Cari disini...
Seputar Kaltim
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menyoroti peluang bisnis pembenihan sawit di daerah. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat dan pemodal di Kutim untuk mengembangkan usaha pembenihan.
Mahyunadi mengatakan sawit di Kutim mulai ditanam sekitar 2001. Luas sawit yang ditanam di Kutim disebut telah mencapai lebih dari 600.000 hektare.
“Tidak satu pun kita pakai benih dari Kutim. Bahkan tidak satu pun kita menanam benih dari Kalimantan Timur. Semuanya kita ambil dari Sumatera,” ujar Mahyunadi.
Menurutnya, pelaku usaha dan pemodal di Kutim dapat mengembangkan perusahaan pembenihan sekaligus melakukan riset. Ia meminta rencana tersebut diajukan kepada pemerintah daerah.
“Harusnya kita di Kalimantan ada perusahaan, ada para pemodal di Kutim khususnya, silakan ajukan kepada kami, kepada pemerintah untuk juga membuat riset, membuat benih sendiri,” katanya.
Mahyunadi mengatakan riset perlu dilakukan di Kalimantan karena kondisi tanahnya berbeda dengan Sumatera. Ia memperkirakan benih yang dikembangkan melalui riset di Kalimantan bisa menghasilkan lebih besar jika sesuai dengan kondisi tanah di Kalimantan.
“Mungkin saja kalau kita riset di tanah Kalimantan, benih Kalimantan bisa jadi hasilnya lebih besar karena cocok dengan tanah yang ada di Kalimantan,” jelasnya.
Ia kemudian mencontohkan perusahaan pembenihan di Sumatera. Menurut Mahyunadi, ada perusahaan yang baru berusia sekitar dua hingga tiga tahun tetapi sudah mampu menjual bibit sawit.
“Kenapa? Karena di sana riset,” ucapnya.
Mahyunadi menilai setelah perkebunan sawit berkembang selama puluhan tahun, Kalimantan Timur seharusnya sudah memiliki benih yang dikembangkan sendiri.
“Dari sekian tahun kita belum ada benih dari Kaltim sendiri. Harusnya kita sudah ada benih sendiri,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menyoroti peluang bisnis pembenihan sawit di daerah. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat dan pemodal di Kutim untuk mengembangkan usaha pembenihan.
Mahyunadi mengatakan sawit di Kutim mulai ditanam sekitar 2001. Luas sawit yang ditanam di Kutim disebut telah mencapai lebih dari 600.000 hektare.
“Tidak satu pun kita pakai benih dari Kutim. Bahkan tidak satu pun kita menanam benih dari Kalimantan Timur. Semuanya kita ambil dari Sumatera,” ujar Mahyunadi.
Menurutnya, pelaku usaha dan pemodal di Kutim dapat mengembangkan perusahaan pembenihan sekaligus melakukan riset. Ia meminta rencana tersebut diajukan kepada pemerintah daerah.
“Harusnya kita di Kalimantan ada perusahaan, ada para pemodal di Kutim khususnya, silakan ajukan kepada kami, kepada pemerintah untuk juga membuat riset, membuat benih sendiri,” katanya.
Mahyunadi mengatakan riset perlu dilakukan di Kalimantan karena kondisi tanahnya berbeda dengan Sumatera. Ia memperkirakan benih yang dikembangkan melalui riset di Kalimantan bisa menghasilkan lebih besar jika sesuai dengan kondisi tanah di Kalimantan.
“Mungkin saja kalau kita riset di tanah Kalimantan, benih Kalimantan bisa jadi hasilnya lebih besar karena cocok dengan tanah yang ada di Kalimantan,” jelasnya.
Ia kemudian mencontohkan perusahaan pembenihan di Sumatera. Menurut Mahyunadi, ada perusahaan yang baru berusia sekitar dua hingga tiga tahun tetapi sudah mampu menjual bibit sawit.
“Kenapa? Karena di sana riset,” ucapnya.
Mahyunadi menilai setelah perkebunan sawit berkembang selama puluhan tahun, Kalimantan Timur seharusnya sudah memiliki benih yang dikembangkan sendiri.
“Dari sekian tahun kita belum ada benih dari Kaltim sendiri. Harusnya kita sudah ada benih sendiri,” pungkasnya.
(Sf/Rs)