Sidak gabungan Disperindag Kutim bersama tim terkait saat memantau harga bahan pokok di Pasar Induk Sangatta. (foto:Lisda/seputarfakta.com)

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    28 Februari 2026 02:31 WIB

    Ilustrasi beras (Foto: Freepik)

    Sangatta - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim) kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Induk Sangatta, Sabtu (28/2/2026). Hasilnya, mayoritas harga bahan pokok terpantau turun, meski telur ayam mengalami kenaikan namun tidak signifikan.

    Sidak tersebut dilakukan bersama Tim Badan Pangan Nasional (Bapanas) Pusat, Polda Kalimantan Timur, Satgas Pangan Provinsi Kalimantan Timur, Satgas Pangan Kutim serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

    Fungsional Ahli Madya Disperindag Kutim, Benita, menyampaikan harga cabai mengalami penurunan signifikan dibanding hari sebelumnya.

    “Untuk harga cabai dari sebelumnya Rp75 ribu per kilogram, hari ini sudah turun di kisaran Rp60 ribu bahkan ada yang Rp50 ribu per kilogram, itu turun per hari ini,” ujar Benita.

    Ia mengatakan, hampir seluruh komoditas bahan pokok mengalami penurunan harga. Namun harga telur ayam naik sekitar Rp800 hingga Rp1.000 per piring.

    “Kenaikan telur tidak banyak, hanya sekitar Rp800 sampai Rp1.000 per piring. Ini karena pengaruh meningkatnya permintaan, sementara stoknya berkurang,” katanya.

    Meski demikian, beberapa pedagang masih menjual telur dengan harga lama, yakni Rp60 ribu hingga Rp63 ribu per piring.

    Selain cabai dan telur, harga daging juga masih stabil. Untuk daging ayam, harga di Pasar Induk Sangatta berada di kisaran Rp45 ribu hingga Rp48 ribu per kilogram.

    “Masih di angka Rp45 ribu. Ada yang Rp47 ribu atau Rp48 ribu, tergantung pedagang. Masih di kisaran 40 ribuan dan belum ada kenaikan signifikan,” jelasnya.

    Benita mengungkapkan, harga ayam biasanya dianggap naik jika sudah di atas Rp50 ribu per kilogram. Namun saat ini harganya masih normal, dengan kenaikan paling tinggi hanya sekitar Rp2 ribu hingga Rp3 ribu.

    Harga daging sapi kualitas nomor satu masih bertahan di angka Rp160 ribu per kilogram. Menurutnya, harga tersebut masih normal seperti hari-hari biasa.

    “Kami sudah konfirmasi ke pedagang, kalau bisa tetap di Rp160 ribu. Tapi katanya itu tergantung pasokan sapi, karena sebagian besar didatangkan dari Sulawesi. Kalau stok aman, kemungkinan harga tetap. Kalau stok berkurang, bisa saja naik,” ungkapnya.

    Disperindag Kutim bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terus melakukan pemantauan harga bahan pokok penting (bapokting) secara berkala.

    “Meski anggaran minim, kami tetap turun melakukan pemantauan. Bahkan hampir setiap hari kami ke lapangan. Kami tidak ingin harga melonjak dan memberatkan masyarakat,” tutupnya.

    Disperindag memastikan akan terus mendampingi pedagang dan memantau pergerakan harga menjelang Ramadan hingga Idulfitri untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok di Kutim.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Sidak gabungan Disperindag Kutim bersama tim terkait saat memantau harga bahan pokok di Pasar Induk Sangatta. (foto:Lisda/seputarfakta.com)

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    28 Februari 2026 02:31 WIB

    Ilustrasi beras (Foto: Freepik)

    Sangatta - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim) kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Induk Sangatta, Sabtu (28/2/2026). Hasilnya, mayoritas harga bahan pokok terpantau turun, meski telur ayam mengalami kenaikan namun tidak signifikan.

    Sidak tersebut dilakukan bersama Tim Badan Pangan Nasional (Bapanas) Pusat, Polda Kalimantan Timur, Satgas Pangan Provinsi Kalimantan Timur, Satgas Pangan Kutim serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

    Fungsional Ahli Madya Disperindag Kutim, Benita, menyampaikan harga cabai mengalami penurunan signifikan dibanding hari sebelumnya.

    “Untuk harga cabai dari sebelumnya Rp75 ribu per kilogram, hari ini sudah turun di kisaran Rp60 ribu bahkan ada yang Rp50 ribu per kilogram, itu turun per hari ini,” ujar Benita.

    Ia mengatakan, hampir seluruh komoditas bahan pokok mengalami penurunan harga. Namun harga telur ayam naik sekitar Rp800 hingga Rp1.000 per piring.

    “Kenaikan telur tidak banyak, hanya sekitar Rp800 sampai Rp1.000 per piring. Ini karena pengaruh meningkatnya permintaan, sementara stoknya berkurang,” katanya.

    Meski demikian, beberapa pedagang masih menjual telur dengan harga lama, yakni Rp60 ribu hingga Rp63 ribu per piring.

    Selain cabai dan telur, harga daging juga masih stabil. Untuk daging ayam, harga di Pasar Induk Sangatta berada di kisaran Rp45 ribu hingga Rp48 ribu per kilogram.

    “Masih di angka Rp45 ribu. Ada yang Rp47 ribu atau Rp48 ribu, tergantung pedagang. Masih di kisaran 40 ribuan dan belum ada kenaikan signifikan,” jelasnya.

    Benita mengungkapkan, harga ayam biasanya dianggap naik jika sudah di atas Rp50 ribu per kilogram. Namun saat ini harganya masih normal, dengan kenaikan paling tinggi hanya sekitar Rp2 ribu hingga Rp3 ribu.

    Harga daging sapi kualitas nomor satu masih bertahan di angka Rp160 ribu per kilogram. Menurutnya, harga tersebut masih normal seperti hari-hari biasa.

    “Kami sudah konfirmasi ke pedagang, kalau bisa tetap di Rp160 ribu. Tapi katanya itu tergantung pasokan sapi, karena sebagian besar didatangkan dari Sulawesi. Kalau stok aman, kemungkinan harga tetap. Kalau stok berkurang, bisa saja naik,” ungkapnya.

    Disperindag Kutim bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terus melakukan pemantauan harga bahan pokok penting (bapokting) secara berkala.

    “Meski anggaran minim, kami tetap turun melakukan pemantauan. Bahkan hampir setiap hari kami ke lapangan. Kami tidak ingin harga melonjak dan memberatkan masyarakat,” tutupnya.

    Disperindag memastikan akan terus mendampingi pedagang dan memantau pergerakan harga menjelang Ramadan hingga Idulfitri untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok di Kutim.

    (Sf/Rs)