Seputar Kaltim

    Sulit Menelan hingga Harus Pakai Selang, Kenali Penyakit Langka Akalasia

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    25 Mei 2026 pukul 23:03 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Tenggarong – Sulit menelan sering dianggap sebagai gangguan biasa akibat radang tenggorokan atau asam lambung. 

    Namun dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa menjadi tanda penyakit langka bernama akalasia, gangguan pada kerongkongan yang membuat makanan tidak dapat masuk ke lambung secara normal.

    Akalasia terjadi ketika otot dan katup bagian bawah kerongkongan gagal membuka saat seseorang menelan makanan. Akibatnya, makanan tertahan di kerongkongan dan menimbulkan berbagai keluhan yang dapat memburuk secara perlahan.

    Penderita akalasia umumnya mengalami gejala seperti makanan terasa tersangkut di dada, sulit menelan makanan maupun minuman, muntah kembali setelah makan, nyeri dada, hingga penurunan berat badan.

    Dalam kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami batuk saat makan, sesak napas, hingga gangguan tidur akibat makanan yang kembali naik ke tenggorokan saat berbaring.

    Menurut Mayo Clinic, akalasia termasuk penyakit langka yang menyerang esofagus atau kerongkongan. Penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, namun diduga berkaitan dengan kerusakan saraf yang mengatur gerakan otot kerongkongan.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases Amerika Serikat menjelaskan penderita akalasia berisiko mengalami kekurangan nutrisi apabila kondisi berlangsung lama tanpa penanganan medis.

    Pada kasus berat, pasien bahkan dapat memerlukan pemasangan nasogastric tube atau NGT, yaitu selang dari hidung menuju lambung untuk membantu pemenuhan asupan makanan cair sementara waktu.

    Penelitian dalam jurnal Annals of Esophagus tahun 2021 menyebut diagnosis akalasia sering terlambat karena gejalanya menyerupai penyakit pencernaan lain seperti GERD atau asam lambung.

    Sementara itu, studi Journal of Neurogastroenterology and Motility tahun 2022 menunjukkan kualitas hidup penderita akalasia dapat menurun signifikan apabila gangguan menelan tidak segera ditangani.

    Penanganan akalasia umumnya bertujuan membantu membuka katup kerongkongan agar makanan dapat masuk ke lambung lebih lancar. Tindakan medis yang dilakukan dapat berupa pelebaran katup atau dilatasi, suntikan botox, hingga operasi.

    Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan menelan berkepanjangan, terutama jika disertai muntah berulang dan penurunan berat badan drastis.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Sulit Menelan hingga Harus Pakai Selang, Kenali Penyakit Langka Akalasia

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    25 Mei 2026 pukul 23:03 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Tenggarong – Sulit menelan sering dianggap sebagai gangguan biasa akibat radang tenggorokan atau asam lambung. 

    Namun dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa menjadi tanda penyakit langka bernama akalasia, gangguan pada kerongkongan yang membuat makanan tidak dapat masuk ke lambung secara normal.

    Akalasia terjadi ketika otot dan katup bagian bawah kerongkongan gagal membuka saat seseorang menelan makanan. Akibatnya, makanan tertahan di kerongkongan dan menimbulkan berbagai keluhan yang dapat memburuk secara perlahan.

    Penderita akalasia umumnya mengalami gejala seperti makanan terasa tersangkut di dada, sulit menelan makanan maupun minuman, muntah kembali setelah makan, nyeri dada, hingga penurunan berat badan.

    Dalam kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami batuk saat makan, sesak napas, hingga gangguan tidur akibat makanan yang kembali naik ke tenggorokan saat berbaring.

    Menurut Mayo Clinic, akalasia termasuk penyakit langka yang menyerang esofagus atau kerongkongan. Penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, namun diduga berkaitan dengan kerusakan saraf yang mengatur gerakan otot kerongkongan.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases Amerika Serikat menjelaskan penderita akalasia berisiko mengalami kekurangan nutrisi apabila kondisi berlangsung lama tanpa penanganan medis.

    Pada kasus berat, pasien bahkan dapat memerlukan pemasangan nasogastric tube atau NGT, yaitu selang dari hidung menuju lambung untuk membantu pemenuhan asupan makanan cair sementara waktu.

    Penelitian dalam jurnal Annals of Esophagus tahun 2021 menyebut diagnosis akalasia sering terlambat karena gejalanya menyerupai penyakit pencernaan lain seperti GERD atau asam lambung.

    Sementara itu, studi Journal of Neurogastroenterology and Motility tahun 2022 menunjukkan kualitas hidup penderita akalasia dapat menurun signifikan apabila gangguan menelan tidak segera ditangani.

    Penanganan akalasia umumnya bertujuan membantu membuka katup kerongkongan agar makanan dapat masuk ke lambung lebih lancar. Tindakan medis yang dilakukan dapat berupa pelebaran katup atau dilatasi, suntikan botox, hingga operasi.

    Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan menelan berkepanjangan, terutama jika disertai muntah berulang dan penurunan berat badan drastis.

    (Sf/Lo)