Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Satresnarkoba Polres Kutim, IPTU Erwin Susanto, (foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Peredaran narkotika di Kutai Timur (Kutim) kini semakin meresahkan. Satresnarkoba Polres Kutim mengungkap pola baru yang digunakan para pelaku untuk menghindari penangkapan.
Caranya dengan meletakkan barang haram tersebut di lokasi tertentu tanpa perlu bertemu pembeli.
Kasat Resnarkoba Polres Kutim, IPTU Erwin Susanto menjelaskan para pelaku biasanya beroperasi pada malam hari dan menggunakan sepeda motor untuk mengantar barang.
“Biasanya mereka mondar-mandir menggunakan sepeda motor. Barang tidak langsung diserahkan, tapi ditaruh di lokasi yang sepi. Setelah itu pembeli diberi tahu titik barang tersebut,” ujar IPTU Erwin.
Ia menambahkan pelaku menghindari kontak langsung dengan pembeli agar tidak mudah tertangkap. Namun dalam beberapa kasus, tetap berhasil diamankan.
"Setelah kami lakukan pemeriksaan, ternyata barang sebenarnya sudah siap. Tapi pelaku masih ragu-ragu karena tidak mengenal pembelinya. Setelah merasa yakin, baru dia kirim barang,” tambahnya
IPTU Erwin juga mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam membantu upaya pemberantasan narkoba. Ia mencontohkan pada Agustus lalu, warga setempat menangkap seseorang yang dicurigai mengambil barang di sebuah lokasi.
“Setelah dicek, benar bahwa orang itu adalah pembeli sekaligus pengguna. Untuk kasus seperti itu, kami arahkan ke rehabilitasi,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam melaporkan aktivitas mencurigakan sangat membantu aparat dalam melakukan penindakan.
Meski sejumlah pelaku berhasil diamankan, IPTU Erwin mengungkapkan bahwa pengungkapan jaringan besar masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak pelaku yang kini semakin lihai dalam memutus jejak komunikasi dengan bandar utama.
“Walaupun dilacak nomor teleponnya, sering kali buntu. Mereka sudah lebih pintar mengelabui,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana di tingkat polres dalam mendeteksi jaringan yang lebih luas.
“Kalau di BNN atau polda ada tim patroli siber. Kami di polres lebih banyak bekerja dari lapangan. Tapi kalau beruntung, bisa saja dari satu pelaku ditemukan tempat penyimpanan barang yang lebih besar,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Satresnarkoba Polres Kutim, IPTU Erwin Susanto, (foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Peredaran narkotika di Kutai Timur (Kutim) kini semakin meresahkan. Satresnarkoba Polres Kutim mengungkap pola baru yang digunakan para pelaku untuk menghindari penangkapan.
Caranya dengan meletakkan barang haram tersebut di lokasi tertentu tanpa perlu bertemu pembeli.
Kasat Resnarkoba Polres Kutim, IPTU Erwin Susanto menjelaskan para pelaku biasanya beroperasi pada malam hari dan menggunakan sepeda motor untuk mengantar barang.
“Biasanya mereka mondar-mandir menggunakan sepeda motor. Barang tidak langsung diserahkan, tapi ditaruh di lokasi yang sepi. Setelah itu pembeli diberi tahu titik barang tersebut,” ujar IPTU Erwin.
Ia menambahkan pelaku menghindari kontak langsung dengan pembeli agar tidak mudah tertangkap. Namun dalam beberapa kasus, tetap berhasil diamankan.
"Setelah kami lakukan pemeriksaan, ternyata barang sebenarnya sudah siap. Tapi pelaku masih ragu-ragu karena tidak mengenal pembelinya. Setelah merasa yakin, baru dia kirim barang,” tambahnya
IPTU Erwin juga mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam membantu upaya pemberantasan narkoba. Ia mencontohkan pada Agustus lalu, warga setempat menangkap seseorang yang dicurigai mengambil barang di sebuah lokasi.
“Setelah dicek, benar bahwa orang itu adalah pembeli sekaligus pengguna. Untuk kasus seperti itu, kami arahkan ke rehabilitasi,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam melaporkan aktivitas mencurigakan sangat membantu aparat dalam melakukan penindakan.
Meski sejumlah pelaku berhasil diamankan, IPTU Erwin mengungkapkan bahwa pengungkapan jaringan besar masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak pelaku yang kini semakin lihai dalam memutus jejak komunikasi dengan bandar utama.
“Walaupun dilacak nomor teleponnya, sering kali buntu. Mereka sudah lebih pintar mengelabui,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana di tingkat polres dalam mendeteksi jaringan yang lebih luas.
“Kalau di BNN atau polda ada tim patroli siber. Kami di polres lebih banyak bekerja dari lapangan. Tapi kalau beruntung, bisa saja dari satu pelaku ditemukan tempat penyimpanan barang yang lebih besar,” pungkasnya.
(Sf/Lo)