Cari disini...
Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
Seputar Kaltim
Ketua MUI Kabupaten Berau, Syarifuddin Israil. (Foto:Baiq Eliana/Seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Berau mengimbau masyarakat Muslim agar tidak ikut larut dalam euforia perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi sebab perayaan tersebut bukan merupakan tradisi umat Islam. Imbauan itu disampaikan untuk menjaga akidah umat Islam dari pengaruh tradisi keagamaan non-Muslim yang kerap mewarnai pergantian tahun.
Ketua MUI Kabupaten Berau, Syarifuddin Israil, menegaskan bahwa berbagai aktivitas yang lazim dilakukan saat malam Tahun Baru Masehi, seperti menyalakan petasan, kembang api, meniup terompet, serta bakar lilin, bukan bagian dari ajaran Islam.
"Sudah jelas itu kegiatannya orang Nasrani. Bagi umat Islam, haram hukumnya mengikuti atau meramaikan kegiatan tersebut," ujar Syarifuddin.
Ia menilai tingginya antusiasme masyarakat Muslim dalam perayaan Tahun Baru Masehi sebagai bentuk pergeseran akidah yang perlu mendapat perhatian serius. Kendati demikian, menurutnya, umat islam justru kurang memberi perhatian pada perayaan hari besar Islam sendiri, khususnya Tahun Baru Islam Satu Muharram.
"Kalau sekarang kita ini lucu. Hari raya orang lain dirayakan dengan meriah, sementara Tahun Baru Islam Satu Muharram malah sepi. Ini menunjukkan ada pergeseran nilai keagamaan," katanya.
Menurutnya kurangnya pemahaman keagamaan menjadi salah satu faktor utama masyarakat mudah ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Masehi. Dirinya pun menyoroti rendahnya minat terhadap kegiatan keagamaan dibandingkan hiburan.
"Kita sekarang banyak ikut-ikutan giliran diajak pengajian tidak ada yang datang, tapi kalau hiburan atau artis yang hadir justru penuh. Ini karena kurangnya pemahaman tentang esensi agama," jelasnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa ikut memeriahkan perayaan Tahun Baru Masehi sama artinya dengan meramaikan dan mendukung keyakinan agama lain, yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
"Dengan meniup terompet, bakar lilin, bahkan menyalakan kembang api dan petasan, itu namanya meramaikan agama orang lain. Meramaikan keyakinan orang lain berarti kita mendukungnya," tegasnya.
Oleh karena itu, dirinya mengatakan bahwa MUI telah menyampaikan patuah dan imbauan resmi terkait larangan tersebut kepada umat Islam. Sehingga, ia berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi pergantian tahun dengan kegiatan yang positif dan bernilai ibadah.
"Jangan terlalu ikut-ikutan dengan segala perayaan. Malam tahun baru adalah malam pergantian, siapa bilang harus jam 12 malam. Islam itu begitu masuk maghrib sudah hari berikutnya nah ini mengikuti pergantian tahun baru jam 12.00 itu namanya orang Nasrani," ujarnya.
Terakhir, Syarifuddin pun mengajak umat Islam, khususnya generasi muda, untuk kembali meramaikan hari-hari besar Islam dan tidak larut dalam euforia Tahun Baru Masehi.
"Ramaikanlah hari raya agama kita sendiri. Tahun baru Islam itu satu Muharram, bukan Desember atau ketika pergantian tahun," tandasnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
Seputar Kaltim

Ketua MUI Kabupaten Berau, Syarifuddin Israil. (Foto:Baiq Eliana/Seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Berau mengimbau masyarakat Muslim agar tidak ikut larut dalam euforia perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi sebab perayaan tersebut bukan merupakan tradisi umat Islam. Imbauan itu disampaikan untuk menjaga akidah umat Islam dari pengaruh tradisi keagamaan non-Muslim yang kerap mewarnai pergantian tahun.
Ketua MUI Kabupaten Berau, Syarifuddin Israil, menegaskan bahwa berbagai aktivitas yang lazim dilakukan saat malam Tahun Baru Masehi, seperti menyalakan petasan, kembang api, meniup terompet, serta bakar lilin, bukan bagian dari ajaran Islam.
"Sudah jelas itu kegiatannya orang Nasrani. Bagi umat Islam, haram hukumnya mengikuti atau meramaikan kegiatan tersebut," ujar Syarifuddin.
Ia menilai tingginya antusiasme masyarakat Muslim dalam perayaan Tahun Baru Masehi sebagai bentuk pergeseran akidah yang perlu mendapat perhatian serius. Kendati demikian, menurutnya, umat islam justru kurang memberi perhatian pada perayaan hari besar Islam sendiri, khususnya Tahun Baru Islam Satu Muharram.
"Kalau sekarang kita ini lucu. Hari raya orang lain dirayakan dengan meriah, sementara Tahun Baru Islam Satu Muharram malah sepi. Ini menunjukkan ada pergeseran nilai keagamaan," katanya.
Menurutnya kurangnya pemahaman keagamaan menjadi salah satu faktor utama masyarakat mudah ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Masehi. Dirinya pun menyoroti rendahnya minat terhadap kegiatan keagamaan dibandingkan hiburan.
"Kita sekarang banyak ikut-ikutan giliran diajak pengajian tidak ada yang datang, tapi kalau hiburan atau artis yang hadir justru penuh. Ini karena kurangnya pemahaman tentang esensi agama," jelasnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa ikut memeriahkan perayaan Tahun Baru Masehi sama artinya dengan meramaikan dan mendukung keyakinan agama lain, yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
"Dengan meniup terompet, bakar lilin, bahkan menyalakan kembang api dan petasan, itu namanya meramaikan agama orang lain. Meramaikan keyakinan orang lain berarti kita mendukungnya," tegasnya.
Oleh karena itu, dirinya mengatakan bahwa MUI telah menyampaikan patuah dan imbauan resmi terkait larangan tersebut kepada umat Islam. Sehingga, ia berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi pergantian tahun dengan kegiatan yang positif dan bernilai ibadah.
"Jangan terlalu ikut-ikutan dengan segala perayaan. Malam tahun baru adalah malam pergantian, siapa bilang harus jam 12 malam. Islam itu begitu masuk maghrib sudah hari berikutnya nah ini mengikuti pergantian tahun baru jam 12.00 itu namanya orang Nasrani," ujarnya.
Terakhir, Syarifuddin pun mengajak umat Islam, khususnya generasi muda, untuk kembali meramaikan hari-hari besar Islam dan tidak larut dalam euforia Tahun Baru Masehi.
"Ramaikanlah hari raya agama kita sendiri. Tahun baru Islam itu satu Muharram, bukan Desember atau ketika pergantian tahun," tandasnya.
(Sf/Rs)