Seputar Kaltim

    Satu Dekade Tak Berkembang, Pasar Kilo 12 Balikpapan Masih Menunggu Konsep yang Tepat

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    09 Juni 2026 pukul 19:33 WITA

    Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono saat ditemui di ruang komisi II. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Sudah hampir satu dekade berdiri, Pasar Kilo 12 di Balikpapan Utara belum mampu berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi warga. Minimnya pedagang dan rendahnya kunjungan masyarakat, membuat pasar yang dibangun melalui bantuan Pemerintah Provinsi Kaltim hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

    Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dan DPRD Kota Balikpapan. Berbagai alternatif kini mulai dikaji untuk menghidupkan kembali pasar yang selama bertahun-tahun sepi aktivitas tersebut.

    Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono mengatakan, Pasar Kilo 12 sejak awal menghadapi tantangan dalam menarik pedagang untuk berjualan. Akibatnya, fasilitas yang telah dibangun belum mampu memberikan dampak ekonomi yang diharapkan.

    “Karena tidak banyak yang menempati, kami dari Komisi II pernah melakukan inspeksi mendadak ke lokasi. Saat itu sempat muncul rencana menjadikannya tempat relokasi pasar besi tua dan bahkan sudah disiapkan petak-petak untuk pedagang,” ucap Budiono kepada awak media, Selasa (9/6/2026).

    Namun, rencana tersebut belum dapat diwujudkan secara maksimal. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan anggaran daerah yang saat ini masih menjadi prioritas untuk kebutuhan lain.

    Menurut Budiono, kondisi keuangan daerah semakin tertekan setelah adanya pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat. Situasi itu membuat pemerintah belum dapat mengalokasikan dana tambahan untuk pengembangan kawasan pasar.

    “Untuk saat ini kami belum memiliki ruang fiskal yang cukup untuk pembangunan lanjutan di lokasi tersebut,” katanya.

    Di tengah keterbatasan anggaran, DPRD Balikpapan mulai mempertimbangkan pendekatan nonfisik melalui inovasi konsep pasar. Langkah ini dinilai lebih realistis dibandingkan membangun fasilitas baru yang membutuhkan biaya besar.

    Sejumlah ide mulai bermunculan, mulai dari pasar hewan, pasar burung, hingga pasar khusus komoditas seperti ayam, kambing, atau sapi.

    “Konsep pasar tematik tersebut dinilai memiliki peluang, karena telah diterapkan di sejumlah daerah dan mampu menciptakan pusat perdagangan yang lebih spesifik,” akunya.

    Selain itu, pasar juga berpotensi dimanfaatkan sebagai lokasi bagi pedagang musiman atau pelaku usaha mikro yang membutuhkan ruang usaha dengan biaya terjangkau.

    “Yang terpenting adalah menemukan konsep yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Fungsinya tetap sebagai pasar, tetapi harus memiliki daya tarik agar pedagang dan pembeli mau datang,” tegasnya.

    Selain konsep usaha, akses menuju lokasi dinilai menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Tanpa kemudahan akses, berbagai program pengembangan dikhawatirkan tidak akan efektif meningkatkan aktivitas perdagangan.

    “Karena itu, evaluasi terhadap kondisi infrastruktur pendukung menjadi bagian yang perlu diperhatikan sebelum pasar kembali dioperasikan secara optimal,” terangnya.

    Budiono menilai pengalaman Pasar Kilo 12 dapat menjadi pelajaran penting dalam perencanaan pembangunan fasilitas publik. Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus disertai kajian kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi wilayah agar investasi yang dikeluarkan pemerintah tidak berakhir sia-sia.

    “Jangan sampai fasilitas sudah dibangun, tetapi pemanfaatannya tidak maksimal. Ke depan perencanaan harus lebih matang agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.

