Cari disini...
Seputar Kaltim
Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutim, Zubair. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Di saat banyak isu terkait beras oplosan yang beredar di beberapa wilayah, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan tidak ditemukan adanya peredaran beras oplosan di wilayahnya.
Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutim, Zubair, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan rapat bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), agen besar, serta penyalur beras di Kutim.
"Alhamdulillah, karena tidak ada beras oplosan di pasar Kutim. Kami juga sudah klarifikasi ke dinas terkait, tapi memang tidak ditemukan,” ujar Zubair.
Namun demikian, ia menjelaskan bahwa pendataan terhadap produksi beras lokal masih lemah. Beras hasil pertanian dari daerah seperti Kaubun belum terinventarisasi dengan baik.
"Masalahnya, produksi lokal ini belum tercatat dengan baik. Makanya nanti kita akan adakan rapat lanjutan. Selama ini, beras yang dibeli Bulog dibawa ke Samarinda dan belum tentu kembali dinikmati oleh masyarakat Kutim,” jelasnya.
Saat ditanya soal kelangkaan beras premium dan tidak masuknya beras medium ke pasar, Zubair menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
Ia mengatakan bahwa secara umum stok beras di Kutim dalam kondisi aman, baik jenis premium ataupun medium. Dan untuk memastikan hal tersebut, Pemkab akan melakukan sidak pasar.
"Nanti kita akan lakukan sidak kembali. Kita akan cek pedagang-pedagang mana yang tidak dapat pasokan beras. Apapun masukan dari pedagang akan menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Zubair juga membahas soal Harga Eceran Tertinggi (HET) beras yang tidak bisa bersifat tetap. Menurutnya, harga harus bisa menyesuaikan kondisi pasar.
"HET itu tidak bisa flat, sama seperti BBM. Harus bergerak menyesuaikan kondisi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan Pemkab Kutim sedang menyiapkan strategi untuk meningkatkan produksi beras lokal. Meski tidak menargetkan swasembada penuh, peningkatan hasil produksi tetap jadi fokus utama.
"Saya sudah bilang ke dinas, jangan bermimpi bisa swasembada. Karena tanah kita di Kutim berbeda dengan Sulawesi dan Jawa. Yang penting itu produksinya bisa meningkat," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutim, Zubair. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Di saat banyak isu terkait beras oplosan yang beredar di beberapa wilayah, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan tidak ditemukan adanya peredaran beras oplosan di wilayahnya.
Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutim, Zubair, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan rapat bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), agen besar, serta penyalur beras di Kutim.
"Alhamdulillah, karena tidak ada beras oplosan di pasar Kutim. Kami juga sudah klarifikasi ke dinas terkait, tapi memang tidak ditemukan,” ujar Zubair.
Namun demikian, ia menjelaskan bahwa pendataan terhadap produksi beras lokal masih lemah. Beras hasil pertanian dari daerah seperti Kaubun belum terinventarisasi dengan baik.
"Masalahnya, produksi lokal ini belum tercatat dengan baik. Makanya nanti kita akan adakan rapat lanjutan. Selama ini, beras yang dibeli Bulog dibawa ke Samarinda dan belum tentu kembali dinikmati oleh masyarakat Kutim,” jelasnya.
Saat ditanya soal kelangkaan beras premium dan tidak masuknya beras medium ke pasar, Zubair menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
Ia mengatakan bahwa secara umum stok beras di Kutim dalam kondisi aman, baik jenis premium ataupun medium. Dan untuk memastikan hal tersebut, Pemkab akan melakukan sidak pasar.
"Nanti kita akan lakukan sidak kembali. Kita akan cek pedagang-pedagang mana yang tidak dapat pasokan beras. Apapun masukan dari pedagang akan menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Zubair juga membahas soal Harga Eceran Tertinggi (HET) beras yang tidak bisa bersifat tetap. Menurutnya, harga harus bisa menyesuaikan kondisi pasar.
"HET itu tidak bisa flat, sama seperti BBM. Harus bergerak menyesuaikan kondisi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan Pemkab Kutim sedang menyiapkan strategi untuk meningkatkan produksi beras lokal. Meski tidak menargetkan swasembada penuh, peningkatan hasil produksi tetap jadi fokus utama.
"Saya sudah bilang ke dinas, jangan bermimpi bisa swasembada. Karena tanah kita di Kutim berbeda dengan Sulawesi dan Jawa. Yang penting itu produksinya bisa meningkat," pungkasnya.
(Sf/Rs)