Cari disini...
Seputar Kaltim
Perhelatan MTQ ke-45 di Sangatta, Kutai Timur (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Setelah meraih juara umum pada MTQ Nasional 2024, Kalimantan Timur (Kaltim) kian mengukuhkan diri sebagai kekuatan baru dalam dunia tilawah Al-Qur’an. Keseriusan itu terlihat dari gelaran MTQ ke-45 tingkat provinsi yang berlangsung di Sangatta, Kutai Timur (Kutim).
Ajang ini diikuti oleh 430 peserta lomba dari 10 kabupaten kota se-Kaltim. Para peserta berkompetisi dalam 8 cabang musabaqah yang mencakup seni baca Al-Qur’an, qiraat, hafalan, tafsir, fahmil Qur’an, syarhil Qur’an, kaligrafi, hingga karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Seluruh cabang itu terbagi dalam 50 golongan lomba dan digelar di 11 titik lokasi di Kota Sangatta.
Ketua LPTQ Kaltim, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa pelaksanaan MTQ ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mencerminkan keseriusan daerah dalam membina generasi Qurani secara berkelanjutan.
“MTQ ini menjadi indikator seberapa serius daerah membina SDM Qurani. Tidak sekadar lomba, tapi juga cerminan hasil pembinaan yang konsisten secara berkelanjutan,” ujar Wahyuni.
Ia mengungkapkan Salah satu terobosan baru pada MTQ tahun ini adalah penerapan EMTQ (Elektronik Musabaqah Tilawatil Qur’an), sistem digital yang mengelola pendaftaran, klasifikasi cabang lomba (E-Makro), hingga penilaian (E-Scoring). Dengan sistem ini, hasilnya lebih transparan dan adil untuk semua peserta.
“Tentu ini menyesuaikan dengan zaman era digital, sehingga MTQ dapat berjalan secara lebih transparan dan informatif terkait dengan hasil musabaqah yang dapat dilihat lebih cepat dan aksesibel,” tambahnya .
Wahyuni mengatakan bahwa MTQ ke-45 ini juga mencatat bahwa Kutim sebagai yang pertama menghadirkan Dewan Hakim Nasional dan panitera nasional.
"MTQ kali ini menjadi yang pertama menghadirkan 22 Dewan Hakim Nasional dan panitera nasional, yang turut berbagi pengalaman bersama 90 hakim dan panitera daerah." katanya.
Sementara itu, Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menekankan bahwa MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga wahana syiar Islam dan pembentukan karakter masyarakat Qurani.
“Kegiatan ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi juga untuk diresapi, diamalkan, dan dijadikan pedoman hidup,” tegas Rudy.
Ia juga menambahkan pentingnya MTQ sebagai tolok ukur keberhasilan pembinaan Al-Qur’an di daerah. Oleh karena itu, ia mendorong seluruh kabupaten dan kota untuk terus melakukan pembinaan qori dan qoriah, hafiz dan hafizah, serta peserta dari berbagai cabang lainnya secara berkelanjutan.
“Investasi terbaik adalah membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Gubernur Rudy juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan seluruh masyarakat yang telah menjadi tuan rumah MTQ ke-45 dengan penuh semangat, kerja sama, dan keramahan.
“Kami berterima kasih atas dedikasi semua pihak yang terlibat. Semoga menjadi amal jariyah dan diberkahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Perhelatan MTQ ke-45 di Sangatta, Kutai Timur (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Setelah meraih juara umum pada MTQ Nasional 2024, Kalimantan Timur (Kaltim) kian mengukuhkan diri sebagai kekuatan baru dalam dunia tilawah Al-Qur’an. Keseriusan itu terlihat dari gelaran MTQ ke-45 tingkat provinsi yang berlangsung di Sangatta, Kutai Timur (Kutim).
Ajang ini diikuti oleh 430 peserta lomba dari 10 kabupaten kota se-Kaltim. Para peserta berkompetisi dalam 8 cabang musabaqah yang mencakup seni baca Al-Qur’an, qiraat, hafalan, tafsir, fahmil Qur’an, syarhil Qur’an, kaligrafi, hingga karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Seluruh cabang itu terbagi dalam 50 golongan lomba dan digelar di 11 titik lokasi di Kota Sangatta.
Ketua LPTQ Kaltim, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa pelaksanaan MTQ ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mencerminkan keseriusan daerah dalam membina generasi Qurani secara berkelanjutan.
“MTQ ini menjadi indikator seberapa serius daerah membina SDM Qurani. Tidak sekadar lomba, tapi juga cerminan hasil pembinaan yang konsisten secara berkelanjutan,” ujar Wahyuni.
Ia mengungkapkan Salah satu terobosan baru pada MTQ tahun ini adalah penerapan EMTQ (Elektronik Musabaqah Tilawatil Qur’an), sistem digital yang mengelola pendaftaran, klasifikasi cabang lomba (E-Makro), hingga penilaian (E-Scoring). Dengan sistem ini, hasilnya lebih transparan dan adil untuk semua peserta.
“Tentu ini menyesuaikan dengan zaman era digital, sehingga MTQ dapat berjalan secara lebih transparan dan informatif terkait dengan hasil musabaqah yang dapat dilihat lebih cepat dan aksesibel,” tambahnya .
Wahyuni mengatakan bahwa MTQ ke-45 ini juga mencatat bahwa Kutim sebagai yang pertama menghadirkan Dewan Hakim Nasional dan panitera nasional.
"MTQ kali ini menjadi yang pertama menghadirkan 22 Dewan Hakim Nasional dan panitera nasional, yang turut berbagi pengalaman bersama 90 hakim dan panitera daerah." katanya.
Sementara itu, Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menekankan bahwa MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga wahana syiar Islam dan pembentukan karakter masyarakat Qurani.
“Kegiatan ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi juga untuk diresapi, diamalkan, dan dijadikan pedoman hidup,” tegas Rudy.
Ia juga menambahkan pentingnya MTQ sebagai tolok ukur keberhasilan pembinaan Al-Qur’an di daerah. Oleh karena itu, ia mendorong seluruh kabupaten dan kota untuk terus melakukan pembinaan qori dan qoriah, hafiz dan hafizah, serta peserta dari berbagai cabang lainnya secara berkelanjutan.
“Investasi terbaik adalah membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Gubernur Rudy juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan seluruh masyarakat yang telah menjadi tuan rumah MTQ ke-45 dengan penuh semangat, kerja sama, dan keramahan.
“Kami berterima kasih atas dedikasi semua pihak yang terlibat. Semoga menjadi amal jariyah dan diberkahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tutupnya.
(Sf/Rs)