Seputar Kaltim

    Siasati Tiket Pesawat Mahal, Dispar Kaltim Dorong Hotel Berikan Diskon Menginap 30 Persen untuk Warga Lokal

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    23 Juli 2026 pukul 19:03 WITA

    Dispar minta hotel memberikan diskon untuk warga kaltim. Ilustrasi Hotel Aston memberikan promo 30 persen. (Foto: Olah grafis Seputarfakta.com)

    Samarinda - Mahalnya harga tiket pesawat dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar seringkali dipandang sebagai hambatan. 

    Namun, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kalimantan Timur (Kaltim), Muhammad Faisal, justru memandang situasi ini sebagai peluang emas untuk mendongkrak sektor pariwisata daerah.

    Menurut Faisal, tingginya harga tiket pesawat membuat masyarakat enggan bepergian ke luar provinsi. 

    Hal ini merupakan momentum bagi para pelaku wisata untuk menarik minat warga agar menghabiskan waktu liburannya di dalam daerah saja.

    "Di saat harga tiket mahal, orang jadi malas keluar daerah dan memilih stay di Kaltim. Manfaatkan peluang itu. Pengelola objek wisata harus kreatif mencari cara agar warga yang tidak ke luar Kaltim bisa berlibur di sini," ungkap Faisal di Samarinda, Kamis (23/7/2026).

    Di sisi lain, tren pelemahan rupiah rupanya membawa berkah tersendiri berupa peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). 

    Berdasarkan pantauan Dispar Kaltim, saat ini terjadi lonjakan kunjungan wisatawan asal Brunei Darussalam dan Malaysia, khususnya dari Sarawak, ke wilayah Balikpapan dan Samarinda.

    Faisal pun secara khusus mengimbau para pelaku usaha pariwisata untuk tidak aji mumpung dengan mematok harga yang tidak wajar kepada turis asing.

    "Jangan dimahal-mahalkan, biarkan harga wajar saja karena nilai uang mereka sedang tinggi. Hormati dan jaga mereka, biarkan mereka menghabiskan uangnya di Indonesia, khususnya di Kaltim," tambahnya.

    Peluang masif lainnya yang disoroti oleh Dispar Kaltim adalah pergerakan massa di Ibu Kota Nusantara (IKN). 

    Dengan proyeksi jutaan pekerja dan ASN yang akan dipindahkan ke IKN, sektor perhotelan, UMKM kuliner, dan pusat oleh-oleh Kaltim memiliki target pasar baru yang sangat menjanjikan.

    Sebagai langkah konkret untuk memaksimalkan potensi perputaran uang di dalam wilayah Kaltim, Faisal mendorong pengelola perhotelan dan destinasi rekreasi untuk memberikan kemudahan bagi warga lokal berupa potongan harga.

    "Daripada promosi jauh-jauh ke luar daerah, sementara orang luar juga belum tentu datang karena tiket mahal, lebih baik beri harga khusus. Misalnya, khusus KTP Kaltim menginap di hotel dapat diskon 30 persen, lalu untuk tiket masuk tempat rekreasi juga kita berikan potongan harga," tegasnya.

    Ia meyakini perputaran ekonomi dari mobilitas warga antarkabupaten/kota di Kaltim sama kuatnya dengan pariwisata luar daerah. 

    Kunjungan warga dari Mahakam Ulu (Mahulu) atau Kutai Barat (Kubar) yang berlibur ke Samarinda, Balikpapan, maupun Kutai Kartanegara (Kukar), diyakini akan memberikan dampak ekonomi yang setara dengan kunjungan wisatawan dari Jakarta, Bali, atau Yogyakarta.

    "Situasinya mungkin tidak baik-baik saja, tapi mari kita manfaatkan potensi di dalam daerah," tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Siasati Tiket Pesawat Mahal, Dispar Kaltim Dorong Hotel Berikan Diskon Menginap 30 Persen untuk Warga Lokal

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    23 Juli 2026 pukul 19:03 WITA

    Dispar minta hotel memberikan diskon untuk warga kaltim. Ilustrasi Hotel Aston memberikan promo 30 persen. (Foto: Olah grafis Seputarfakta.com)

    Samarinda - Mahalnya harga tiket pesawat dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar seringkali dipandang sebagai hambatan. 

    Namun, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kalimantan Timur (Kaltim), Muhammad Faisal, justru memandang situasi ini sebagai peluang emas untuk mendongkrak sektor pariwisata daerah.

    Menurut Faisal, tingginya harga tiket pesawat membuat masyarakat enggan bepergian ke luar provinsi. 

    Hal ini merupakan momentum bagi para pelaku wisata untuk menarik minat warga agar menghabiskan waktu liburannya di dalam daerah saja.

    "Di saat harga tiket mahal, orang jadi malas keluar daerah dan memilih stay di Kaltim. Manfaatkan peluang itu. Pengelola objek wisata harus kreatif mencari cara agar warga yang tidak ke luar Kaltim bisa berlibur di sini," ungkap Faisal di Samarinda, Kamis (23/7/2026).

    Di sisi lain, tren pelemahan rupiah rupanya membawa berkah tersendiri berupa peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). 

    Berdasarkan pantauan Dispar Kaltim, saat ini terjadi lonjakan kunjungan wisatawan asal Brunei Darussalam dan Malaysia, khususnya dari Sarawak, ke wilayah Balikpapan dan Samarinda.

    Faisal pun secara khusus mengimbau para pelaku usaha pariwisata untuk tidak aji mumpung dengan mematok harga yang tidak wajar kepada turis asing.

    "Jangan dimahal-mahalkan, biarkan harga wajar saja karena nilai uang mereka sedang tinggi. Hormati dan jaga mereka, biarkan mereka menghabiskan uangnya di Indonesia, khususnya di Kaltim," tambahnya.

    Peluang masif lainnya yang disoroti oleh Dispar Kaltim adalah pergerakan massa di Ibu Kota Nusantara (IKN). 

    Dengan proyeksi jutaan pekerja dan ASN yang akan dipindahkan ke IKN, sektor perhotelan, UMKM kuliner, dan pusat oleh-oleh Kaltim memiliki target pasar baru yang sangat menjanjikan.

    Sebagai langkah konkret untuk memaksimalkan potensi perputaran uang di dalam wilayah Kaltim, Faisal mendorong pengelola perhotelan dan destinasi rekreasi untuk memberikan kemudahan bagi warga lokal berupa potongan harga.

    "Daripada promosi jauh-jauh ke luar daerah, sementara orang luar juga belum tentu datang karena tiket mahal, lebih baik beri harga khusus. Misalnya, khusus KTP Kaltim menginap di hotel dapat diskon 30 persen, lalu untuk tiket masuk tempat rekreasi juga kita berikan potongan harga," tegasnya.

    Ia meyakini perputaran ekonomi dari mobilitas warga antarkabupaten/kota di Kaltim sama kuatnya dengan pariwisata luar daerah. 

    Kunjungan warga dari Mahakam Ulu (Mahulu) atau Kutai Barat (Kubar) yang berlibur ke Samarinda, Balikpapan, maupun Kutai Kartanegara (Kukar), diyakini akan memberikan dampak ekonomi yang setara dengan kunjungan wisatawan dari Jakarta, Bali, atau Yogyakarta.

    "Situasinya mungkin tidak baik-baik saja, tapi mari kita manfaatkan potensi di dalam daerah," tutupnya.

    (Sf/Rs)