Seputar Kaltim

    Soroti WFH, Wabup Kutim Ajak OPD Beralih ke Kendaraan Listrik”

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    08 April 2026 pukul 12:53 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi menyoroti wacana penerapan Work From Home (WFH) dan menyarankan penggunaan kendaraan listrik di lingkungan pemerintah daerah.

    Ia mengatakan kebijakan tersebut akan ditindaklanjuti melalui keputusan Bupati Kutim. Namun daerah seperti Kutim perlu mempertimbangkan secara matang dampaknya.

    “Apakah perlu atau tidak, kita harus siap. Tapi kalau saya lihat, di Kutim ini tidak terlalu berpengaruh besar, terutama terhadap penggunaan energi,” ujar Mahyunadi.

    Meski demikian, ia menilai penerapan WFH tetap bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari penyesuaian dengan kebijakan nasional.

    Mahyunadi juga menekankan jika kebijakan WFH diterapkan, maka pelaksanaannya harus benar-benar sesuai aturan. Ia mengingatkan agar ASN tidak menyalahgunakan kebijakan tersebut.

    “Kalau WFH, ya benar-benar bekerja dari rumah. Jangan sampai dicek justru berada di tempat lain,” tegasnya.

    Selain itu, ia menyebut kendaraan listrik lebih hemat dan nyaman dibandingkan kendaraan biasa. Hal itu disampaikan berdasarkan pengalamannya memakai kendaraan dinas listrik selama lebih dari satu tahun.

    Menurut Mahyunadi, biaya perjalanan pulang-pergi Sangatta–Balikpapan dengan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Sementara dengan kendaraan listrik, biaya yang dikeluarkan jauh lebih rendah.

    “PP Sangatta–Balikpapan tidak sampai Rp300 ribu, bahkan pernah hanya sekitar Rp125 ribu kalau pengisian dilakukan dari rumah,” ungkapnya.

    Selain lebih hemat, ia menilai kendaraan listrik lebih praktis karena bisa diisi daya di rumah tanpa antre. Dari sisi performa, kendaraan listrik juga lebih responsif dan nyaman, termasuk untuk perjalanan jauh.

    Mahyunadi menyarankan agar organisasi perangkat daerah (OPD) di Kutim mulai mempertimbangkan pengadaan kendaraan listrik ke depan.

    “Ini sudah terbukti nyaman, hemat dan kualitasnya juga baik. Jadi ke depan, kalau ada pengadaan kendaraan dinas, bisa dipertimbangkan menggunakan kendaraan listrik,” katanya.

    Lebih lanjut, Mahyunadi menilai peralihan ke kendaraan listrik merupakan bagian dari transisi energi yang tidak bisa dihindari. Ia menyebut dunia saat ini tengah bergerak menuju penggunaan energi terbarukan untuk menggantikan energi fosil.

    “Cepat atau lambat kita akan masuk ke transisi energi. Energi fosil akan bergeser ke energi terbarukan, salah satunya energi matahari,” tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Soroti WFH, Wabup Kutim Ajak OPD Beralih ke Kendaraan Listrik”

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    08 April 2026 pukul 12:53 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi menyoroti wacana penerapan Work From Home (WFH) dan menyarankan penggunaan kendaraan listrik di lingkungan pemerintah daerah.

    Ia mengatakan kebijakan tersebut akan ditindaklanjuti melalui keputusan Bupati Kutim. Namun daerah seperti Kutim perlu mempertimbangkan secara matang dampaknya.

    “Apakah perlu atau tidak, kita harus siap. Tapi kalau saya lihat, di Kutim ini tidak terlalu berpengaruh besar, terutama terhadap penggunaan energi,” ujar Mahyunadi.

    Meski demikian, ia menilai penerapan WFH tetap bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari penyesuaian dengan kebijakan nasional.

    Mahyunadi juga menekankan jika kebijakan WFH diterapkan, maka pelaksanaannya harus benar-benar sesuai aturan. Ia mengingatkan agar ASN tidak menyalahgunakan kebijakan tersebut.

    “Kalau WFH, ya benar-benar bekerja dari rumah. Jangan sampai dicek justru berada di tempat lain,” tegasnya.

    Selain itu, ia menyebut kendaraan listrik lebih hemat dan nyaman dibandingkan kendaraan biasa. Hal itu disampaikan berdasarkan pengalamannya memakai kendaraan dinas listrik selama lebih dari satu tahun.

    Menurut Mahyunadi, biaya perjalanan pulang-pergi Sangatta–Balikpapan dengan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Sementara dengan kendaraan listrik, biaya yang dikeluarkan jauh lebih rendah.

    “PP Sangatta–Balikpapan tidak sampai Rp300 ribu, bahkan pernah hanya sekitar Rp125 ribu kalau pengisian dilakukan dari rumah,” ungkapnya.

    Selain lebih hemat, ia menilai kendaraan listrik lebih praktis karena bisa diisi daya di rumah tanpa antre. Dari sisi performa, kendaraan listrik juga lebih responsif dan nyaman, termasuk untuk perjalanan jauh.

    Mahyunadi menyarankan agar organisasi perangkat daerah (OPD) di Kutim mulai mempertimbangkan pengadaan kendaraan listrik ke depan.

    “Ini sudah terbukti nyaman, hemat dan kualitasnya juga baik. Jadi ke depan, kalau ada pengadaan kendaraan dinas, bisa dipertimbangkan menggunakan kendaraan listrik,” katanya.

    Lebih lanjut, Mahyunadi menilai peralihan ke kendaraan listrik merupakan bagian dari transisi energi yang tidak bisa dihindari. Ia menyebut dunia saat ini tengah bergerak menuju penggunaan energi terbarukan untuk menggantikan energi fosil.

    “Cepat atau lambat kita akan masuk ke transisi energi. Energi fosil akan bergeser ke energi terbarukan, salah satunya energi matahari,” tutupnya.

    (Sf/Lo)