Cari disini...
Seputar Kaltim
Lalu lintas padat di kawasan Jalan Gatot Subroto, Samarinda yang direncanakan bakal diterapkan satu jalur. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Rencana penerapan satu jalur di kawasan Jalan Gatot Subroto (Gatsu) Samarinda oleh Dinas Perhubungan telah sampai ditelinga wakil rakyat di gedung legislasi.
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Jasno menilai rencana itu bisa menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah kemacetan yang sering terjadi di kawasan tersebut.
Ia melihat, ada banyak faktor yang jadi penyebab kemacetan itu. Padatnya kendaraan, keberadaan pedagang yang ada di pinggir jalan juga menjadi penyumbang kemacetan. Apalagi semenjak dibukanya jalan dikawasan eks Bandara Temindung yang menghubungkan Jalan S Parman menuju Jalan KH Samanhudi, kendaraan yang melintas semakin padat.
Badan jalan yang sempit juga menjadi faktornya. Belum lagi keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dinilainya kurang ideal.
Menurutnya keberadaan SPBU yang dianggap tidak ideal ini juga berkontribusi besar terhadap penumpukan kendaraan di jalan sekitar. Antrean panjang di SPBU tersebut tidak hanya memperparah kemacetan tetapi juga menimbulkan masalah tata lalu lintas.
“Letak SPBU di sana tidak ideal, terutama karena lokasinya yang berdekatan dengan tikungan dan persimpangan. Antrean panjang dari SPBU seringkali memakan badan jalan, sehingga menambah kemacetan,” ungkap Jasno saat ditemui di ruangannya belum lama ini.
Meski sudah diberlakukan tidak adanya penjualan BBM subsidi, untuk mengurangi antrean, kondisi kemacetan tetap tak terhindarkan. Menurut Jasno, jalur sempit di sekitar SPBU makin memperparah masalah ini. Ditambah dengan kehadiran barier di median jalan pun turut membuat lalu lintas semakin padat dan tidak lancar.
Salah satu solusi yang tengah dipertimbangkan oleh Dinas Perhubungan adalah mengubah jalur menjadi satu arah untuk mengatasi kemacetan. Namun, Jasno menilai langkah tersebut akan memberikan dampak yang lain bagi masyarakat.
“Rencana satu jalur mungkin bisa mengurangi kemacetan, tetapi masyarakat terpaksa harus memutar untuk mencapai tujuan, yang bisa jadi beban tambahan, mau tidak mau masyarakat yang dikorbankan,” bebernya.
Melihat ini, pihaknya pun berencana membahas lebih lanjut rencana perubahan jalur dan evaluasi AMDALALIN SPBU tersebut dalam bersama Dinas Perhubungan. Tujuannya, kata Jasno, adalah untuk mencari solusi yang tetap memperhatikan kenyamanan pengguna jalan serta mengurangi kemacetan di sekitar SPBU.
"Sebelum ada SPBU itu juga masih lapang-lapang saja, ke depannya kami akan tinjau kembali soal AMDALALIN nya," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Lalu lintas padat di kawasan Jalan Gatot Subroto, Samarinda yang direncanakan bakal diterapkan satu jalur. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Rencana penerapan satu jalur di kawasan Jalan Gatot Subroto (Gatsu) Samarinda oleh Dinas Perhubungan telah sampai ditelinga wakil rakyat di gedung legislasi.
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Jasno menilai rencana itu bisa menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah kemacetan yang sering terjadi di kawasan tersebut.
Ia melihat, ada banyak faktor yang jadi penyebab kemacetan itu. Padatnya kendaraan, keberadaan pedagang yang ada di pinggir jalan juga menjadi penyumbang kemacetan. Apalagi semenjak dibukanya jalan dikawasan eks Bandara Temindung yang menghubungkan Jalan S Parman menuju Jalan KH Samanhudi, kendaraan yang melintas semakin padat.
Badan jalan yang sempit juga menjadi faktornya. Belum lagi keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dinilainya kurang ideal.
Menurutnya keberadaan SPBU yang dianggap tidak ideal ini juga berkontribusi besar terhadap penumpukan kendaraan di jalan sekitar. Antrean panjang di SPBU tersebut tidak hanya memperparah kemacetan tetapi juga menimbulkan masalah tata lalu lintas.
“Letak SPBU di sana tidak ideal, terutama karena lokasinya yang berdekatan dengan tikungan dan persimpangan. Antrean panjang dari SPBU seringkali memakan badan jalan, sehingga menambah kemacetan,” ungkap Jasno saat ditemui di ruangannya belum lama ini.
Meski sudah diberlakukan tidak adanya penjualan BBM subsidi, untuk mengurangi antrean, kondisi kemacetan tetap tak terhindarkan. Menurut Jasno, jalur sempit di sekitar SPBU makin memperparah masalah ini. Ditambah dengan kehadiran barier di median jalan pun turut membuat lalu lintas semakin padat dan tidak lancar.
Salah satu solusi yang tengah dipertimbangkan oleh Dinas Perhubungan adalah mengubah jalur menjadi satu arah untuk mengatasi kemacetan. Namun, Jasno menilai langkah tersebut akan memberikan dampak yang lain bagi masyarakat.
“Rencana satu jalur mungkin bisa mengurangi kemacetan, tetapi masyarakat terpaksa harus memutar untuk mencapai tujuan, yang bisa jadi beban tambahan, mau tidak mau masyarakat yang dikorbankan,” bebernya.
Melihat ini, pihaknya pun berencana membahas lebih lanjut rencana perubahan jalur dan evaluasi AMDALALIN SPBU tersebut dalam bersama Dinas Perhubungan. Tujuannya, kata Jasno, adalah untuk mencari solusi yang tetap memperhatikan kenyamanan pengguna jalan serta mengurangi kemacetan di sekitar SPBU.
"Sebelum ada SPBU itu juga masih lapang-lapang saja, ke depannya kami akan tinjau kembali soal AMDALALIN nya," pungkasnya.
(Sf/Rs)