Stop Jual Murah, Kutim Gas Hilirisasi Bidik Pasar Ekspor

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    16 April 2026 09:47 WIB

    Noviari Noor saat menyampaikan sambutan pada rapat hilirisasi dan peluang ekspor di Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmennya dalam menjadikan hilirisasi sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperluas pasar ekspor.

    Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekobang) Setkab Kutim, Noviari Noor menyampaikan daerah tidak bisa terus bergantung pada pengiriman bahan mentah ke luar daerah tanpa proses pengolahan.

    “Hilirisasi adalah kata kunci untuk meningkatkan nilai tambah produksi lokal kita. Kita tidak ingin terus-menerus hanya mengirim bahan mentah, tetapi ingin menjadi produsen produk olahan,” ujar Noviari pada rapat hilirisasi potensi komoditas dan peluang pasar ekspor Kabupaten Kutim beberapa waktu lalu.

    Menurutnya, sejumlah komoditas unggulan Kutim memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional, di antaranya pisang kepok, kakao, aren genjah, hingga produk olahan nanas.

    Namun untuk mewujudkan hal tersebut, Noviari menekankan dua hal utama yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, hilirisasi sebagai keharusan agar tercipta nilai tambah ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru di daerah.

    “Dengan hilirisasi, nilai ekonomi tidak keluar daerah, tetapi berputar di Kutai Timur dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” jelasnya.

    Kedua, pentingnya integrasi data melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Ia menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), agar aktif melakukan penginputan data.

    “Data yang akurat terkait kapasitas produksi dan lokasi industri sangat menentukan ketepatan kebijakan, khususnya dalam memfasilitasi ekspor,” tegasnya.

    Pemkab Kutim berkomitmen menetapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya memetakan potensi unggulan daerah, mengidentifikasi kapasitas produksi dan lokasi komoditas, memperluas akses pemasaran hingga ke pasar ekspor, serta memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan.

    “Kolaborasi ini penting untuk menciptakan sistem ekspor yang mandiri dan kompetitif,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kalimantan Timur (Kaltim) Heni Purwaningsih menyebut potensi pasar ekspor untuk komoditas Kutim sebenarnya cukup besar, namun belum sepenuhnya didukung kesiapan di sektor hulu.

    “Permintaan sebenarnya ada, bahkan pelaku usaha sampai mengambil bahan baku dari Jawa. Bukan karena kita tidak punya, tapi karena belum ditanam secara optimal di hulu,” ungkap Heni.

    Ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara sektor hulu dan hilir agar peluang pasar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

    Selain itu, pihaknya juga menyediakan fasilitas Ekspor Center untuk membantu pelaku usaha menembus pasar internasional, mulai dari pendampingan hingga pencarian buyer.

    “Ekspor Center ini terbuka untuk semua. Mereka siap mendampingi pelaku usaha, mencarikan buyer, hingga memverifikasi kredibilitas calon pembeli dari luar negeri,” terangnya.

    Disperindagkop Kaltim juga mulai mengembangkan inovasi baru berupa pengolahan serat daun nanas.

    “Tahun ini kita akan optimalkan pengolahan daun nanas menjadi serat yang memiliki peluang ekspor. Selama ini daun tersebut terbuang, padahal bisa bernilai ekonomi tinggi,” tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Stop Jual Murah, Kutim Gas Hilirisasi Bidik Pasar Ekspor

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    16 April 2026 09:47 WIB

    Noviari Noor saat menyampaikan sambutan pada rapat hilirisasi dan peluang ekspor di Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmennya dalam menjadikan hilirisasi sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperluas pasar ekspor.

    Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekobang) Setkab Kutim, Noviari Noor menyampaikan daerah tidak bisa terus bergantung pada pengiriman bahan mentah ke luar daerah tanpa proses pengolahan.

    “Hilirisasi adalah kata kunci untuk meningkatkan nilai tambah produksi lokal kita. Kita tidak ingin terus-menerus hanya mengirim bahan mentah, tetapi ingin menjadi produsen produk olahan,” ujar Noviari pada rapat hilirisasi potensi komoditas dan peluang pasar ekspor Kabupaten Kutim beberapa waktu lalu.

    Menurutnya, sejumlah komoditas unggulan Kutim memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional, di antaranya pisang kepok, kakao, aren genjah, hingga produk olahan nanas.

    Namun untuk mewujudkan hal tersebut, Noviari menekankan dua hal utama yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, hilirisasi sebagai keharusan agar tercipta nilai tambah ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru di daerah.

    “Dengan hilirisasi, nilai ekonomi tidak keluar daerah, tetapi berputar di Kutai Timur dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” jelasnya.

    Kedua, pentingnya integrasi data melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Ia menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), agar aktif melakukan penginputan data.

    “Data yang akurat terkait kapasitas produksi dan lokasi industri sangat menentukan ketepatan kebijakan, khususnya dalam memfasilitasi ekspor,” tegasnya.

    Pemkab Kutim berkomitmen menetapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya memetakan potensi unggulan daerah, mengidentifikasi kapasitas produksi dan lokasi komoditas, memperluas akses pemasaran hingga ke pasar ekspor, serta memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan.

    “Kolaborasi ini penting untuk menciptakan sistem ekspor yang mandiri dan kompetitif,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kalimantan Timur (Kaltim) Heni Purwaningsih menyebut potensi pasar ekspor untuk komoditas Kutim sebenarnya cukup besar, namun belum sepenuhnya didukung kesiapan di sektor hulu.

    “Permintaan sebenarnya ada, bahkan pelaku usaha sampai mengambil bahan baku dari Jawa. Bukan karena kita tidak punya, tapi karena belum ditanam secara optimal di hulu,” ungkap Heni.

    Ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara sektor hulu dan hilir agar peluang pasar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

    Selain itu, pihaknya juga menyediakan fasilitas Ekspor Center untuk membantu pelaku usaha menembus pasar internasional, mulai dari pendampingan hingga pencarian buyer.

    “Ekspor Center ini terbuka untuk semua. Mereka siap mendampingi pelaku usaha, mencarikan buyer, hingga memverifikasi kredibilitas calon pembeli dari luar negeri,” terangnya.

    Disperindagkop Kaltim juga mulai mengembangkan inovasi baru berupa pengolahan serat daun nanas.

    “Tahun ini kita akan optimalkan pengolahan daun nanas menjadi serat yang memiliki peluang ekspor. Selama ini daun tersebut terbuang, padahal bisa bernilai ekonomi tinggi,” tutupnya.

    (Sf/Lo)