Seputar Kaltim

    Selisih Harga Makin Jauh, Pemkab PPU Soroti Tekanan pada Kuota Pertalite

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    14 Juni 2026 pukul 14:40 WITA

    Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Kenaikan harga Pertamax membuat Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) mulai menghitung dampak lanjutan terhadap konsumsi BBM subsidi. Selisih harga yang makin lebar dinilai bisa mendorong pengguna beralih ke Pertalite.

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro mengatakan perbedaan harga yang kini mencapai sekitar Rp6 ribu membuka peluang masyarakat beralih ke BBM dengan harga lebih rendah.

    "Awalnya selisih sekitar Rp2 ribu, sekarang sudah sekitar Rp6 ribu. Ini memungkinkan terjadi pergeseran penggunaan BBM," kata Hadi.

    Menurut dia, kondisi tersebut dapat memberi tekanan terhadap konsumsi Pertalite yang kuotanya telah ditetapkan pemerintah.

    "Pertalite yang merupakan BBM penugasan bisa semakin banyak dicari. Kalau kebutuhan melebihi kuota, pemerintah tentu harus menghitung kembali pemenuhannya dan itu berpengaruh terhadap beban subsidi," ujarnya.

    Hadi menyebut gejala peralihan mulai terlihat dari aktivitas di SPBU. Antrean pada dispenser Pertalite disebut cenderung meningkat, sementara konsumsi Pertamax mulai menurun setelah penyesuaian harga.

    Pemkab PPU juga mewaspadai potensi penyalahgunaan distribusi BBM subsidi di lapangan.

    "Pengawasan akan diperketat supaya penggunaannya sesuai peruntukan dan tidak terjadi penimbunan ataupun praktik yang memengaruhi distribusi," ucapnya.

    Selain itu, ia menilai penjualan BBM di tingkat eceran juga perlu tetap mengikuti ketentuan harga yang berlaku.

    "Kami memang tidak mengatur harga eceran, tetapi pelaksanaannya semestinya tetap sesuai ketentuan pemerintah," tutup Hadi.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Selisih Harga Makin Jauh, Pemkab PPU Soroti Tekanan pada Kuota Pertalite

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    14 Juni 2026 pukul 14:40 WITA

    Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Kenaikan harga Pertamax membuat Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) mulai menghitung dampak lanjutan terhadap konsumsi BBM subsidi. Selisih harga yang makin lebar dinilai bisa mendorong pengguna beralih ke Pertalite.

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro mengatakan perbedaan harga yang kini mencapai sekitar Rp6 ribu membuka peluang masyarakat beralih ke BBM dengan harga lebih rendah.

    "Awalnya selisih sekitar Rp2 ribu, sekarang sudah sekitar Rp6 ribu. Ini memungkinkan terjadi pergeseran penggunaan BBM," kata Hadi.

    Menurut dia, kondisi tersebut dapat memberi tekanan terhadap konsumsi Pertalite yang kuotanya telah ditetapkan pemerintah.

    "Pertalite yang merupakan BBM penugasan bisa semakin banyak dicari. Kalau kebutuhan melebihi kuota, pemerintah tentu harus menghitung kembali pemenuhannya dan itu berpengaruh terhadap beban subsidi," ujarnya.

    Hadi menyebut gejala peralihan mulai terlihat dari aktivitas di SPBU. Antrean pada dispenser Pertalite disebut cenderung meningkat, sementara konsumsi Pertamax mulai menurun setelah penyesuaian harga.

    Pemkab PPU juga mewaspadai potensi penyalahgunaan distribusi BBM subsidi di lapangan.

    "Pengawasan akan diperketat supaya penggunaannya sesuai peruntukan dan tidak terjadi penimbunan ataupun praktik yang memengaruhi distribusi," ucapnya.

    Selain itu, ia menilai penjualan BBM di tingkat eceran juga perlu tetap mengikuti ketentuan harga yang berlaku.

    "Kami memang tidak mengatur harga eceran, tetapi pelaksanaannya semestinya tetap sesuai ketentuan pemerintah," tutup Hadi.

    (Sf/Rs)