Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua TWAP Samarinda, Saparuddin (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)
Samarinda - Rencana Relokasi SMPN 27 Samarinda yang berlokasi di Jalan Batu Cermin, Sempaja, Samarinda Utara, batal.
Pemindahan yang mulanya hendak dilakukan dengan alasan rawan longsor, kini Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tengah melakukan langkah lain untuk mengurangi risiko bencana di kawasan sekolah tersebut.
"Sekolah yang di Jalan Batu Cermin yakni SMP 27, itu tidak perlu direlokasi. Cukup tanah longsong yang berada di belakang sekolah itu bereskan," ujar Kepala Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Saparuddin, Jumat (14/11/2025).
Menurut Saparuddin, dengan menurunkan elevasi ketinggian tanah dibelakang sekolah tersebut daat mengurangi risiko bencana.
"Kita keruk tanahnya, kita dorong ke belakang. Kebetulan ada void tambang tanahnya dorong ke sana. Jika tanahnya sudah rata tentu tidak akan terjadi longsor," jelasnya.
Dengan demikian, risiko bencana dapat diminimalisir dan tidak menjadi ancaman bagi sekolah ketika kegiatan aktivitas belajar mengajar dimulai.
Hanya, pemerintah tinggal sedikit membenahi permasalahan infrastruktur bangunan fisik yang terdampak longsor di sekolah tersebut.
"Tinggal sedikit kita benahi sekolah itu, insyaallah tidak akan menggangu aktivitas para murid maupun guru. Jadi tidak direlokasi ya," tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua TWAP Samarinda, Saparuddin (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)
Samarinda - Rencana Relokasi SMPN 27 Samarinda yang berlokasi di Jalan Batu Cermin, Sempaja, Samarinda Utara, batal.
Pemindahan yang mulanya hendak dilakukan dengan alasan rawan longsor, kini Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tengah melakukan langkah lain untuk mengurangi risiko bencana di kawasan sekolah tersebut.
"Sekolah yang di Jalan Batu Cermin yakni SMP 27, itu tidak perlu direlokasi. Cukup tanah longsong yang berada di belakang sekolah itu bereskan," ujar Kepala Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Saparuddin, Jumat (14/11/2025).
Menurut Saparuddin, dengan menurunkan elevasi ketinggian tanah dibelakang sekolah tersebut daat mengurangi risiko bencana.
"Kita keruk tanahnya, kita dorong ke belakang. Kebetulan ada void tambang tanahnya dorong ke sana. Jika tanahnya sudah rata tentu tidak akan terjadi longsor," jelasnya.
Dengan demikian, risiko bencana dapat diminimalisir dan tidak menjadi ancaman bagi sekolah ketika kegiatan aktivitas belajar mengajar dimulai.
Hanya, pemerintah tinggal sedikit membenahi permasalahan infrastruktur bangunan fisik yang terdampak longsor di sekolah tersebut.
"Tinggal sedikit kita benahi sekolah itu, insyaallah tidak akan menggangu aktivitas para murid maupun guru. Jadi tidak direlokasi ya," tandasnya.
(Sf/Rs)