Cari disini...
Seputar Kaltim
Proses pembelajara Smart Silvofishery dengan narasumber Profesor Esti Handayani Herdi di Deboekit Riverside Resort, Balikpapan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Di tengah ancaman degradasi lahan pesisir, sebuah gerakan baru muncul dari Kalimantan Timur (Kaltim). Mengusung konsep Smart Silvofishery, para pakar dan aktivis lingkungan kini mulai melirik Generasi Z sebagai ujung tombak pelestarian mangrove yang terintegrasi dengan budidaya perikanan.
Program yang menyasar pemuda usia 15 hingga 30 tahun ini bukan sekadar pelatihan biasa. Bertempat di tiga titik potensial, yakni Muara Jawa, Muara Badak, dan Balikpapan. Kegiatan ini merekam antusiasme yang di luar ekspektasi. Di Muara Jawa misalnya, dari 150 pendaftar, panitia terpaksa hanya bisa menampung 50 orang karena keterbatasan kapasitas ruang.
Profesor Esti Handayani Hardi, pakar Smart Silvofishery yang menjadi narasumber utama, menjelaskan bahwa pemilihan usia muda bukan tanpa alasan.
"Mereka adalah generasi yang akan mengelola bumi ini ke depan. Saat ini mereka sedang 'lapar' ilmu, jadi momen yang tepat untuk memperkenalkan potensi lokal yang dikelola secara ramah lingkungan," ujar Esti setelah acara di Balikpapan, Minggu (21/12/2025).
Selama ini, perluasan tambak sering dianggap sebagai musuh utama hutan mangrove. Namun, melalui Smart Silvofishery, kedua elemen ini justru dikawinkan.
Konsep ini menunjukkan bagaimana integrasi antara mangrove dan aquaculture (budidaya perairan) dapat berjalan beriringan tanpa merusak ekosistem.
Di Balikpapan, kontribusi dari Deboekit Riverside Resort memperkuat gerakan ini dengan mengusung ekowisata agro-silvofishery. Hasil riset valid mengenai pentingnya mangrove bagi kehidupan sosial dan ekonomi nelayan dipaparkan agar anak muda memiliki landasan ilmiah dalam bertindak.
Namun, menggerakkan anak muda memiliki tantangannya sendiri. Project Manager Yayasan Jejak Baik Pohon, Muhammad Penza Rizky mengakui bahwa mengajak kaum urban untuk peduli pesisir adalah urusan susah-susah mudah.
"Tantangannya adalah menyesuaikan dengan waktu dan prioritas usia mereka. Kesibukan anak usia 20 tahun tentu berbeda dengan mereka yang di atas 30 tahun," kata Penza.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya peran pemerintah setempat dalam memfasilitasi gerakan pemuda agar tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.
Jejak Baik Pohon, yang mulai aktif sejak awal 2024, tidak ingin peserta hanya berhenti pada tahap menanam. Ada tantangan khusus yang diberikan yakni memantau pertumbuhan pohon tersebut.
"Kami ingin mereka punya pengalaman praktik langsung. Tantangannya adalah bagaimana menjaga apa yang sudah ditanam agar tetap tumbuh dan bermanfaat di masa depan," tambahnya.
Gerakan ini pun mulai merambah ke ranah kebijakan. Prof. Esti menyebutkan bahwa kolaborasi dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) serta KLHK telah membuahkan hasil berupa penyusunan Peraturan Desa (Perdes) mengenai pengelolaan ekosistem pesisir.
