Cari disini...
Seputar Kaltim
Upaya petugas BPBD Kota Balikpapan saat melakukan pemadaman api di kawasan Balikpapan Selatan. (Foto: tangkapan layar/seputarfakta.com)
Balikpapan – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Balikpapan disebut kerap bermula dari kawasan pinggir jalan sebelum merambat ke semak dan kawasan hutan. Kondisi cuaca serta embusan angin membuat api lebih mudah membesar dan menjalar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan, Usman Ali mengatakan, pola tersebut banyak ditemukan dalam penanganan karhutla, terutama di Balikpapan Timur (Baltim).
Menurutnya, aktivitas manusia diduga menjadi salah satu pemicu kebakaran. Di antaranya puntung rokok yang dibuang sembarangan serta aktivitas membakar sampah tanpa pengawasan.
“Indikasinya masyarakat membuang puntung rokok atau ada penyebab lain. Kebakaran kerap diawali dari pinggir jalan sebelum akhirnya merambat masuk ke dalam hutan,” kata Usman saat ditemui awak media, Selasa (29/9/2026).
Baltim menjadi salah satu wilayah dengan kejadian karhutla yang cukup tinggi. Dalam sehari, kebakaran bahkan dapat terjadi hingga enam kali di lokasi berbeda.
Secara keseluruhan, BPBD Balikpapan mencatat lebih dari 50 titik karhutla sejak Agustus 2026. Luasan lahan yang terbakar dalam setiap kejadian rata-rata mencapai dua hingga empat hektare.
“Selain Baltim, kebakaran juga banyak ditemukan di Balikpapan Barat (Balbar) dan Balikpapan Selatan (Balsel),” jelasnya.
Penanganan kebakaran di sejumlah lokasi menghadapi kendala akses. Beberapa titik api berada di kawasan dengan jalan sempit dan terjal, sehingga kendaraan pemadam berukuran besar tidak dapat masuk hingga ke lokasi.
Kondisi tersebut membuat petugas harus mencari cara lain untuk memadamkan api. Penggunaan pemukul api, misalnya, dinilai belum selalu efektif ketika angin kembali bertiup kencang.
“Jika menggunakan pemukul api, hasilnya kurang maksimal karena begitu angin kencang bertiup, api bisa muncul kembali,” imbuhnya.
Untuk mengatasi keterbatasan akses dan armada, BPBD Balikpapan memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk kepolisian dan perusahaan swasta.
Di Baltim, sejumlah perusahaan membantu menyediakan pasokan air untuk mendukung pemadaman, meski tidak memiliki armada pemadam kebakaran.
“Sementara di kawasan Kariangau, Balbar, perusahaan setempat turut mengerahkan armada pemadam milik mereka ke lokasi kebakaran,” sambungnya.
BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di kawasan dengan vegetasi kering. Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak membakar lahan maupun sampah di sekitar tepi jalan tanpa pengawasan.
Upaya pencegahan dinilai penting untuk mengurangi munculnya titik api baru dan mencegah api meluas ke kawasan hutan dan lahan.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Upaya petugas BPBD Kota Balikpapan saat melakukan pemadaman api di kawasan Balikpapan Selatan. (Foto: tangkapan layar/seputarfakta.com)
Balikpapan – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Balikpapan disebut kerap bermula dari kawasan pinggir jalan sebelum merambat ke semak dan kawasan hutan. Kondisi cuaca serta embusan angin membuat api lebih mudah membesar dan menjalar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan, Usman Ali mengatakan, pola tersebut banyak ditemukan dalam penanganan karhutla, terutama di Balikpapan Timur (Baltim).
Menurutnya, aktivitas manusia diduga menjadi salah satu pemicu kebakaran. Di antaranya puntung rokok yang dibuang sembarangan serta aktivitas membakar sampah tanpa pengawasan.
“Indikasinya masyarakat membuang puntung rokok atau ada penyebab lain. Kebakaran kerap diawali dari pinggir jalan sebelum akhirnya merambat masuk ke dalam hutan,” kata Usman saat ditemui awak media, Selasa (29/9/2026).
Baltim menjadi salah satu wilayah dengan kejadian karhutla yang cukup tinggi. Dalam sehari, kebakaran bahkan dapat terjadi hingga enam kali di lokasi berbeda.
Secara keseluruhan, BPBD Balikpapan mencatat lebih dari 50 titik karhutla sejak Agustus 2026. Luasan lahan yang terbakar dalam setiap kejadian rata-rata mencapai dua hingga empat hektare.
“Selain Baltim, kebakaran juga banyak ditemukan di Balikpapan Barat (Balbar) dan Balikpapan Selatan (Balsel),” jelasnya.
Penanganan kebakaran di sejumlah lokasi menghadapi kendala akses. Beberapa titik api berada di kawasan dengan jalan sempit dan terjal, sehingga kendaraan pemadam berukuran besar tidak dapat masuk hingga ke lokasi.
Kondisi tersebut membuat petugas harus mencari cara lain untuk memadamkan api. Penggunaan pemukul api, misalnya, dinilai belum selalu efektif ketika angin kembali bertiup kencang.
“Jika menggunakan pemukul api, hasilnya kurang maksimal karena begitu angin kencang bertiup, api bisa muncul kembali,” imbuhnya.
Untuk mengatasi keterbatasan akses dan armada, BPBD Balikpapan memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk kepolisian dan perusahaan swasta.
Di Baltim, sejumlah perusahaan membantu menyediakan pasokan air untuk mendukung pemadaman, meski tidak memiliki armada pemadam kebakaran.
“Sementara di kawasan Kariangau, Balbar, perusahaan setempat turut mengerahkan armada pemadam milik mereka ke lokasi kebakaran,” sambungnya.
BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di kawasan dengan vegetasi kering. Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak membakar lahan maupun sampah di sekitar tepi jalan tanpa pengawasan.
Upaya pencegahan dinilai penting untuk mengurangi munculnya titik api baru dan mencegah api meluas ke kawasan hutan dan lahan.
(Sf/Lo)