Seputar Kaltim

    Sebanyak 173 Hotspot Terdeteksi di Kutim, BPBD Siapkan Personel dan Peralatan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    23 Agustus 2026 pukul 11:31 WITA

    Kepala Pelaksana BPBD Kutim, Sulastin, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menjadi perhatian. BPBD Kutim mencatat 173 titik panas atau hotspot yang tersebar di 13 dari 18 kecamatan.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin, mengatakan pemantauan hotspot menjadi salah satu perhatian BPBD di tengah kondisi cuaca yang kering.

    “Per hari ini ada 173 yang tersebar di beberapa kecamatan. Dari 18 kecamatan, ada 13 kecamatan yang tersebar hotspot,” ujar Sulastin. 

    Berdasarkan pemantauan BPBD, Bengalon menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 33 titik. Kemudian Long Mesangat sebanyak 32 titik.

    Sementara Konbeng dan Teluk Pandan masing-masing tercatat memiliki 28 titik panas. Muara Wahau memiliki sembilan titik.

    Selain pemantauan hotspot, BPBD Kutim juga menerima laporan kejadian kebakaran dari 12 kecamatan.

    Penanganan di lapangan dilakukan bersama TNI-Polri, relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kecamatan dan unsur terkait lainnya.

    Sulastin mengatakan kerja sama antarpihak sejauh ini membantu penanganan sejumlah kejadian kebakaran.“Alhamdulillah, kerja sama kita dengan semua pihak, TNI-Polri, tenaga relawan, MPA, kecamatan dan lainnya, sejauh ini bisa tertangani dengan baik,” katanya.

    Untuk wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, BPBD masih memantau sejumlah lokasi. Beberapa titik berada di kawasan Jalan Pendidikan, Guru Besar, Kabo, Poros Kenyamukan dan beberapa lokasi lainnya.

    Menurut Sulastin, sebagian kebakaran masih berada dalam skala yang dapat ditangani. Namun, kondisi cuaca panas dan kering tetap menjadi perhatian karena api dapat lebih cepat menyebar.

    BPBD kemudian akan melakukan konsolidasi personel dan peralatan. Langkah tersebut dilakukan agar kekuatan penanganan dapat dibagi ke wilayah yang membutuhkan.

    “Kita akan konsolidasi kembali personel dan peralatan. Nanti bisa kita bagi, wilayah mana yang membutuhkan personel dan peralatan,” jelasnya.

    Sulastin menyebut kondisi kering yang dipengaruhi fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi kebakaran.

    Kondisi tersebut juga berkaitan dengan karakteristik wilayah Kutim yang memiliki kawasan perkebunan, semak belukar dan lahan gambut.

    “Memang El Nino ini menyebabkan kekeringan. Kutim ini dominasi perkebunan, semak belukar dan gambut. Sedikit saja terbakar, bisa cepat menyebar,” ungkapnya.

    BPBD juga berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan untuk mendukung kebutuhan operasional penanganan karhutla.

    Sulastin menyebut koordinasi dilakukan dengan KPC dan PAMA. Kebutuhan yang disampaikan meliputi konsumsi personel, BBM, sarung tangan, masker dan perlengkapan lainnya.

    “Kami sudah bertemu dengan perusahaan. Kami membuat surat kebutuhan. Misalnya suplai konsumsi, BBM, sarung tangan, masker dan kebutuhan lainnya. Pihak perusahaan meminta agar kebutuhan itu disampaikan,” bebernya.

    Sulastin memastikan penanganan terus dilakukan di sejumlah titik yang masih dapat dikendalikan.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Sebanyak 173 Hotspot Terdeteksi di Kutim, BPBD Siapkan Personel dan Peralatan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    23 Agustus 2026 pukul 11:31 WITA

    Kepala Pelaksana BPBD Kutim, Sulastin, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menjadi perhatian. BPBD Kutim mencatat 173 titik panas atau hotspot yang tersebar di 13 dari 18 kecamatan.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin, mengatakan pemantauan hotspot menjadi salah satu perhatian BPBD di tengah kondisi cuaca yang kering.

    “Per hari ini ada 173 yang tersebar di beberapa kecamatan. Dari 18 kecamatan, ada 13 kecamatan yang tersebar hotspot,” ujar Sulastin. 

    Berdasarkan pemantauan BPBD, Bengalon menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 33 titik. Kemudian Long Mesangat sebanyak 32 titik.

    Sementara Konbeng dan Teluk Pandan masing-masing tercatat memiliki 28 titik panas. Muara Wahau memiliki sembilan titik.

    Selain pemantauan hotspot, BPBD Kutim juga menerima laporan kejadian kebakaran dari 12 kecamatan.

    Penanganan di lapangan dilakukan bersama TNI-Polri, relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kecamatan dan unsur terkait lainnya.

    Sulastin mengatakan kerja sama antarpihak sejauh ini membantu penanganan sejumlah kejadian kebakaran.“Alhamdulillah, kerja sama kita dengan semua pihak, TNI-Polri, tenaga relawan, MPA, kecamatan dan lainnya, sejauh ini bisa tertangani dengan baik,” katanya.

    Untuk wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, BPBD masih memantau sejumlah lokasi. Beberapa titik berada di kawasan Jalan Pendidikan, Guru Besar, Kabo, Poros Kenyamukan dan beberapa lokasi lainnya.

    Menurut Sulastin, sebagian kebakaran masih berada dalam skala yang dapat ditangani. Namun, kondisi cuaca panas dan kering tetap menjadi perhatian karena api dapat lebih cepat menyebar.

    BPBD kemudian akan melakukan konsolidasi personel dan peralatan. Langkah tersebut dilakukan agar kekuatan penanganan dapat dibagi ke wilayah yang membutuhkan.

    “Kita akan konsolidasi kembali personel dan peralatan. Nanti bisa kita bagi, wilayah mana yang membutuhkan personel dan peralatan,” jelasnya.

    Sulastin menyebut kondisi kering yang dipengaruhi fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi kebakaran.

    Kondisi tersebut juga berkaitan dengan karakteristik wilayah Kutim yang memiliki kawasan perkebunan, semak belukar dan lahan gambut.

    “Memang El Nino ini menyebabkan kekeringan. Kutim ini dominasi perkebunan, semak belukar dan gambut. Sedikit saja terbakar, bisa cepat menyebar,” ungkapnya.

    BPBD juga berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan untuk mendukung kebutuhan operasional penanganan karhutla.

    Sulastin menyebut koordinasi dilakukan dengan KPC dan PAMA. Kebutuhan yang disampaikan meliputi konsumsi personel, BBM, sarung tangan, masker dan perlengkapan lainnya.

    “Kami sudah bertemu dengan perusahaan. Kami membuat surat kebutuhan. Misalnya suplai konsumsi, BBM, sarung tangan, masker dan kebutuhan lainnya. Pihak perusahaan meminta agar kebutuhan itu disampaikan,” bebernya.

    Sulastin memastikan penanganan terus dilakukan di sejumlah titik yang masih dapat dikendalikan.

    (Sf/Lo)