Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni soroti angka stunting di Musrenbang Kelurahan Guntung. (Foto: Diskominfo Bontang)
Bontang - Angka stunting di Kelurahan Guntung masih menjadi perhatian serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang mendata prevalensi balita stunting di wilayah ini mencapai 20 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata kota sebesar 15,6 persen.
Kondisi ini disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Guntung, Jumat (23/1/2026) dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027.
Neni menegaskan penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan, melainkan harus dilakukan secara lintas sektor. “Penanganan stunting harus menyasar lingkungan, perilaku masyarakat, sanitasi, serta pemenuhan gizi,” ujar Neni.
Ia juga menekankan perlunya perubahan pendekatan bantuan gizi dengan fokus pada makanan segar atau real food, bukan makanan kemasan, agar manfaatnya lebih optimal bagi ibu hamil dan balita.
Dinkes Bontang mencatat tren penurunan angka stunting di sejumlah kelurahan, seperti Tanjung Laut Indah menurun dari 24,04 persen menjadi 19,26 persen, maupun Kanaan yang turun menjadi 8,02 persen.
Meski demikian, Guntung tetap menjadi wilayah prioritas intervensi, dengan rencana pendampingan keluarga berisiko dan program lintas sektor untuk menekan angka stunting, sejalan dengan target kota mencapai 12 persen tahun ini.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni soroti angka stunting di Musrenbang Kelurahan Guntung. (Foto: Diskominfo Bontang)
Bontang - Angka stunting di Kelurahan Guntung masih menjadi perhatian serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang mendata prevalensi balita stunting di wilayah ini mencapai 20 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata kota sebesar 15,6 persen.
Kondisi ini disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Guntung, Jumat (23/1/2026) dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027.
Neni menegaskan penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan, melainkan harus dilakukan secara lintas sektor. “Penanganan stunting harus menyasar lingkungan, perilaku masyarakat, sanitasi, serta pemenuhan gizi,” ujar Neni.
Ia juga menekankan perlunya perubahan pendekatan bantuan gizi dengan fokus pada makanan segar atau real food, bukan makanan kemasan, agar manfaatnya lebih optimal bagi ibu hamil dan balita.
Dinkes Bontang mencatat tren penurunan angka stunting di sejumlah kelurahan, seperti Tanjung Laut Indah menurun dari 24,04 persen menjadi 19,26 persen, maupun Kanaan yang turun menjadi 8,02 persen.
Meski demikian, Guntung tetap menjadi wilayah prioritas intervensi, dengan rencana pendampingan keluarga berisiko dan program lintas sektor untuk menekan angka stunting, sejalan dengan target kota mencapai 12 persen tahun ini.
(Sf/Lo)