Cari disini...
Seputar Kaltim
Karhutla di Kabupaten Paser. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)
Tana Paser - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser memastikan pemantauan kualitas udara di wilayahnya tetap berjalan optimal dan teruji. Keterbatasan sarana pendukung tidak menghalangi pemerintah daerah dalam menyajikan data yang akurat bagi masyarakat.
DLH Paser baru didukung oleh satu unit alat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Meskipun jumlahnya terbatas, sistem pemantauan yang berjalan dipastikan tetap dapat diandalkan setiap harinya.
Kepala DLH Kabupaten Paser, Achmad Safari menjelaskan, keterbatasan unit pemantau ISPU merupakan kondisi yang dihadapi hampir seluruh daerah. Sebagian besar kabupaten dan kota di Kalimantan Timur (Kaltim) saat ini memang baru memiliki satu alat serupa.
Meski menjadi alat tunggal, perangkat pemantau yang ditempatkan di Paser tersebut bekerja secara terus-menerus selama 24 jam penuh. Alat tersebut bertugas mendeteksi pergerakan asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara real time.
"Di Kaltim memang rata-rata baru memiliki satu alat ISPU. Alat tersebut bekerja aktif memantau partikulat asap dampak karhutla setiap hari," kata Achmad Safari, Senin (5/10/2026).
Achmad Safari menilai, keberadaan satu alat belum mampu memotret kondisi seluruh cakupan wilayah secara presisi hingga ke pelosok. Namun, data yang dihasilkan dipastikan sangat valid untuk mewakili gambaran kualitas udara Kabupaten Paser secara umum.
Keunggulan sistem real time dari alat itu terbukti saat DLH Paser mendeteksi nilai ISPU yang sempat menembus angka di atas 120. Lonjakan tersebut dapat terpantau secara cepat dan langsung terekam oleh sistem.
Data hasil pemantauan alat tunggal tersebut kini menjadi tolok ukur penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Kehadiran data tersebut sangat krusial untuk mengantisipasi risiko kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
"Walau belum keseluruhan wilayah dapat terpotret, namun data yang dihasilkan valid dan mewakili kondisi kualitas udara di Kabupaten Paser," tuturnya.
Pihaknya berkomitmen untuk terus memanfaatkan dan mengoperasikan sarana pemantau yang ada secara maksimal. Setiap pergerakan kualitas udara akan terus dipantau demi memberikan informasi yang transparan kepada publik.
Selain mengandalkan alat yang ada, DLH Paser juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai instansi lintas sektor. Langkah itu diambil agar upaya penanganan dampak karhutla di lapangan dapat dilakukan secara terukur.
Melalui pendekatan berbasis data dari alat ISPU tersebut, DLH Paser optimistis penanggulangan ancaman asap karhutla dapat berjalan lebih tepat sasaran demi melindungi kesehatan masyarakat.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Karhutla di Kabupaten Paser. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)
Tana Paser - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser memastikan pemantauan kualitas udara di wilayahnya tetap berjalan optimal dan teruji. Keterbatasan sarana pendukung tidak menghalangi pemerintah daerah dalam menyajikan data yang akurat bagi masyarakat.
DLH Paser baru didukung oleh satu unit alat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Meskipun jumlahnya terbatas, sistem pemantauan yang berjalan dipastikan tetap dapat diandalkan setiap harinya.
Kepala DLH Kabupaten Paser, Achmad Safari menjelaskan, keterbatasan unit pemantau ISPU merupakan kondisi yang dihadapi hampir seluruh daerah. Sebagian besar kabupaten dan kota di Kalimantan Timur (Kaltim) saat ini memang baru memiliki satu alat serupa.
Meski menjadi alat tunggal, perangkat pemantau yang ditempatkan di Paser tersebut bekerja secara terus-menerus selama 24 jam penuh. Alat tersebut bertugas mendeteksi pergerakan asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara real time.
"Di Kaltim memang rata-rata baru memiliki satu alat ISPU. Alat tersebut bekerja aktif memantau partikulat asap dampak karhutla setiap hari," kata Achmad Safari, Senin (5/10/2026).
Achmad Safari menilai, keberadaan satu alat belum mampu memotret kondisi seluruh cakupan wilayah secara presisi hingga ke pelosok. Namun, data yang dihasilkan dipastikan sangat valid untuk mewakili gambaran kualitas udara Kabupaten Paser secara umum.
Keunggulan sistem real time dari alat itu terbukti saat DLH Paser mendeteksi nilai ISPU yang sempat menembus angka di atas 120. Lonjakan tersebut dapat terpantau secara cepat dan langsung terekam oleh sistem.
Data hasil pemantauan alat tunggal tersebut kini menjadi tolok ukur penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Kehadiran data tersebut sangat krusial untuk mengantisipasi risiko kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
"Walau belum keseluruhan wilayah dapat terpotret, namun data yang dihasilkan valid dan mewakili kondisi kualitas udara di Kabupaten Paser," tuturnya.
Pihaknya berkomitmen untuk terus memanfaatkan dan mengoperasikan sarana pemantau yang ada secara maksimal. Setiap pergerakan kualitas udara akan terus dipantau demi memberikan informasi yang transparan kepada publik.
Selain mengandalkan alat yang ada, DLH Paser juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai instansi lintas sektor. Langkah itu diambil agar upaya penanganan dampak karhutla di lapangan dapat dilakukan secara terukur.
Melalui pendekatan berbasis data dari alat ISPU tersebut, DLH Paser optimistis penanggulangan ancaman asap karhutla dapat berjalan lebih tepat sasaran demi melindungi kesehatan masyarakat.
(Sf/Rs)