Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Penyakit hati masih menjadi salah satu ancaman kesehatan global yang kerap tidak disadari masyarakat karena berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini membuat penyakit hati disebut sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam.
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa secara global terdapat lebih dari 300 juta orang yang hidup dengan penyakit hati kronis. Setiap tahunnya, penyakit ini menyebabkan sekitar 2 juta kematian di seluruh dunia.
“Penyakit hati merupakan ancaman serius karena berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah mengalami sirosis atau kanker hati,” demikian penjelasan Kemenkes RI dalam edukasi kesehatannya melalui media sosial resmi.
Dari total kematian tersebut, lebih dari 50 persen disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B dan Hepatitis C. Sekitar 25 persen lainnya berkaitan dengan konsumsi alkohol, sementara sekitar 15 persen disebabkan oleh gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes.
Kemenkes menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan penyakit hati bukan hanya pada pengobatan, tetapi pada rendahnya deteksi dini di masyarakat. Banyak kasus baru ditemukan saat kondisi sudah memasuki tahap lanjut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan 90 persen kasus hepatitis dapat terdeteksi melalui skrining, dengan 80 persen di antaranya mendapatkan penanganan atau tatalaksana medis yang tepat.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah meluncurkan sejumlah kebijakan, di antaranya imunisasi tenaga kesehatan pada 2023, pemberian profilaksis Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF) pada ibu pada 2024, serta penguatan skrining Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Selain itu, upaya deteksi dini juga diperkuat untuk penyakit hati yang disebabkan faktor metabolik seperti obesitas dan diabetes, agar dapat dicegah lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi berat.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menekan angka keterlambatan diagnosis yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian akibat penyakit hati di dunia.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Penyakit hati masih menjadi salah satu ancaman kesehatan global yang kerap tidak disadari masyarakat karena berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini membuat penyakit hati disebut sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam.
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa secara global terdapat lebih dari 300 juta orang yang hidup dengan penyakit hati kronis. Setiap tahunnya, penyakit ini menyebabkan sekitar 2 juta kematian di seluruh dunia.
“Penyakit hati merupakan ancaman serius karena berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah mengalami sirosis atau kanker hati,” demikian penjelasan Kemenkes RI dalam edukasi kesehatannya melalui media sosial resmi.
Dari total kematian tersebut, lebih dari 50 persen disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B dan Hepatitis C. Sekitar 25 persen lainnya berkaitan dengan konsumsi alkohol, sementara sekitar 15 persen disebabkan oleh gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes.
Kemenkes menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan penyakit hati bukan hanya pada pengobatan, tetapi pada rendahnya deteksi dini di masyarakat. Banyak kasus baru ditemukan saat kondisi sudah memasuki tahap lanjut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan 90 persen kasus hepatitis dapat terdeteksi melalui skrining, dengan 80 persen di antaranya mendapatkan penanganan atau tatalaksana medis yang tepat.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah meluncurkan sejumlah kebijakan, di antaranya imunisasi tenaga kesehatan pada 2023, pemberian profilaksis Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF) pada ibu pada 2024, serta penguatan skrining Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Selain itu, upaya deteksi dini juga diperkuat untuk penyakit hati yang disebabkan faktor metabolik seperti obesitas dan diabetes, agar dapat dicegah lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi berat.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menekan angka keterlambatan diagnosis yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian akibat penyakit hati di dunia.
(Sf/Rs)