Visi besarnya adalah mendorong Pemerintah Daerah dan Pusat untuk melahirkan Perda yang lebih ramah terhadap mangrove. Dengan dukungan data riset yang valid dan keterlibatan aktif pemuda, Smart Silvofishery diharapkan menjadi standar baru pembangunan di Indonesia, karena ini sebuah pembangunan yang tidak lagi menyingkirkan alam, melainkan menjadikannya sebagai penyangga utama.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Proses pembelajara Smart Silvofishery dengan narasumber Profesor Esti Handayani Herdi di Deboekit Riverside Resort, Balikpapan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Di tengah ancaman degradasi lahan pesisir, sebuah gerakan baru muncul dari Kalimantan Timur (Kaltim). Mengusung konsep Smart Silvofishery, para pakar dan aktivis lingkungan kini mulai melirik Generasi Z sebagai ujung tombak pelestarian mangrove yang terintegrasi dengan budidaya perikanan.
Program yang menyasar pemuda usia 15 hingga 30 tahun ini bukan sekadar pelatihan biasa. Bertempat di tiga titik potensial, yakni Muara Jawa, Muara Badak, dan Balikpapan. Kegiatan ini merekam antusiasme yang di luar ekspektasi. Di Muara Jawa misalnya, dari 150 pendaftar, panitia terpaksa hanya bisa menampung 50 orang karena keterbatasan kapasitas ruang.
Profesor Esti Handayani Hardi, pakar Smart Silvofishery yang menjadi narasumber utama, menjelaskan bahwa pemilihan usia muda bukan tanpa alasan.
"Mereka adalah generasi yang akan mengelola bumi ini ke depan. Saat ini mereka sedang 'lapar' ilmu, jadi momen yang tepat untuk memperkenalkan potensi lokal yang dikelola secara ramah lingkungan," ujar Esti setelah acara di Balikpapan, Minggu (21/12/2025).
Selama ini, perluasan tambak sering dianggap sebagai musuh utama hutan mangrove. Namun, melalui Smart Silvofishery, kedua elemen ini justru dikawinkan.
Konsep ini menunjukkan bagaimana integrasi antara mangrove dan aquaculture (budidaya perairan) dapat berjalan beriringan tanpa merusak ekosistem.
Di Balikpapan, kontribusi dari Deboekit Riverside Resort memperkuat gerakan ini dengan mengusung ekowisata agro-silvofishery. Hasil riset valid mengenai pentingnya mangrove bagi kehidupan sosial dan ekonomi nelayan dipaparkan agar anak muda memiliki landasan ilmiah dalam bertindak.
Namun, menggerakkan anak muda memiliki tantangannya sendiri. Project Manager Yayasan Jejak Baik Pohon, Muhammad Penza Rizky mengakui bahwa mengajak kaum urban untuk peduli pesisir adalah urusan susah-susah mudah.
"Tantangannya adalah menyesuaikan dengan waktu dan prioritas usia mereka. Kesibukan anak usia 20 tahun tentu berbeda dengan mereka yang di atas 30 tahun," kata Penza.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya peran pemerintah setempat dalam memfasilitasi gerakan pemuda agar tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.
Jejak Baik Pohon, yang mulai aktif sejak awal 2024, tidak ingin peserta hanya berhenti pada tahap menanam. Ada tantangan khusus yang diberikan yakni memantau pertumbuhan pohon tersebut.
"Kami ingin mereka punya pengalaman praktik langsung. Tantangannya adalah bagaimana menjaga apa yang sudah ditanam agar tetap tumbuh dan bermanfaat di masa depan," tambahnya.
Gerakan ini pun mulai merambah ke ranah kebijakan. Prof. Esti menyebutkan bahwa kolaborasi dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) serta KLHK telah membuahkan hasil berupa penyusunan Peraturan Desa (Perdes) mengenai pengelolaan ekosistem pesisir.
Visi besarnya adalah mendorong Pemerintah Daerah dan Pusat untuk melahirkan Perda yang lebih ramah terhadap mangrove. Dengan dukungan data riset yang valid dan keterlibatan aktif pemuda, Smart Silvofishery diharapkan menjadi standar baru pembangunan di Indonesia, karena ini sebuah pembangunan yang tidak lagi menyingkirkan alam, melainkan menjadikannya sebagai penyangga utama.
(Sf/Rs)