingkungan menjadi langkah utama dalam menekan angka kasus.
“Dalam dua tahun terakhir, Samarinda tidak lagi berstatus KLB untuk DBD. Ini berkat lingkungan yang semakin terjaga kebersihannya. Bahkan indeks kebersihan Samarinda terbaik se-Kaltim,” terangnya.
Langkah pencegahan berbasis kebersihan lingkungan ini juga menjadi perhatian serius Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Program gotong royong lewat Program Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat (Probebaya) menurutnya juga menjadi salah satu upaya nyata dalam meningkatkan kebersihan lingkungan dan mencegah penyebaran penyakit seperti DBD.
Kemudian, sosialisasi gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur) terus dilakukan, dan ia berharap masyarakat bisa lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama di musim peralihan.
Pengalaman dalam menangani pandemi Covid-19 juga menjadi pelajaran penting bagi Dinas Kesehatan. Menurut Ismid, kebersihan lingkungan terbukti berperan besar dalam mencegah berbagai penyakit.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, ia optimis dapat menekan angka kasus DBD di masa mendatang, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan kota.
“Sekarang Samarinda jauh lebih bersih. Dulu sering banjir, sekarang tidak. Ini membantu mengurangi risiko penyakit, termasuk DBD,” jelasnya.
(Sf/Rs)