Sempat Tembus Rp200 Ribu Per Kg, Harga Cabai di Kutim Turun Jadi Rp75 Ribu per Kg, Pasokan kembali Normal

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    28 Maret 2026 12:25 WIB

    Ilustrasi Cabai (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Harga cabai di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai turun setelah sempat melonjak tinggi pasca Lebaran 2026. Ketersediaan pasokan dari luar daerah dan panen lokal yang kembali normal menjadi faktor utama turunnya harga di pasaran.

    Berdasarkan pantauan di pasar tradisional, harga cabai yang sebelumnya sempat menembus lebih dari Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp75 ribu per kilogram.

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadhani, menyampaikan kenaikan harga sebelumnya disebabkan terbatasnya pasokan dari daerah penghasil.

    “Memang kemarin sempat melonjak drastis hingga di atas Rp200 ribu per kilogram karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi kosong akibat gagal panen, sementara produksi lokal hanya mampu mencukupi sekitar 30 persen kebutuhan daerah,” ujar Nora.

    Ia menjelaskan, kondisi tersebut kini mulai membaik seiring kembali lancarnya distribusi logistik dari luar daerah serta meningkatnya pasokan di tingkat pedagang.

    Nora mengatakan, Disperindag terus melakukan pemantauan terhadap harga bahan pokok penting (bapokting) untuk memastikan stabilitas harga di pasaran.

    "Kami akan terus memantau pergerakan harga setiap hari agar jika terjadi anomali, langkah intervensi pasar seperti operasi pasar murah dapat segera dilakukan untuk melindungi daya beli masyarakat," katanya.

    Sementara itu, Petugas Bapokting Pasar Induk Sangatta, Yeni, menyebutkan harga cabai rawit pada 25 Maret 2026 sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram, sedangkan cabai tiung berada di kisaran Rp115 ribu per kilogram.

    "Harga cabai sudah turun lagi menjadi Rp75 ribu per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan dua hari lalu saat stok benar-benar terbatas di tingkat pedagang," jelas Yeni.

    Penurunan harga ini disambut baik oleh para pedagang. Mereka mengaku kini lebih mudah menjual dagangan dibandingkan saat harga masih tinggi.

    Pemerintah daerah berharap harga cabai yang mulai stabil ini bisa bertahan. Koordinasi dengan distributor terus dilakukan agar pasokan tetap lancar dan tidak terganggu cuaca maupun biaya logistik.

    Selain itu, pemerintah mendorong peningkatan produksi petani lokal agar tidak bergantung pada pasokan luar daerah. Jika harga kembali naik, operasi pasar akan dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Sempat Tembus Rp200 Ribu Per Kg, Harga Cabai di Kutim Turun Jadi Rp75 Ribu per Kg, Pasokan kembali Normal

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    28 Maret 2026 12:25 WIB

    Ilustrasi Cabai (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Harga cabai di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai turun setelah sempat melonjak tinggi pasca Lebaran 2026. Ketersediaan pasokan dari luar daerah dan panen lokal yang kembali normal menjadi faktor utama turunnya harga di pasaran.

    Berdasarkan pantauan di pasar tradisional, harga cabai yang sebelumnya sempat menembus lebih dari Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp75 ribu per kilogram.

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadhani, menyampaikan kenaikan harga sebelumnya disebabkan terbatasnya pasokan dari daerah penghasil.

    “Memang kemarin sempat melonjak drastis hingga di atas Rp200 ribu per kilogram karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi kosong akibat gagal panen, sementara produksi lokal hanya mampu mencukupi sekitar 30 persen kebutuhan daerah,” ujar Nora.

    Ia menjelaskan, kondisi tersebut kini mulai membaik seiring kembali lancarnya distribusi logistik dari luar daerah serta meningkatnya pasokan di tingkat pedagang.

    Nora mengatakan, Disperindag terus melakukan pemantauan terhadap harga bahan pokok penting (bapokting) untuk memastikan stabilitas harga di pasaran.

    "Kami akan terus memantau pergerakan harga setiap hari agar jika terjadi anomali, langkah intervensi pasar seperti operasi pasar murah dapat segera dilakukan untuk melindungi daya beli masyarakat," katanya.

    Sementara itu, Petugas Bapokting Pasar Induk Sangatta, Yeni, menyebutkan harga cabai rawit pada 25 Maret 2026 sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram, sedangkan cabai tiung berada di kisaran Rp115 ribu per kilogram.

    "Harga cabai sudah turun lagi menjadi Rp75 ribu per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan dua hari lalu saat stok benar-benar terbatas di tingkat pedagang," jelas Yeni.

    Penurunan harga ini disambut baik oleh para pedagang. Mereka mengaku kini lebih mudah menjual dagangan dibandingkan saat harga masih tinggi.

    Pemerintah daerah berharap harga cabai yang mulai stabil ini bisa bertahan. Koordinasi dengan distributor terus dilakukan agar pasokan tetap lancar dan tidak terganggu cuaca maupun biaya logistik.

    Selain itu, pemerintah mendorong peningkatan produksi petani lokal agar tidak bergantung pada pasokan luar daerah. Jika harga kembali naik, operasi pasar akan dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

    (Sf/Rs)