Seputar Kaltim

    Sawah di Serayu Samarinda Terancam Gagal Panen, Distanpan Uji Air Sebelum Salurkan Bantuan

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    15 September 2026 pukul 09:43 WITA

    Penampakan lahan sawah Serayu yang mulai mengering akibat minimnya sumber air sehingga beresiko gagal panen (Dok : Istimewa)

    Samarinda – Kekeringan mulai mengancam lahan persawahan di kawasan Serayu, Samarinda, yang baru memasuki masa tanam namun tidak memiliki sumber air untuk mengairi lahan. 

    Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpan) Kota Samarinda menyiapkan suplai air menggunakan tangki yang akan ditampung lebih dulu ke embung, namun bantuan tersebut masih menunggu hasil uji kualitas air untuk memastikan tidak membahayakan tanaman.

    Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Distanpan Kota Samarinda, Noke Pattipawaej, mengatakan kondisi di Serayu cukup berbeda karena petani tidak memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah.

    “Kalau di Serayu itu memang ada karena mereka baru tanam dan kebetulan mereka tidak punya sumber air,” ujar Noke, Selasa (8/9/2026).

    Sebagai langkah penanganan, Distanpan mencoba menyuplai air menggunakan tangki. Air tersebut nantinya dimasukkan ke embung sebelum dialirkan ke lahan persawahan petani.

    Menurut Noke, bantuan air tidak langsung disalurkan ke lahan. Distanpan terlebih dahulu melakukan pengujian kualitas air, terutama untuk memastikan kandungan logam tidak berada pada tingkat yang berisiko terhadap tanaman.

    “Yang jelas itu kita tadi masih mencoba menguji kualitas airnya sebelum memasukkan air tersebut ke lahan persawahan,” ungkapnya.

    Ia mengatakan langkah tersebut penting karena air dengan kandungan logam yang terlalu tinggi justru berpotensi merusak tanaman dan memperburuk kondisi sawah yang tengah menghadapi kekeringan.

    “Kalau misalnya memang kandungan logamnya terlalu berat, takutnya malah berisiko tanamannya mati,” katanya.

    Terkait jumlah tangki yang akan dikerahkan ke Serayu, Noke belum memastikan tambahan armada sebelum hasil pengujian kualitas air diperoleh. 

    Penanganan akan disesuaikan dengan kondisi sumber air dan kebutuhan lahan di lokasi.

    Di sisi lain, Distanpan membuka akses bantuan bagi petani yang mengalami kesulitan air, baik melalui dukungan tangki maupun fasilitasi lainnya. 

    Petani diminta mengajukan kebutuhan melalui kelompok tani agar dapat dikoordinasikan dengan petugas di lapangan.

    “Nanti mereka akan koordinasi dengan petugas penyuluh yang ada di lokasi mereka. Kemudian nanti mereka akan koordinasi ke BPP atau Balai Penyuluhan Pertanian yang ada,” jelas Noke.

    Di Kota Samarinda, terdapat empat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang menjadi jalur koordinasi bantuan petani, yakni BPP Makroman, Lempake, Sungai Kunjang dan Palaran.

    Noke menegaskan petani yang tergabung dalam kelompok tani akan lebih mudah mendapatkan fasilitasi melalui mekanisme tersebut. 

    Langkah ini sekaligus memastikan bantuan dapat disalurkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Sawah di Serayu Samarinda Terancam Gagal Panen, Distanpan Uji Air Sebelum Salurkan Bantuan

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    15 September 2026 pukul 09:43 WITA

    Penampakan lahan sawah Serayu yang mulai mengering akibat minimnya sumber air sehingga beresiko gagal panen (Dok : Istimewa)

    Samarinda – Kekeringan mulai mengancam lahan persawahan di kawasan Serayu, Samarinda, yang baru memasuki masa tanam namun tidak memiliki sumber air untuk mengairi lahan. 

    Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpan) Kota Samarinda menyiapkan suplai air menggunakan tangki yang akan ditampung lebih dulu ke embung, namun bantuan tersebut masih menunggu hasil uji kualitas air untuk memastikan tidak membahayakan tanaman.

    Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Distanpan Kota Samarinda, Noke Pattipawaej, mengatakan kondisi di Serayu cukup berbeda karena petani tidak memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah.

    “Kalau di Serayu itu memang ada karena mereka baru tanam dan kebetulan mereka tidak punya sumber air,” ujar Noke, Selasa (8/9/2026).

    Sebagai langkah penanganan, Distanpan mencoba menyuplai air menggunakan tangki. Air tersebut nantinya dimasukkan ke embung sebelum dialirkan ke lahan persawahan petani.

    Menurut Noke, bantuan air tidak langsung disalurkan ke lahan. Distanpan terlebih dahulu melakukan pengujian kualitas air, terutama untuk memastikan kandungan logam tidak berada pada tingkat yang berisiko terhadap tanaman.

    “Yang jelas itu kita tadi masih mencoba menguji kualitas airnya sebelum memasukkan air tersebut ke lahan persawahan,” ungkapnya.

    Ia mengatakan langkah tersebut penting karena air dengan kandungan logam yang terlalu tinggi justru berpotensi merusak tanaman dan memperburuk kondisi sawah yang tengah menghadapi kekeringan.

    “Kalau misalnya memang kandungan logamnya terlalu berat, takutnya malah berisiko tanamannya mati,” katanya.

    Terkait jumlah tangki yang akan dikerahkan ke Serayu, Noke belum memastikan tambahan armada sebelum hasil pengujian kualitas air diperoleh. 

    Penanganan akan disesuaikan dengan kondisi sumber air dan kebutuhan lahan di lokasi.

    Di sisi lain, Distanpan membuka akses bantuan bagi petani yang mengalami kesulitan air, baik melalui dukungan tangki maupun fasilitasi lainnya. 

    Petani diminta mengajukan kebutuhan melalui kelompok tani agar dapat dikoordinasikan dengan petugas di lapangan.

    “Nanti mereka akan koordinasi dengan petugas penyuluh yang ada di lokasi mereka. Kemudian nanti mereka akan koordinasi ke BPP atau Balai Penyuluhan Pertanian yang ada,” jelas Noke.

    Di Kota Samarinda, terdapat empat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang menjadi jalur koordinasi bantuan petani, yakni BPP Makroman, Lempake, Sungai Kunjang dan Palaran.

    Noke menegaskan petani yang tergabung dalam kelompok tani akan lebih mudah mendapatkan fasilitasi melalui mekanisme tersebut. 

    Langkah ini sekaligus memastikan bantuan dapat disalurkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.

    (Sf/Rs)