Seputar Kaltim

    Setelah Heboh Keracunan saat Pelantikan, Belum Ada Anggota KPPS Sambutan yang Mengundurkan Diri

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    01 Februari 2024 pukul 19:22 WITA

    Komisioner KPU Samarinda, Dwi Haryono saat ditemui Seputar Fakta di ruangannya, Kamis (1/2/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Sepekan  berlalu selepas pelantikan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kecamatan Sambutan Kota Samarinda, yang menghebohkan dengan adanya insiden keracunan. Namun, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Samarinda belum menerima adanya anggota KPPS yang mundur. 

    “Sampai saat ini belum ada informasi itu. Belum ada yang bilang mundur,” ucap Dwi Haryono, Komisioner KPU Samarinda pada Seputar Fakta saat ditemui di ruangannya, Kamis (1/2/2024).

    Dwi bercerita, pada saat ia menjenguk korban di rumah sakit, para korban  tetap optimis ingin cepat sembuh dan bergabung kembali dengan anggota KPPS lainnya untuk bertugas. Sehingga Dwi menganggap tidak ada anggapan buruk terhadap KPU.

    “Artinya mereka tidak menyelahkan pihak KPU dan menganggap apa yang terjadi ini adalah musibah,” jelasnya. 

    KPU juga sampai saat ini belum menerima keterangan pasti terkait dengan diagnosa para korban dari pihak rumah sakit. “Ketika kita bertemu dengan perawat, mereka tidak bersedia menyampaikan hasil labnya,” ungkap Dwi.

    Rumah sakit yang menjadi tujuan korban di antaranya ialah Rumah Sakit Tentara, Rumah Sakit Medika Citra (SMC), dan Rumah Sakit Dirgahayu. Namun Dwi juga menjelaskan, tidak semua korban itu dilarikan ke rumah sakit. Ada yang melakukan perawatan mandiri, ke Puskesmas atau melakukan rawat jalan. 
    “Awalnya itu ada 43 orang. Kemudian kami menyampaikan kepada PPS agar KPPS yang mengalami gejala seperti teman yang lain agar dilaporkan kepada Faskes terdekat. Sehingga total menjadi 70,” jelas Dwi.

    Lebih lanjut Dwi menjelaskan jika dari jumlah korban 70 orang itu tidak hanya terdiri dari anggota KPPS saja, tapi juga termasuk dari keluarga anggota KPPS. Terkait dengan perincian datanya, Dwi bilang pihaknya masih belum bisa memastikan jumlahnya.

    Sampai berita ini diterbitkan, Dwi bilang para korban sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Sehingga ia dan pihaknya masih menunggu perkembangan selanjutnya terkait dengan para korban, apakah masih ingin bertahan sebagai anggota KPPS atau tidak. 

    Namun besar harapannya, Dwi ingin agar para korban ini tetap bisa melanjutkan tugasnya sebagai anggota KPPS jika sudah dalam keadaan yang benar-benar pulih. Dalam waktu dekat ini Dwi mengatakan, pihaknya akan kembali mengunjungi para korban.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Setelah Heboh Keracunan saat Pelantikan, Belum Ada Anggota KPPS Sambutan yang Mengundurkan Diri

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    01 Februari 2024 pukul 19:22 WITA

    Komisioner KPU Samarinda, Dwi Haryono saat ditemui Seputar Fakta di ruangannya, Kamis (1/2/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Sepekan  berlalu selepas pelantikan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kecamatan Sambutan Kota Samarinda, yang menghebohkan dengan adanya insiden keracunan. Namun, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Samarinda belum menerima adanya anggota KPPS yang mundur. 

    “Sampai saat ini belum ada informasi itu. Belum ada yang bilang mundur,” ucap Dwi Haryono, Komisioner KPU Samarinda pada Seputar Fakta saat ditemui di ruangannya, Kamis (1/2/2024).

    Dwi bercerita, pada saat ia menjenguk korban di rumah sakit, para korban  tetap optimis ingin cepat sembuh dan bergabung kembali dengan anggota KPPS lainnya untuk bertugas. Sehingga Dwi menganggap tidak ada anggapan buruk terhadap KPU.

    “Artinya mereka tidak menyelahkan pihak KPU dan menganggap apa yang terjadi ini adalah musibah,” jelasnya. 

    KPU juga sampai saat ini belum menerima keterangan pasti terkait dengan diagnosa para korban dari pihak rumah sakit. “Ketika kita bertemu dengan perawat, mereka tidak bersedia menyampaikan hasil labnya,” ungkap Dwi.

    Rumah sakit yang menjadi tujuan korban di antaranya ialah Rumah Sakit Tentara, Rumah Sakit Medika Citra (SMC), dan Rumah Sakit Dirgahayu. Namun Dwi juga menjelaskan, tidak semua korban itu dilarikan ke rumah sakit. Ada yang melakukan perawatan mandiri, ke Puskesmas atau melakukan rawat jalan. 
    “Awalnya itu ada 43 orang. Kemudian kami menyampaikan kepada PPS agar KPPS yang mengalami gejala seperti teman yang lain agar dilaporkan kepada Faskes terdekat. Sehingga total menjadi 70,” jelas Dwi.

    Lebih lanjut Dwi menjelaskan jika dari jumlah korban 70 orang itu tidak hanya terdiri dari anggota KPPS saja, tapi juga termasuk dari keluarga anggota KPPS. Terkait dengan perincian datanya, Dwi bilang pihaknya masih belum bisa memastikan jumlahnya.

    Sampai berita ini diterbitkan, Dwi bilang para korban sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Sehingga ia dan pihaknya masih menunggu perkembangan selanjutnya terkait dengan para korban, apakah masih ingin bertahan sebagai anggota KPPS atau tidak. 

    Namun besar harapannya, Dwi ingin agar para korban ini tetap bisa melanjutkan tugasnya sebagai anggota KPPS jika sudah dalam keadaan yang benar-benar pulih. Dalam waktu dekat ini Dwi mengatakan, pihaknya akan kembali mengunjungi para korban.

    (Sf/Rs)