Cari disini...
Seputar Kaltim
Asisten Administrasi Umum Setkab Kutai Timur (Kutim) Sudirman Latif. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Asisten Administrasi Umum Setkab Kutai Timur (Kutim) Sudirman Latif, menegaskan pentingnya data yang akurat untuk mendukung pembangunan hingga ke pelosok desa. Data yang tepat diperlukan agar setiap program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sudirman menyampaikan masih banyak warga yang menolak masuk kategori miskin saat pendataan, namun ketika ada bantuan justru ingin terdaftar sebagai penerima. Kondisi ini membuat data sering berubah dan menyulitkan penyaluran program.
“Banyak masyarakat ketika didata tidak mau masuk kategori miskin, tetapi saat ada bantuan malah berlomba-lomba. Ini yang membuat data kita fluktuatif,” ujar Sudirman.
Ia menambahkan, berbagai program, seperti BPJS Ketenagakerjaan, penanganan pekerja rentan, hingga pencegahan stunting, sangat bergantung pada data yang jelas dan terbaru. Dari data itulah pemerintah bisa menentukan bentuk intervensi, seperti kebutuhan sanitasi, rumah tidak layak huni, atau air bersih.
“Kalau datanya by name by address, sasarannya pasti tepat. Misalnya ada rumah tidak layak, bisa langsung dikoordinasikan dengan dinas perumahan. Kalau ada pekerja rentan yang mengalami kecelakaan, dinas terkait bisa cepat memasukkan ke BPJS Ketenagakerjaan,” tambahnya.
Sudirman juga menegaskan pentingnya peningkatan kemampuan pengelola data di desa agar pendataan lebih akurat. Ia berharap perbaikan datanya dapat memperlancar seluruh program pembangunan di Kutim, sehingga manfaatnya bisa benar-benar dirasakan masyarakat.
“Intervensinya sebenarnya sudah tepat. Yang jadi masalah, saat pendataan warga tidak mau masuk kategori miskin, tapi saat bantuan datang justru ingin. Ini yang harus dibenahi,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Asisten Administrasi Umum Setkab Kutai Timur (Kutim) Sudirman Latif. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Asisten Administrasi Umum Setkab Kutai Timur (Kutim) Sudirman Latif, menegaskan pentingnya data yang akurat untuk mendukung pembangunan hingga ke pelosok desa. Data yang tepat diperlukan agar setiap program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sudirman menyampaikan masih banyak warga yang menolak masuk kategori miskin saat pendataan, namun ketika ada bantuan justru ingin terdaftar sebagai penerima. Kondisi ini membuat data sering berubah dan menyulitkan penyaluran program.
“Banyak masyarakat ketika didata tidak mau masuk kategori miskin, tetapi saat ada bantuan malah berlomba-lomba. Ini yang membuat data kita fluktuatif,” ujar Sudirman.
Ia menambahkan, berbagai program, seperti BPJS Ketenagakerjaan, penanganan pekerja rentan, hingga pencegahan stunting, sangat bergantung pada data yang jelas dan terbaru. Dari data itulah pemerintah bisa menentukan bentuk intervensi, seperti kebutuhan sanitasi, rumah tidak layak huni, atau air bersih.
“Kalau datanya by name by address, sasarannya pasti tepat. Misalnya ada rumah tidak layak, bisa langsung dikoordinasikan dengan dinas perumahan. Kalau ada pekerja rentan yang mengalami kecelakaan, dinas terkait bisa cepat memasukkan ke BPJS Ketenagakerjaan,” tambahnya.
Sudirman juga menegaskan pentingnya peningkatan kemampuan pengelola data di desa agar pendataan lebih akurat. Ia berharap perbaikan datanya dapat memperlancar seluruh program pembangunan di Kutim, sehingga manfaatnya bisa benar-benar dirasakan masyarakat.
“Intervensinya sebenarnya sudah tepat. Yang jadi masalah, saat pendataan warga tidak mau masuk kategori miskin, tapi saat bantuan datang justru ingin. Ini yang harus dibenahi,” pungkasnya.
(Sf/Rs)