Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua DPRD Kutim, Jimmi (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi mengajak masyarakat untuk mulai menanam cabai sejak dini sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi lonjakan harga menjelang Hari Raya Iduladha.
Menurutnya pengalaman kenaikan harga cabai menjelang Idulfitri lalu harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
Jimmi menyebut harga cabai sempat melonjak hingga Rp180.000 per kilogram sebelum lebaran dan berdampak cukup berat bagi pedagang.
“Kalau kita sudah bisa memprediksi kenaikan harga, maka harus didorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan dan mulai menanam cabai,” ujar Jimmi.
Ia mengatakan gerakan menanam cabai secara mandiri dapat menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas harga sekaligus menekan laju inflasi daerah.
“Kalau dilakukan bersama-sama, tentu dampak inflasi tidak akan terlalu besar,” tambahnya.
Jimmi menjelaskan selama ini salah satu kendala yang dihadapi adalah kurangnya kesiapan masyarakat untuk menanam cabai sebelum momentum hari besar keagamaan. Padahal masa tanam cabai relatif singkat, yakni sekitar dua sampai tiga bulan hingga panen.
“Tidak lama lagi kita menghadapi lebaran haji. Artinya kalau ingin panen tepat waktu, maka dari sekarang harus mulai digencarkan penanaman, baik cabai rawit maupun keriting,” jelasnya.
Ia pun mendorong pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih aktif dalam memberikan edukasi dan dukungan kepada masyarakat, termasuk penyediaan bibit dan pendampingan pertanian.
“Kita berharap pemerintah juga mendorong sektor pertanian, khususnya komoditas cabai,” pungkasnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi, sehingga harga cabai di Kutim lebih stabil ke depan.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua DPRD Kutim, Jimmi (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi mengajak masyarakat untuk mulai menanam cabai sejak dini sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi lonjakan harga menjelang Hari Raya Iduladha.
Menurutnya pengalaman kenaikan harga cabai menjelang Idulfitri lalu harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
Jimmi menyebut harga cabai sempat melonjak hingga Rp180.000 per kilogram sebelum lebaran dan berdampak cukup berat bagi pedagang.
“Kalau kita sudah bisa memprediksi kenaikan harga, maka harus didorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan dan mulai menanam cabai,” ujar Jimmi.
Ia mengatakan gerakan menanam cabai secara mandiri dapat menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas harga sekaligus menekan laju inflasi daerah.
“Kalau dilakukan bersama-sama, tentu dampak inflasi tidak akan terlalu besar,” tambahnya.
Jimmi menjelaskan selama ini salah satu kendala yang dihadapi adalah kurangnya kesiapan masyarakat untuk menanam cabai sebelum momentum hari besar keagamaan. Padahal masa tanam cabai relatif singkat, yakni sekitar dua sampai tiga bulan hingga panen.
“Tidak lama lagi kita menghadapi lebaran haji. Artinya kalau ingin panen tepat waktu, maka dari sekarang harus mulai digencarkan penanaman, baik cabai rawit maupun keriting,” jelasnya.
Ia pun mendorong pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih aktif dalam memberikan edukasi dan dukungan kepada masyarakat, termasuk penyediaan bibit dan pendampingan pertanian.
“Kita berharap pemerintah juga mendorong sektor pertanian, khususnya komoditas cabai,” pungkasnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi, sehingga harga cabai di Kutim lebih stabil ke depan.
(Sf/Lo)