Seputar Kaltim

    Sang Askarya 2026 Libatkan 200 Pelaku Seni, Sajikan 25 Koreografi dalam Satu Panggung

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    09 September 2026 pukul 15:57 WITA

    Pagelaran Sang Askarya Tahun 2025. (Dok. Istimewa)

    Penajam - Pagelaran Sang Askarya 2026 kembali digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (12/9/2026). Tahun ini, pertunjukan seni yang digagas Sanggar Seni Borneo Benuo Taka itu melibatkan 200 pelaku seni, dua kali lipat dibanding pelaksanaan sebelumnya.

    Pertunjukan yang dipusatkan di Alun-Alun Penyembolum Penajam tersebut mengemas seni tari, teater, musik dan visual dalam satu rangkaian pertunjukan berdurasi sekitar satu jam.

    Director sekaligus sutradara Sang Askarya, Ary Febrian Masis, mengatakan skala pertunjukan tahun ini juga diperbesar dari sisi koreografi.

    Jika tahun sebelumnya terdapat 12 koreografi, tahun ini disiapkan 25 koreografi yang dilebur menjadi satu alur pertunjukan.

    "Tahun sebelumnya kita 100, tahun ini kita 200 pelaku seni. Koreografinya pun tahun sebelumnya kita cuma 12 koreografi, tahun ini kita menyajikan 25 koreografi yang dilebur menjadi durasi dalam satu jam itu," kata Ary, Rabu (9/9/2026).

    Sang Askarya 2026 menjadi pelaksanaan kedua setelah pertama kali digelar tahun lalu. Konsep utamanya mengangkat keragaman budaya Nusantara dari Sabang hingga Merauke dalam format medley yang memiliki alur cerita.

    Bukan hanya pelaku seni dewasa, pertunjukan ini juga melibatkan peserta dari usia PAUD hingga umum. Mereka akan tampil dalam satu panggung dengan sajian yang memadukan gerak, musik dan teater.

    Ary mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat berbeda dari pertunjukan seni biasa. Setiap wilayah yang diwakili akan ditampilkan melalui ciri khas budayanya, kemudian dirangkai menjadi satu pertunjukan utuh.

    "Yang paling menonjol pasti dari sajiannya. Kita menyajikan medley secara full yang dikemas memiliki sebuah alur cerita," ujarnya.

    Persiapan pertunjukan dilakukan dalam waktu relatif singkat. Kepastian pelaksanaan baru diterima sekitar H-15, sehingga proses latihan berlangsung kurang dari sebulan.

    Latihan dipusatkan di Rumah Adat Kuta Rekan Taka, Nipah-Nipah. Saat ini seluruh materi memasuki tahap akhir sebelum gladi di lokasi pertunjukan.

    Gladi penuh dengan tata suara dan pencahayaan dijadwalkan berlangsung 11 September di Alun-Alun Penyembolum. Sehari sebelumnya, peserta menjalani rehearsal kostum.

    Sang Askarya juga mendapat dukungan pendanaan melalui program Semarak Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang diperoleh melalui aspirasi anggota DPR RI Hetifah Sjaifudian.

    Dukungan teknis dan administrasi juga diberikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU.

    Ke depan, ia ingin keterlibatan komunitas seni di PPU diperluas. Menurutnya, ruang tampil bagi pelaku seni lokal perlu diperbanyak, terlebih PPU berada di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan terus didatangi masyarakat dari berbagai daerah.

    "PPU juga bagian dari gerbangnya IKN. Jadi kalau kita tidak mulai duluan, nanti kita akan ketinggalan sama pendatang yang akan datang. Pagelaran Sang Askarya ini sebenarnya pemantik dari awal buat teman-teman seniman yang ada di PPU ini buat bisa muncul," tandasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Sang Askarya 2026 Libatkan 200 Pelaku Seni, Sajikan 25 Koreografi dalam Satu Panggung

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    09 September 2026 pukul 15:57 WITA

    Pagelaran Sang Askarya Tahun 2025. (Dok. Istimewa)

    Penajam - Pagelaran Sang Askarya 2026 kembali digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (12/9/2026). Tahun ini, pertunjukan seni yang digagas Sanggar Seni Borneo Benuo Taka itu melibatkan 200 pelaku seni, dua kali lipat dibanding pelaksanaan sebelumnya.

    Pertunjukan yang dipusatkan di Alun-Alun Penyembolum Penajam tersebut mengemas seni tari, teater, musik dan visual dalam satu rangkaian pertunjukan berdurasi sekitar satu jam.

    Director sekaligus sutradara Sang Askarya, Ary Febrian Masis, mengatakan skala pertunjukan tahun ini juga diperbesar dari sisi koreografi.

    Jika tahun sebelumnya terdapat 12 koreografi, tahun ini disiapkan 25 koreografi yang dilebur menjadi satu alur pertunjukan.

    "Tahun sebelumnya kita 100, tahun ini kita 200 pelaku seni. Koreografinya pun tahun sebelumnya kita cuma 12 koreografi, tahun ini kita menyajikan 25 koreografi yang dilebur menjadi durasi dalam satu jam itu," kata Ary, Rabu (9/9/2026).

    Sang Askarya 2026 menjadi pelaksanaan kedua setelah pertama kali digelar tahun lalu. Konsep utamanya mengangkat keragaman budaya Nusantara dari Sabang hingga Merauke dalam format medley yang memiliki alur cerita.

    Bukan hanya pelaku seni dewasa, pertunjukan ini juga melibatkan peserta dari usia PAUD hingga umum. Mereka akan tampil dalam satu panggung dengan sajian yang memadukan gerak, musik dan teater.

    Ary mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat berbeda dari pertunjukan seni biasa. Setiap wilayah yang diwakili akan ditampilkan melalui ciri khas budayanya, kemudian dirangkai menjadi satu pertunjukan utuh.

    "Yang paling menonjol pasti dari sajiannya. Kita menyajikan medley secara full yang dikemas memiliki sebuah alur cerita," ujarnya.

    Persiapan pertunjukan dilakukan dalam waktu relatif singkat. Kepastian pelaksanaan baru diterima sekitar H-15, sehingga proses latihan berlangsung kurang dari sebulan.

    Latihan dipusatkan di Rumah Adat Kuta Rekan Taka, Nipah-Nipah. Saat ini seluruh materi memasuki tahap akhir sebelum gladi di lokasi pertunjukan.

    Gladi penuh dengan tata suara dan pencahayaan dijadwalkan berlangsung 11 September di Alun-Alun Penyembolum. Sehari sebelumnya, peserta menjalani rehearsal kostum.

    Sang Askarya juga mendapat dukungan pendanaan melalui program Semarak Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang diperoleh melalui aspirasi anggota DPR RI Hetifah Sjaifudian.

    Dukungan teknis dan administrasi juga diberikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU.

    Ke depan, ia ingin keterlibatan komunitas seni di PPU diperluas. Menurutnya, ruang tampil bagi pelaku seni lokal perlu diperbanyak, terlebih PPU berada di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan terus didatangi masyarakat dari berbagai daerah.

    "PPU juga bagian dari gerbangnya IKN. Jadi kalau kita tidak mulai duluan, nanti kita akan ketinggalan sama pendatang yang akan datang. Pagelaran Sang Askarya ini sebenarnya pemantik dari awal buat teman-teman seniman yang ada di PPU ini buat bisa muncul," tandasnya.

    (Sf/Rs)