Seputar Kaltim

    Sawah Kering di PPU Meluas, Capai 40,5 Hektare

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    11 September 2026 pukul 20:20 WITA

    Sawah di Kecamatan Waru, PPU, mengalami kekeringan akibat minimnya pasokan air. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dampak kekeringan pada lahan sawah di Penajam Paser Utara (PPU) meluas. Hingga 9 September 2026, Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat 40,5 hektare sawah terdampak di Kecamatan Waru dan Babulu.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengatakan luas tersebut meningkat tiga kali lipat dibanding pendataan Agustus yang mencatat 13,5 hektare sawah puso.

    "Hujan yang turun pada 7 sampai 9 September di Penajam ternyata tidak sampai ke wilayah Waru dan Babulu. Dari pendataan per 9 September, luas lahan terdampak bertambah menjadi 40,5 hektare," kata Gunawan, Jumat (11/9/2026).

    Di Kecamatan Waru, lahan terdampak mencapai 19,5 hektare. Seluruhnya berada di Desa Sesulu dan tersebar pada tiga kelompok tani, yakni Kelompok Tani Paidi 1 hektare, Panca Karya 14,5 hektare dan Mekar Jaya 4,5 hektare.

    Sementara di Kecamatan Babulu, luas lahan terdampak mencapai 21 hektare di Desa Babulu Darat. Rinciannya Kelompok Tani Karya Utama 10 hektare, Beringin Mulya 2 hektare, Beringin Setia 2 hektare dan Nunuk Bolum 7 hektare.

    Gunawan menyebut lahan yang terdampak merupakan sawah tadah hujan yang tidak memiliki sumber air permukaan. Kondisi itu membuat petani kesulitan menyelamatkan tanaman ketika hujan tidak turun di wilayah tersebut.

    Untuk lahan yang masih memiliki sumber air permukaan, Distan mengupayakan pompanisasi. Salah satunya di Kelompok Tani Mekarsari dengan luasan sekitar 7 hektare.

    "Pompanisasi sementara dilakukan pada lahan yang masih tersedia air permukaan. Untuk lahan yang benar-benar tadah hujan, kami akan melaporkan perkembangannya secara resmi," ujarnya.

    Distan PPU selanjutnya akan menyampaikan laporan tersebut kepada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur serta BPBD. 

    Pemerintah daerah berharap kondisi petani terdampak mendapat perhatian, termasuk kemungkinan bantuan untuk mengganti biaya input produksi yang telah dikeluarkan petani.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Sawah Kering di PPU Meluas, Capai 40,5 Hektare

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    11 September 2026 pukul 20:20 WITA

    Sawah di Kecamatan Waru, PPU, mengalami kekeringan akibat minimnya pasokan air. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dampak kekeringan pada lahan sawah di Penajam Paser Utara (PPU) meluas. Hingga 9 September 2026, Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat 40,5 hektare sawah terdampak di Kecamatan Waru dan Babulu.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengatakan luas tersebut meningkat tiga kali lipat dibanding pendataan Agustus yang mencatat 13,5 hektare sawah puso.

    "Hujan yang turun pada 7 sampai 9 September di Penajam ternyata tidak sampai ke wilayah Waru dan Babulu. Dari pendataan per 9 September, luas lahan terdampak bertambah menjadi 40,5 hektare," kata Gunawan, Jumat (11/9/2026).

    Di Kecamatan Waru, lahan terdampak mencapai 19,5 hektare. Seluruhnya berada di Desa Sesulu dan tersebar pada tiga kelompok tani, yakni Kelompok Tani Paidi 1 hektare, Panca Karya 14,5 hektare dan Mekar Jaya 4,5 hektare.

    Sementara di Kecamatan Babulu, luas lahan terdampak mencapai 21 hektare di Desa Babulu Darat. Rinciannya Kelompok Tani Karya Utama 10 hektare, Beringin Mulya 2 hektare, Beringin Setia 2 hektare dan Nunuk Bolum 7 hektare.

    Gunawan menyebut lahan yang terdampak merupakan sawah tadah hujan yang tidak memiliki sumber air permukaan. Kondisi itu membuat petani kesulitan menyelamatkan tanaman ketika hujan tidak turun di wilayah tersebut.

    Untuk lahan yang masih memiliki sumber air permukaan, Distan mengupayakan pompanisasi. Salah satunya di Kelompok Tani Mekarsari dengan luasan sekitar 7 hektare.

    "Pompanisasi sementara dilakukan pada lahan yang masih tersedia air permukaan. Untuk lahan yang benar-benar tadah hujan, kami akan melaporkan perkembangannya secara resmi," ujarnya.

    Distan PPU selanjutnya akan menyampaikan laporan tersebut kepada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur serta BPBD. 

    Pemerintah daerah berharap kondisi petani terdampak mendapat perhatian, termasuk kemungkinan bantuan untuk mengganti biaya input produksi yang telah dikeluarkan petani.

    (Sf/Lo)