Seputar Kaltim

    Secuil Rezeki dari Proses Lipat Surat Suara Pilkada 2024

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    03 November 2024 pukul 13:59 WITA

    Petugas lipat surat suara yang terlihat menikmati pekerjaannya dengan riang, Sabtu. (2/11/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pelaksanaan Pilkada Serentak 2024, ternyata punya sisi lain. Dari riuhnya usaha para kandidat menarik hati rakyat, penyiapan logistik Pilkada tersimpan celah ekonomi yang jadi harapan ratusan bahkan ribuan orang, demi mengambil upah melipat kertas suara. 

    Menjadi pelipat surat suara untuk Pilkada Serentak 2024 bukanlah hal yang mudah, seperti yang dirasakan seorang ibu rumah tangga asal Loa Bakung, Nur Asikin. Di gudang logistik KPU Samarinda, Asikin bersama beberapa pekerja lainnya tengah sibuk melipat surat suara dengan teliti. Ini bukan pertama kalinya Asikin menjalani pekerjaan serupa, sebab sebelumnya ia juga berperan sebagai pelipat surat suara untuk Pemilu Serentak pada Februari 2024.

    Menurutnya, pekerjaan melipat surat suara kali ini terasa lebih rumit dibandingkan sebelumnya. “Menurut saya lebih susah yang Pilkada ini dibanding Pemilu kemarin, karena kertasnya lebih tipis dan kecil,” ungkapnya saat ditemui di Gudang Logistik KPU Samarinda, Sabtu (2/11/2024).

    Untuk mempercepat proses, para pelipat menumpuk beberapa surat suara lalu melipatnya bersamaan. Namun, cara ini juga membawa risiko, yaitu ada kemungkinan surat suara terlewat saat dipisahkan. 

    “Jadinya takut ada yang ter-double,” ujar Asikin.

    Bagi dia, pekerjaan ini tak hanya memberi penghasilan tambahan, tetapi juga memberikan pengalaman baru dan kesempatan berinteraksi dengan sesama pekerja. Para pekerja terlihat membentuk sebuah kelompok, terdiri dari empat hingga lima orang. Setiap lembar surat suara dihargai Rp220. Meskipun kecil, Asikin dan rekan-rekannya tetap semangat melipat kertas itu.

    Pantaun Seputar Fakta di lapangan, suasana di gudang logistik KPU pun tampak ceria. Para pelipat membawa bekal masing-masing dan kerap bercanda di sela-sela waktu melipat. Mereka bekerja di atas terpal hijau dengan ditemani kipas angin untuk mengusir panas Samarinda yang akhir-akhir ini cukup menyengat.

    “Biasa sehari kami bisa dapat 15 kotak, tiap kotak itu isinya sekitar dua ribu surat suara,” kata Asikin. 

    Selain melipat dengan tangan kosong secara manual, ada beberapa pelipat juga membawa botol, batu, dan selotip untuk memudahkan pekerjaan mereka hingga membuat tumpukan kertas itu terlipat dengan benar. 

    Menurutnya ini bukan sekadar pekerjaan melipat kertas, tetapi juga menjadi kesempatan menambah penghasilan, memperluas lingkaran pertemanan, dan tentunya, turut mendukung suksesnya pelaksanaan Pilkada Serentak 2024.

    Untuk diketahui juga, gudang logistik KPU yang digunakan kali ini berjarak dua bangunan dari lokasi pelipatan Pemilu sebelumnya. Fasilitas di gudang cukup lengkap dengan adanya toilet dan tempat salat di lantai dua. Tak jauh dari sana, beberapa pedagang kaki lima menjajakan makanan dan minuman, seperti es dan pentol rebus, yang jadi pengganjal perut para pelipat untuk mengisi tenaga.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Secuil Rezeki dari Proses Lipat Surat Suara Pilkada 2024

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    03 November 2024 pukul 13:59 WITA

    Petugas lipat surat suara yang terlihat menikmati pekerjaannya dengan riang, Sabtu. (2/11/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pelaksanaan Pilkada Serentak 2024, ternyata punya sisi lain. Dari riuhnya usaha para kandidat menarik hati rakyat, penyiapan logistik Pilkada tersimpan celah ekonomi yang jadi harapan ratusan bahkan ribuan orang, demi mengambil upah melipat kertas suara. 

    Menjadi pelipat surat suara untuk Pilkada Serentak 2024 bukanlah hal yang mudah, seperti yang dirasakan seorang ibu rumah tangga asal Loa Bakung, Nur Asikin. Di gudang logistik KPU Samarinda, Asikin bersama beberapa pekerja lainnya tengah sibuk melipat surat suara dengan teliti. Ini bukan pertama kalinya Asikin menjalani pekerjaan serupa, sebab sebelumnya ia juga berperan sebagai pelipat surat suara untuk Pemilu Serentak pada Februari 2024.

    Menurutnya, pekerjaan melipat surat suara kali ini terasa lebih rumit dibandingkan sebelumnya. “Menurut saya lebih susah yang Pilkada ini dibanding Pemilu kemarin, karena kertasnya lebih tipis dan kecil,” ungkapnya saat ditemui di Gudang Logistik KPU Samarinda, Sabtu (2/11/2024).

    Untuk mempercepat proses, para pelipat menumpuk beberapa surat suara lalu melipatnya bersamaan. Namun, cara ini juga membawa risiko, yaitu ada kemungkinan surat suara terlewat saat dipisahkan. 

    “Jadinya takut ada yang ter-double,” ujar Asikin.

    Bagi dia, pekerjaan ini tak hanya memberi penghasilan tambahan, tetapi juga memberikan pengalaman baru dan kesempatan berinteraksi dengan sesama pekerja. Para pekerja terlihat membentuk sebuah kelompok, terdiri dari empat hingga lima orang. Setiap lembar surat suara dihargai Rp220. Meskipun kecil, Asikin dan rekan-rekannya tetap semangat melipat kertas itu.

    Pantaun Seputar Fakta di lapangan, suasana di gudang logistik KPU pun tampak ceria. Para pelipat membawa bekal masing-masing dan kerap bercanda di sela-sela waktu melipat. Mereka bekerja di atas terpal hijau dengan ditemani kipas angin untuk mengusir panas Samarinda yang akhir-akhir ini cukup menyengat.

    “Biasa sehari kami bisa dapat 15 kotak, tiap kotak itu isinya sekitar dua ribu surat suara,” kata Asikin. 

    Selain melipat dengan tangan kosong secara manual, ada beberapa pelipat juga membawa botol, batu, dan selotip untuk memudahkan pekerjaan mereka hingga membuat tumpukan kertas itu terlipat dengan benar. 

    Menurutnya ini bukan sekadar pekerjaan melipat kertas, tetapi juga menjadi kesempatan menambah penghasilan, memperluas lingkaran pertemanan, dan tentunya, turut mendukung suksesnya pelaksanaan Pilkada Serentak 2024.

    Untuk diketahui juga, gudang logistik KPU yang digunakan kali ini berjarak dua bangunan dari lokasi pelipatan Pemilu sebelumnya. Fasilitas di gudang cukup lengkap dengan adanya toilet dan tempat salat di lantai dua. Tak jauh dari sana, beberapa pedagang kaki lima menjajakan makanan dan minuman, seperti es dan pentol rebus, yang jadi pengganjal perut para pelipat untuk mengisi tenaga.

    (Sf/Rs)