    Ia berharap kajian yang sedang dilakukan dapat menghasilkan model pengelolaan yang tepat, sehingga Pasar Kilo 12 tidak lagi menjadi aset yang kurang produktif dan mampu berkembang menjadi pusat ekonomi baru bagi warga di kawasan Balikpapan Utara.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Satu Dekade Tak Berkembang, Pasar Kilo 12 Balikpapan Masih Menunggu Konsep yang Tepat

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    09 Juni 2026 pukul 19:33 WITA

    Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono saat ditemui di ruang komisi II. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Sudah hampir satu dekade berdiri, Pasar Kilo 12 di Balikpapan Utara belum mampu berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi warga. Minimnya pedagang dan rendahnya kunjungan masyarakat, membuat pasar yang dibangun melalui bantuan Pemerintah Provinsi Kaltim hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

    Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dan DPRD Kota Balikpapan. Berbagai alternatif kini mulai dikaji untuk menghidupkan kembali pasar yang selama bertahun-tahun sepi aktivitas tersebut.

    Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono mengatakan, Pasar Kilo 12 sejak awal menghadapi tantangan dalam menarik pedagang untuk berjualan. Akibatnya, fasilitas yang telah dibangun belum mampu memberikan dampak ekonomi yang diharapkan.

    “Karena tidak banyak yang menempati, kami dari Komisi II pernah melakukan inspeksi mendadak ke lokasi. Saat itu sempat muncul rencana menjadikannya tempat relokasi pasar besi tua dan bahkan sudah disiapkan petak-petak untuk pedagang,” ucap Budiono kepada awak media, Selasa (9/6/2026).

    Namun, rencana tersebut belum dapat diwujudkan secara maksimal. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan anggaran daerah yang saat ini masih menjadi prioritas untuk kebutuhan lain.

    Menurut Budiono, kondisi keuangan daerah semakin tertekan setelah adanya pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat. Situasi itu membuat pemerintah belum dapat mengalokasikan dana tambahan untuk pengembangan kawasan pasar.

    “Untuk saat ini kami belum memiliki ruang fiskal yang cukup untuk pembangunan lanjutan di lokasi tersebut,” katanya.

    Di tengah keterbatasan anggaran, DPRD Balikpapan mulai mempertimbangkan pendekatan nonfisik melalui inovasi konsep pasar. Langkah ini dinilai lebih realistis dibandingkan membangun fasilitas baru yang membutuhkan biaya besar.

    Sejumlah ide mulai bermunculan, mulai dari pasar hewan, pasar burung, hingga pasar khusus komoditas seperti ayam, kambing, atau sapi.

    “Konsep pasar tematik tersebut dinilai memiliki peluang, karena telah diterapkan di sejumlah daerah dan mampu menciptakan pusat perdagangan yang lebih spesifik,” akunya.

    Selain itu, pasar juga berpotensi dimanfaatkan sebagai lokasi bagi pedagang musiman atau pelaku usaha mikro yang membutuhkan ruang usaha dengan biaya terjangkau.

    “Yang terpenting adalah menemukan konsep yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Fungsinya tetap sebagai pasar, tetapi harus memiliki daya tarik agar pedagang dan pembeli mau datang,” tegasnya.

    Selain konsep usaha, akses menuju lokasi dinilai menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Tanpa kemudahan akses, berbagai program pengembangan dikhawatirkan tidak akan efektif meningkatkan aktivitas perdagangan.

    “Karena itu, evaluasi terhadap kondisi infrastruktur pendukung menjadi bagian yang perlu diperhatikan sebelum pasar kembali dioperasikan secara optimal,” terangnya.

    Budiono menilai pengalaman Pasar Kilo 12 dapat menjadi pelajaran penting dalam perencanaan pembangunan fasilitas publik. Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus disertai kajian kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi wilayah agar investasi yang dikeluarkan pemerintah tidak berakhir sia-sia.

    “Jangan sampai fasilitas sudah dibangun, tetapi pemanfaatannya tidak maksimal. Ke depan perencanaan harus lebih matang agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.

    Ia berharap kajian yang sedang dilakukan dapat menghasilkan model pengelolaan yang tepat, sehingga Pasar Kilo 12 tidak lagi menjadi aset yang kurang produktif dan mampu berkembang menjadi pusat ekonomi baru bagi warga di kawasan Balikpapan Utara.

    (Sf/Rs)