Cari disini...
Seputar Kaltim
Hewan sapi yang disuntik. (Foto: alodokter)
Samarinda - Kasus penyakit antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menelan puluhan korban jiwa belum sampai ke Kota Samarinda.
Kendati demikian, Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Samarinda, Osa Rafshodia tetap menyarankan masyarakat tetap waspada.
"Kita harus ketahui bahwa penyakit ini kategori menular akut. Disebabkan oleh bakteri bernama Bacillus Anthracis yang bertahan lama ditubuh, sehingga bakteri tersebut membentuk spora yang sangat resisten," ungkapnya.
Menurutnya, dengan kita mengetahui apa penyakit tersebut, maka masyarakat akan tahu apa yang harus kita hindari.
"Kalau memang penyakit tersebut berasal dari hewan ternak atau yang terjadi di Gunung Kidul tersebut karena memakan daging yang telah mati. Dengan masyarakat sudah teredukasi seperti itu, harusnya mereka memakan daging yang layak dan segar," tegasnya.
Ia menegaskan sekali lagi meski ada langkah penanganan, tapi harap masyarakat harus tetap was-was.
"Penyakit ini memang belum dipastikan dapat menular antarmanusia, tapi kita perlu berjaga-jaga, yang pasti kesehatan diri lebih diutamakan, daripada kita memakan daging yang belum tau asal-usulnya," pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Hewan sapi yang disuntik. (Foto: alodokter)
Samarinda - Kasus penyakit antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menelan puluhan korban jiwa belum sampai ke Kota Samarinda.
Kendati demikian, Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Samarinda, Osa Rafshodia tetap menyarankan masyarakat tetap waspada.
"Kita harus ketahui bahwa penyakit ini kategori menular akut. Disebabkan oleh bakteri bernama Bacillus Anthracis yang bertahan lama ditubuh, sehingga bakteri tersebut membentuk spora yang sangat resisten," ungkapnya.
Menurutnya, dengan kita mengetahui apa penyakit tersebut, maka masyarakat akan tahu apa yang harus kita hindari.
"Kalau memang penyakit tersebut berasal dari hewan ternak atau yang terjadi di Gunung Kidul tersebut karena memakan daging yang telah mati. Dengan masyarakat sudah teredukasi seperti itu, harusnya mereka memakan daging yang layak dan segar," tegasnya.
Ia menegaskan sekali lagi meski ada langkah penanganan, tapi harap masyarakat harus tetap was-was.
"Penyakit ini memang belum dipastikan dapat menular antarmanusia, tapi kita perlu berjaga-jaga, yang pasti kesehatan diri lebih diutamakan, daripada kita memakan daging yang belum tau asal-usulnya," pungkasnya.
(Sf/By)