Seputar Kaltim

    Simpan Nilai Sejarah dan Budaya, Naskah Kuno di Kukar Terus Dilestarikan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rudianto
    24 Juni 2026 pukul 21:57 WITA

    Sejumlah naskah kuno yang dipajang di Perpustakaan Umum Daerah Kukar (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Tenggarong – Upaya pelestarian naskah kuno terus digalakkan dan didorong Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai bagian dari menjaga identitas budaya daerah sekaligus menggali pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

    Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Naskah Kuno bertema ‘Naskah Kuno Sebagai Warisan Budaya dan Sumber Pengetahuan’ yang digelar di Aula Serbaguna Perpustakaan Umum Daerah, Tenggarong, Rabu (24/6/2026).

    Kepala Diarpus Kukar, Ridha Darmawan mengatakan naskah kuno bukan sekadar dokumen lama, melainkan warisan budaya yang menyimpan berbagai informasi penting mengenai sejarah, adat istiadat hingga perkembangan peradaban masyarakat di masa lampau.

    Menurutnya, pelestarian naskah kuno di Kukar telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, proses tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.

    Salah satunya adalah belum optimalnya pendataan terhadap naskah-naskah yang masih tersimpan di masyarakat. Padahal, setiap naskah perlu diidentifikasi secara menyeluruh, mulai dari judul, jenis tulisan, bahan yang digunakan, kondisi fisik hingga riwayat kepemilikannya.

    “Data-data itu penting untuk mengetahui nilai historis sebuah naskah dan memastikan proses pelestariannya dapat dilakukan dengan tepat,” ujar Ridha.

    Di sisi lain, Diarpus juga masih menghadapi keterbatasan dalam mengungkap isi naskah kuno yang telah ditemukan. 

    Mengingat masih banyak naskah kuno yang menggunakan aksara Arab Melayu, sehingga memerlukan proses transliterasi dan penerjemahan oleh tenaga ahli.

    Ridha menjelaskan tidak semua orang mampu membaca dan memahami tulisan Arab Melayu.

    Maka dari itu, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi khusus untuk mengalihaksarakan naskah ke huruf Latin, sebelum dilakukan penerjemahan.

    “Melalui proses itu, informasi yang terkandung dalam naskah dapat dipahami masyarakat dan dimanfaatkan sebagai referensi sejarah maupun pengetahuan lokal,” terangnya.

    Untuk mendukung upaya tersebut, Diarpus Kukar berencana memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, peneliti, komunitas budaya dan lembaga yang memiliki keahlian di bidang kajian manuskrip kuno.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Simpan Nilai Sejarah dan Budaya, Naskah Kuno di Kukar Terus Dilestarikan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rudianto
    24 Juni 2026 pukul 21:57 WITA

    Sejumlah naskah kuno yang dipajang di Perpustakaan Umum Daerah Kukar (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Tenggarong – Upaya pelestarian naskah kuno terus digalakkan dan didorong Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai bagian dari menjaga identitas budaya daerah sekaligus menggali pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

    Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Naskah Kuno bertema ‘Naskah Kuno Sebagai Warisan Budaya dan Sumber Pengetahuan’ yang digelar di Aula Serbaguna Perpustakaan Umum Daerah, Tenggarong, Rabu (24/6/2026).

    Kepala Diarpus Kukar, Ridha Darmawan mengatakan naskah kuno bukan sekadar dokumen lama, melainkan warisan budaya yang menyimpan berbagai informasi penting mengenai sejarah, adat istiadat hingga perkembangan peradaban masyarakat di masa lampau.

    Menurutnya, pelestarian naskah kuno di Kukar telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, proses tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.

    Salah satunya adalah belum optimalnya pendataan terhadap naskah-naskah yang masih tersimpan di masyarakat. Padahal, setiap naskah perlu diidentifikasi secara menyeluruh, mulai dari judul, jenis tulisan, bahan yang digunakan, kondisi fisik hingga riwayat kepemilikannya.

    “Data-data itu penting untuk mengetahui nilai historis sebuah naskah dan memastikan proses pelestariannya dapat dilakukan dengan tepat,” ujar Ridha.

    Di sisi lain, Diarpus juga masih menghadapi keterbatasan dalam mengungkap isi naskah kuno yang telah ditemukan. 

    Mengingat masih banyak naskah kuno yang menggunakan aksara Arab Melayu, sehingga memerlukan proses transliterasi dan penerjemahan oleh tenaga ahli.

    Ridha menjelaskan tidak semua orang mampu membaca dan memahami tulisan Arab Melayu.

    Maka dari itu, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi khusus untuk mengalihaksarakan naskah ke huruf Latin, sebelum dilakukan penerjemahan.

    “Melalui proses itu, informasi yang terkandung dalam naskah dapat dipahami masyarakat dan dimanfaatkan sebagai referensi sejarah maupun pengetahuan lokal,” terangnya.

    Untuk mendukung upaya tersebut, Diarpus Kukar berencana memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, peneliti, komunitas budaya dan lembaga yang memiliki keahlian di bidang kajian manuskrip kuno.

    (Sf/Rs)