Selama 20 Tahun Setia di Jalan Antasari, Kisah Pak Rahman dan Manisnya Rezeki Ketupat Idulfitri

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    21 Maret 2026 12:46 WIB

    Usaha Ketupat Bapak Rahman yang ada di Jalan antasari. (Foto: Kolase oleh seputarfakta.com)(

    Samarinda - Momentum Hari Raya Idulfitri tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi bagi para pedagang musiman.

    Pemandangan ini sangat terasa di kawasan Jalan Antasari, Samarinda, yang mendadak berubah menjadi sentra pedagang ragam sajian khas Lebaran.

    Di sepanjang jalan ini, deretan lapak pedagang menawarkan lontong, ketupat, buras, hingga lepat. Di antara ramainya hiruk-pikuk penjual dan pembeli, terdapat Bapak Rahman, salah satu pedagang veteran yang telah menggantungkan rezekinya di momen ini selama hampir dua dekade.

    "Waduh, sudah lama sekali. Hampir 20 tahun saya berjualan di sini," ungkap Pak Rahman saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan.

    Bukan tanpa alasan kawasan Jalan Antasari selalu dipadati penjual seperti Pak Rahman setiap kali perayaan Idulfitri tiba. Permintaan masyarakat terhadap makanan praktis dan otentik untuk melengkapi hidangan meja makan sangat tinggi.

    Konsistensi selama 20 tahun tersebut pun terbayar lunas. Pak Rahman mengaku, seiring bertambahnya populasi penduduk di Samarinda, jumlah pembelinya dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

    Setiap harinya, lapak-lapak di Jalan Antasari tak pernah sepi. Puncak keramaian biasanya terjadi pada dua waktu, yakni di pagi hari dan selepas waktu Asar.

    Dengan harga yang ramah di kantong, mulai dari Rp5.000 untuk lontong, hingga kisaran Rp15.000 sampai Rp20.000 untuk ketupat, dagangan mereka selalu ludes tak tersisa dan harus diperbarui keesokan harinya.

    Menjual makanan matang dari pagi hingga sore tentu memunculkan pertanyaan mengenai kualitas simpannya. Namun, ketupat memang dikenal memiliki daya tahan yang cukup tangguh.

    Selongsong anyaman daun kelapa muda (janur) yang digunakan ternyata berfungsi sebagai pengawet alami yang membuat sirkulasi udara tetap terjaga.

    Selain itu, cara penyimpanan dengan digantung membuat sisa air rebusan pada ketupat turun dan menetes, sehingga ketupat tidak cepat basi atau berlendir.

    Secara literatur kuliner, ketupat yang digantung di suhu ruang bisa bertahan hingga dua hari. Untuk menyiasati agar ketupat bisa tahan lebih lama lagi, para penjual atau pembeli biasanya cukup menghangatkannya kembali dengan cara dikukus selama beberapa menit.

    Daya tahan ketupat yang baik ini sejalan dengan tradisi masyarakat. Kelezatan sajian khas Lebaran di Jalan Antasari ini tidak hanya diburu pada hari pertama atau kedua Idulfitri. Para pedagang memastikan lapak mereka akan terus mengepul dan melayani pembeli hingga sepekan lamanya.

    "Biasanya orang mencari sampai Lebaran Ketupat, jadi kira-kira berjualan sampai tujuh harian," pungkas Pak Rahman.

    Kehadiran puluhan pedagang di Jalan Antasari ini tidak sekadar memudahkan warga Samarinda dalam menyiapkan hidangan Lebaran, tetapi juga merawat roda ekonomi dan tradisi kuliner yang selalu dirindukan setiap tahunnya.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Selama 20 Tahun Setia di Jalan Antasari, Kisah Pak Rahman dan Manisnya Rezeki Ketupat Idulfitri

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    21 Maret 2026 12:46 WIB

    Usaha Ketupat Bapak Rahman yang ada di Jalan antasari. (Foto: Kolase oleh seputarfakta.com)(

    Samarinda - Momentum Hari Raya Idulfitri tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi bagi para pedagang musiman.

    Pemandangan ini sangat terasa di kawasan Jalan Antasari, Samarinda, yang mendadak berubah menjadi sentra pedagang ragam sajian khas Lebaran.

    Di sepanjang jalan ini, deretan lapak pedagang menawarkan lontong, ketupat, buras, hingga lepat. Di antara ramainya hiruk-pikuk penjual dan pembeli, terdapat Bapak Rahman, salah satu pedagang veteran yang telah menggantungkan rezekinya di momen ini selama hampir dua dekade.

    "Waduh, sudah lama sekali. Hampir 20 tahun saya berjualan di sini," ungkap Pak Rahman saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan.

    Bukan tanpa alasan kawasan Jalan Antasari selalu dipadati penjual seperti Pak Rahman setiap kali perayaan Idulfitri tiba. Permintaan masyarakat terhadap makanan praktis dan otentik untuk melengkapi hidangan meja makan sangat tinggi.

    Konsistensi selama 20 tahun tersebut pun terbayar lunas. Pak Rahman mengaku, seiring bertambahnya populasi penduduk di Samarinda, jumlah pembelinya dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

    Setiap harinya, lapak-lapak di Jalan Antasari tak pernah sepi. Puncak keramaian biasanya terjadi pada dua waktu, yakni di pagi hari dan selepas waktu Asar.

    Dengan harga yang ramah di kantong, mulai dari Rp5.000 untuk lontong, hingga kisaran Rp15.000 sampai Rp20.000 untuk ketupat, dagangan mereka selalu ludes tak tersisa dan harus diperbarui keesokan harinya.

    Menjual makanan matang dari pagi hingga sore tentu memunculkan pertanyaan mengenai kualitas simpannya. Namun, ketupat memang dikenal memiliki daya tahan yang cukup tangguh.

    Selongsong anyaman daun kelapa muda (janur) yang digunakan ternyata berfungsi sebagai pengawet alami yang membuat sirkulasi udara tetap terjaga.

    Selain itu, cara penyimpanan dengan digantung membuat sisa air rebusan pada ketupat turun dan menetes, sehingga ketupat tidak cepat basi atau berlendir.

    Secara literatur kuliner, ketupat yang digantung di suhu ruang bisa bertahan hingga dua hari. Untuk menyiasati agar ketupat bisa tahan lebih lama lagi, para penjual atau pembeli biasanya cukup menghangatkannya kembali dengan cara dikukus selama beberapa menit.

    Daya tahan ketupat yang baik ini sejalan dengan tradisi masyarakat. Kelezatan sajian khas Lebaran di Jalan Antasari ini tidak hanya diburu pada hari pertama atau kedua Idulfitri. Para pedagang memastikan lapak mereka akan terus mengepul dan melayani pembeli hingga sepekan lamanya.

    "Biasanya orang mencari sampai Lebaran Ketupat, jadi kira-kira berjualan sampai tujuh harian," pungkas Pak Rahman.

    Kehadiran puluhan pedagang di Jalan Antasari ini tidak sekadar memudahkan warga Samarinda dalam menyiapkan hidangan Lebaran, tetapi juga merawat roda ekonomi dan tradisi kuliner yang selalu dirindukan setiap tahunnya.

    (Sf/Rs)