Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi jagung. (Freepik)
Tanjung Redeb - Kepala Perusahaan Umum (Perum) Bulog Berau, Lucky Ali Akbar mengatakan bahwa tahun ini Perum Bulog Berau selain gabah, mulai melirik jagung pipil kering sebagai komoditas strategis yang akan diserap dari para petani lokal.
"Langkah ini difokuskan pada wilayah sentra produksi jagung yang dikenal sebagai lumbung jagung seperti yang ada di Kecamatan Talisayan," ujar Lucky.
Ia pun menyampaikan bahwa penyerapan gabah dan jagung tersebut merupakan bagian dari program nasional yang di dorong oleh pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani. Oleh karena itu, pemerintah pun telah menetapkan harga yang di berlakukan secara nasional.
"Pemerintah telah menetapkan harga acuan pembelian, yaitu Rp 6.500 per kilogram untuk gabah dan Rp 5.500 per kilogram untuk jagung pipil kering. Diharapkan harga ini juga diikuti oleh pelaku usaha swasta yang di Berau," katanya.
Sementara itu, pihaknya pun telah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak yang dinilai punya peran penting dalam memperlancar distribusi dan pengumpulan hasil panen guna menyukseskan penyerapan komoditas tersebut.
"Kerja sama telah dijalin dengan sejumlah Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) dan pelaku usaha swasta," tuturnya.
Kendati demikian, ia pun menyoroti harga jagung di tingkat petani seperti di Talisayan yang selama ini kerap berada di bawah rata-rata seperti harga Rp 4.700 sampai Rp 4.800 per kilogram.
"Jadi, dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan harga pembelian Rp 5.500. Saya harap para petani akan semakin terdorong untuk meningkatkan produksi," ujarnya.
Dirinya juga berharap program penyerapan ini tidak hanya menjaga ketahanan pangan daerah. Namun, benar-benar memberikan dampak positif terhadap ekonomi para petani lokal di Berau.
"Itu yang sedang kita dorong bersama," katanya.
Namun, Lucky menyampaikan, meskipun Kabupaten Berau memiliki potensi yang sangat menjanjikan dari sisi produksi, namun salah satu tantangannya yakni masih terbatasnya infrastruktur pascapanen sehingga kondisi tersebut berisiko membuat penyerapan komoditas tersebut tidak optimal.
"Kami berharap ada perhatian lebih terhadap infrastruktur pascapanen seperti gudang penyimpanan, pengeringan, hingga penggilingan," tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi jagung. (Freepik)
Tanjung Redeb - Kepala Perusahaan Umum (Perum) Bulog Berau, Lucky Ali Akbar mengatakan bahwa tahun ini Perum Bulog Berau selain gabah, mulai melirik jagung pipil kering sebagai komoditas strategis yang akan diserap dari para petani lokal.
"Langkah ini difokuskan pada wilayah sentra produksi jagung yang dikenal sebagai lumbung jagung seperti yang ada di Kecamatan Talisayan," ujar Lucky.
Ia pun menyampaikan bahwa penyerapan gabah dan jagung tersebut merupakan bagian dari program nasional yang di dorong oleh pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani. Oleh karena itu, pemerintah pun telah menetapkan harga yang di berlakukan secara nasional.
"Pemerintah telah menetapkan harga acuan pembelian, yaitu Rp 6.500 per kilogram untuk gabah dan Rp 5.500 per kilogram untuk jagung pipil kering. Diharapkan harga ini juga diikuti oleh pelaku usaha swasta yang di Berau," katanya.
Sementara itu, pihaknya pun telah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak yang dinilai punya peran penting dalam memperlancar distribusi dan pengumpulan hasil panen guna menyukseskan penyerapan komoditas tersebut.
"Kerja sama telah dijalin dengan sejumlah Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) dan pelaku usaha swasta," tuturnya.
Kendati demikian, ia pun menyoroti harga jagung di tingkat petani seperti di Talisayan yang selama ini kerap berada di bawah rata-rata seperti harga Rp 4.700 sampai Rp 4.800 per kilogram.
"Jadi, dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan harga pembelian Rp 5.500. Saya harap para petani akan semakin terdorong untuk meningkatkan produksi," ujarnya.
Dirinya juga berharap program penyerapan ini tidak hanya menjaga ketahanan pangan daerah. Namun, benar-benar memberikan dampak positif terhadap ekonomi para petani lokal di Berau.
"Itu yang sedang kita dorong bersama," katanya.
Namun, Lucky menyampaikan, meskipun Kabupaten Berau memiliki potensi yang sangat menjanjikan dari sisi produksi, namun salah satu tantangannya yakni masih terbatasnya infrastruktur pascapanen sehingga kondisi tersebut berisiko membuat penyerapan komoditas tersebut tidak optimal.
"Kami berharap ada perhatian lebih terhadap infrastruktur pascapanen seperti gudang penyimpanan, pengeringan, hingga penggilingan," tandasnya.
(Sf/Rs)