Seputar Kaltim

    Setelah 6 Tahun Berlalu, Pemuda Loa Janan Suarakan Kembali "1.000 Lampu untuk Jembatan Mahulu"

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    30 Januari 2026 pukul 15:15 WITA

    Jembatan Mahulu dulunya pernah manjadi saksi protes pemuda Loa Janan, kini digelorakan kembali. (Foto: Dok.Kopelan)

    Samarinda - Aksi protes 1.000 Lilin enam tahun silam yang dilakukan Kolaborasi Pemuda Loa Janan (Kopelan) kala itu menyoroti gelapnya Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Kini, setelah sewindu lebih berlalu, seruan itu kembali terdengar.


    Pemuda Loa Janan kembali menyuarakan gerakan #1000LampuUntukJembatanMahulu. Hal ini dipicu oleh kondisi jembatan yang dinilai masih dianaktirikan, minim penerangan, jalan berlubang, hingga insiden jembatan yang sudah tiga kali ditabrak tongkang (ponton) batu bara.


    Desakan Evaluasi Total Freijae Rakasiwi, tokoh pemuda Loa Janan yang dulunya memotori aksi Kopelan, kini kembali turun gunung menyuarakan keresahan warga. 


    Ia menegaskan bahwa insiden penabrakan pilar jembatan adalah alarm bahaya yang tidak boleh diabaikan.


    "Pastinya kejadian ditabraknya Jembatan Mahulu oleh ponton tentu harus ada evaluasi terkait jam lalu lintas di sungai dan penertiban, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi," ujar Freijae dihubungi di Samarinda, Jum’at (30/1/2026).


    Bukan Sekadar Ganti Lampu Menurut Freijae, seruan 1.000 Lampu kali ini memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya soal penerangan, tetapi menuntut #PerbaikanTotalJembatanMahulu.


    "Sebagai anak muda Loa Janan, kami tentunya menginginkan perbaikan total secara berkala. Bukan hanya sekadar penerangan yang maksimal atau pengecatan, tapi secara keseluruhan. Saat ini kondisi jembatan sangat minim pencahayaan dan beberapa titik jalan berlubang," jelasnya.


    Menolak Lupa Freijae mengingatkan bahwa gerakan #1000LampuUntukJembatanMahulu yang dilakukan pada 2019 adalah bukti kepedulian masyarakat yang belum terbalas dengan perbaikan nyata hingga kini.


    "Enam tahun sudah, dan Jembatan Mahulu masih belum ada perbaikan secara total berkelanjutan," keluhnya.


    Ia berharap gerakan ini kembali digalakkan agar pemerintah segera bertindak. Tujuannya jelas yakni agar arus distribusi barang normal, masyarakat melintas tanpa rasa cemas, dan keindahan Jembatan Mahulu bisa dinikmati kembali di malam hari.


    "Perbaikan harus dilakukan segera agar masyarakat yang melintas aman tanpa rasa cemas," tutup Freijae.


    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Setelah 6 Tahun Berlalu, Pemuda Loa Janan Suarakan Kembali "1.000 Lampu untuk Jembatan Mahulu"

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    30 Januari 2026 pukul 15:15 WITA

    Jembatan Mahulu dulunya pernah manjadi saksi protes pemuda Loa Janan, kini digelorakan kembali. (Foto: Dok.Kopelan)

    Samarinda - Aksi protes 1.000 Lilin enam tahun silam yang dilakukan Kolaborasi Pemuda Loa Janan (Kopelan) kala itu menyoroti gelapnya Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Kini, setelah sewindu lebih berlalu, seruan itu kembali terdengar.


    Pemuda Loa Janan kembali menyuarakan gerakan #1000LampuUntukJembatanMahulu. Hal ini dipicu oleh kondisi jembatan yang dinilai masih dianaktirikan, minim penerangan, jalan berlubang, hingga insiden jembatan yang sudah tiga kali ditabrak tongkang (ponton) batu bara.


    Desakan Evaluasi Total Freijae Rakasiwi, tokoh pemuda Loa Janan yang dulunya memotori aksi Kopelan, kini kembali turun gunung menyuarakan keresahan warga. 


    Ia menegaskan bahwa insiden penabrakan pilar jembatan adalah alarm bahaya yang tidak boleh diabaikan.


    "Pastinya kejadian ditabraknya Jembatan Mahulu oleh ponton tentu harus ada evaluasi terkait jam lalu lintas di sungai dan penertiban, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi," ujar Freijae dihubungi di Samarinda, Jum’at (30/1/2026).


    Bukan Sekadar Ganti Lampu Menurut Freijae, seruan 1.000 Lampu kali ini memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya soal penerangan, tetapi menuntut #PerbaikanTotalJembatanMahulu.


    "Sebagai anak muda Loa Janan, kami tentunya menginginkan perbaikan total secara berkala. Bukan hanya sekadar penerangan yang maksimal atau pengecatan, tapi secara keseluruhan. Saat ini kondisi jembatan sangat minim pencahayaan dan beberapa titik jalan berlubang," jelasnya.


    Menolak Lupa Freijae mengingatkan bahwa gerakan #1000LampuUntukJembatanMahulu yang dilakukan pada 2019 adalah bukti kepedulian masyarakat yang belum terbalas dengan perbaikan nyata hingga kini.


    "Enam tahun sudah, dan Jembatan Mahulu masih belum ada perbaikan secara total berkelanjutan," keluhnya.


    Ia berharap gerakan ini kembali digalakkan agar pemerintah segera bertindak. Tujuannya jelas yakni agar arus distribusi barang normal, masyarakat melintas tanpa rasa cemas, dan keindahan Jembatan Mahulu bisa dinikmati kembali di malam hari.


    "Perbaikan harus dilakukan segera agar masyarakat yang melintas aman tanpa rasa cemas," tutup Freijae.


    (Sf/Lo)