Seputar Kaltim

    Sinyal Penuh tapi Internet Sulit Dipakai, Diskominfo Kutim Sebut Kapasitas BTS Kurang

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    13 Oktober 2026 pukul 16:02 WITA

    Plt. Kabid Infrastruktur TIK Diskominfo Staper Kutim, M. Ihsan Hafid. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih membutuhkan penambahan kapasitas Base Transceiver Station (BTS). BTS merupakan perangkat pada menara telekomunikasi yang menghubungkan telepon seluler dengan jaringan operator.

    Dinas Komunikasi dan Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kutim menyebut kondisi itu terjadi pada wilayah yang sudah memiliki provider atau tower, tetapi sinyalnya masih lemah.

    Plt Kabid Infrastruktur TIK Diskominfo Staper Kutim, M Ihsan Hafid, mengatakan kondisi tersebut kerap dianggap masyarakat sebagai blank spot. Ia menjelaskan, wilayah yang masih memiliki provider atau tower di sekitar lokasi tidak dapat dikategorikan sebagai blank spot.

    “Sebenarnya kalau dari segi data, data blank spot kami di Kutim dari analisis sebelumnya dari data yang dikirimkan kementerian, kita hanya mendapat tiga data. Tapi itu tidak sama dengan data dari Kemendagri,” ujar Ihsan.

    Perbedaan data tersebut membuat kondisi blank spot di Kutim masih perlu dikaji kembali. Ihsan mengatakan, keterbatasan jaringan yang ditemukan di masyarakat tidak seluruhnya masuk kategori blank spot.

    “Banyak faktor yang memungkinkan yang artinya itu sebenarnya bukan blank spot. Karena sebenarnya di Kutim ada yang lemah sinyal, itu tidak bisa dikategorikan blank spot karena ada provider atau tower di sekitar situ. Berarti kita mau perkuat dari segi sinyalnya saja,” jelasnya.

    Di kesempatan yang sama, Staf Bidang Infrastruktur TIK dan Persandian Diskominfo Staper Kutim, Apriance Saleda, menyebut jaringan komunikasi sebenarnya sudah menjangkau 151 desa, termasuk desa persiapan, serta dua kelurahan. Persoalan yang masih ditemukan adalah kapasitas BTS pada sejumlah menara.

    “kita masih kurang di BTS-nya saja di tower-tower itu,” katanya.

    Salah satu contohnya berada di Long Mesangat. Menara operator Telkomsel sudah berdiri dan sinyal pada gawai warga terlihat penuh. Namun, internet belum bisa digunakan secara optimal karena daya tampung atau bandwidth yang terbatas.

    Ihsan menambahkan, permohonan dari desa-desa yang mengalami sinyal lemah maupun blank spot telah disampaikan kepada pemerintah pusat. Permohonan tersebut sudah dibahas di kementerian agar penambahan BTS dapat dilakukan di wilayah desa yang membutuhkan.

    “Desa-desa yang sinyal lemah atau blank spot sudah kami upayakan untuk bermohon kepada Kementerian Digital agar bisa menambah BTS di wilayah desa sesuai permohonan. Kemarin sudah kami bahas di kementerian, alhamdulillah semoga direspons dengan baik dan bisa cepat dibangun BTS-nya,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Sinyal Penuh tapi Internet Sulit Dipakai, Diskominfo Kutim Sebut Kapasitas BTS Kurang

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    13 Oktober 2026 pukul 16:02 WITA

    Plt. Kabid Infrastruktur TIK Diskominfo Staper Kutim, M. Ihsan Hafid. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih membutuhkan penambahan kapasitas Base Transceiver Station (BTS). BTS merupakan perangkat pada menara telekomunikasi yang menghubungkan telepon seluler dengan jaringan operator.

    Dinas Komunikasi dan Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kutim menyebut kondisi itu terjadi pada wilayah yang sudah memiliki provider atau tower, tetapi sinyalnya masih lemah.

    Plt Kabid Infrastruktur TIK Diskominfo Staper Kutim, M Ihsan Hafid, mengatakan kondisi tersebut kerap dianggap masyarakat sebagai blank spot. Ia menjelaskan, wilayah yang masih memiliki provider atau tower di sekitar lokasi tidak dapat dikategorikan sebagai blank spot.

    “Sebenarnya kalau dari segi data, data blank spot kami di Kutim dari analisis sebelumnya dari data yang dikirimkan kementerian, kita hanya mendapat tiga data. Tapi itu tidak sama dengan data dari Kemendagri,” ujar Ihsan.

    Perbedaan data tersebut membuat kondisi blank spot di Kutim masih perlu dikaji kembali. Ihsan mengatakan, keterbatasan jaringan yang ditemukan di masyarakat tidak seluruhnya masuk kategori blank spot.

    “Banyak faktor yang memungkinkan yang artinya itu sebenarnya bukan blank spot. Karena sebenarnya di Kutim ada yang lemah sinyal, itu tidak bisa dikategorikan blank spot karena ada provider atau tower di sekitar situ. Berarti kita mau perkuat dari segi sinyalnya saja,” jelasnya.

    Di kesempatan yang sama, Staf Bidang Infrastruktur TIK dan Persandian Diskominfo Staper Kutim, Apriance Saleda, menyebut jaringan komunikasi sebenarnya sudah menjangkau 151 desa, termasuk desa persiapan, serta dua kelurahan. Persoalan yang masih ditemukan adalah kapasitas BTS pada sejumlah menara.

    “kita masih kurang di BTS-nya saja di tower-tower itu,” katanya.

    Salah satu contohnya berada di Long Mesangat. Menara operator Telkomsel sudah berdiri dan sinyal pada gawai warga terlihat penuh. Namun, internet belum bisa digunakan secara optimal karena daya tampung atau bandwidth yang terbatas.

    Ihsan menambahkan, permohonan dari desa-desa yang mengalami sinyal lemah maupun blank spot telah disampaikan kepada pemerintah pusat. Permohonan tersebut sudah dibahas di kementerian agar penambahan BTS dapat dilakukan di wilayah desa yang membutuhkan.

    “Desa-desa yang sinyal lemah atau blank spot sudah kami upayakan untuk bermohon kepada Kementerian Digital agar bisa menambah BTS di wilayah desa sesuai permohonan. Kemarin sudah kami bahas di kementerian, alhamdulillah semoga direspons dengan baik dan bisa cepat dibangun BTS-nya,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)