Seputar Kaltim

    Rujukan Ibu Hamil di Kutim Terkendala Akses, Sangkulirang Masih Andalkan Speedboat

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    25 Agustus 2026 pukul 21:46 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Akses menuju rumah sakit masih menjadi salah satu kendala dalam penanganan ibu dan bayi di wilayah terpencil Kutai Timur (Kutim). Kondisi geografis dan transportasi dapat memperlambat proses rujukan, terutama ketika ibu membutuhkan penanganan saat persalinan.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, angka kematian ibu dan bayi memang sudah menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, kasusnya masih terjadi dan menjadi perhatian pemerintah.

    “Ya, kita akui memang masih ada walaupun sudah turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ya. Ini menjadi perhatian kita semua bahwa memang kesehatan ibu dan anak sangat penting diperhatikan,” ujar dr Yuwana. 

    Menurutnya, kematian ibu dan bayi berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk akses dan transportasi dari daerah terpencil menuju rumah sakit rujukan.

    “Masalah yang kematian ibu dan bayi ini terkait banyak hal ya termasuk masalah akses, transportasi, pengiriman rujukan dari daerah terpencil misalnya terutama yang di desa-desa,” katanya.

    Ia mencontohkan kondisi di Sangkulirang, pengiriman pasien ke rumah sakit terkadang harus menggunakan speedboat. “Untuk dikirim ke rumah sakit itu kadang terkendala misalnya Sangkulirang harus lewat speed,” jelasnya.

    Selain persoalan akses, ia juga menyebut masih ada kasus kematian ibu melahirkan yang berkaitan dengan kondisi seperti perdarahan. Untuk itu, Dinas Kesehatan mendorong ibu hamil melakukan pemeriksaan secara rutin.

    Pemeriksaan kehamilan dianjurkan minimal enam kali selama masa kehamilan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengetahui kondisi ibu dan janin serta mendeteksi risiko sejak lebih awal.

    “Jadi kita selalu sosialisasikan bagaimana caranya supaya pemeriksaan kehamilan untuk ibu hamil itu minimal enam kali selama kehamilan,” ucapnya.

    Untuk ibu hamil dengan risiko tinggi, Dinas Kesehatan juga menganjurkan agar sebelum memasuki perkiraan waktu persalinan sudah berada di wilayah yang memiliki rumah sakit rujukan.

    “Untuk ibu hamil yang berisiko tinggi sebelum waktu perkiraan lahir kalau bisa dia sudah berada di tempat yang ada rumah sakit pusat rujukan. Misalnya ke Sangkulirang, ke Sangatta,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Rujukan Ibu Hamil di Kutim Terkendala Akses, Sangkulirang Masih Andalkan Speedboat

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    25 Agustus 2026 pukul 21:46 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Akses menuju rumah sakit masih menjadi salah satu kendala dalam penanganan ibu dan bayi di wilayah terpencil Kutai Timur (Kutim). Kondisi geografis dan transportasi dapat memperlambat proses rujukan, terutama ketika ibu membutuhkan penanganan saat persalinan.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, angka kematian ibu dan bayi memang sudah menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, kasusnya masih terjadi dan menjadi perhatian pemerintah.

    “Ya, kita akui memang masih ada walaupun sudah turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ya. Ini menjadi perhatian kita semua bahwa memang kesehatan ibu dan anak sangat penting diperhatikan,” ujar dr Yuwana. 

    Menurutnya, kematian ibu dan bayi berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk akses dan transportasi dari daerah terpencil menuju rumah sakit rujukan.

    “Masalah yang kematian ibu dan bayi ini terkait banyak hal ya termasuk masalah akses, transportasi, pengiriman rujukan dari daerah terpencil misalnya terutama yang di desa-desa,” katanya.

    Ia mencontohkan kondisi di Sangkulirang, pengiriman pasien ke rumah sakit terkadang harus menggunakan speedboat. “Untuk dikirim ke rumah sakit itu kadang terkendala misalnya Sangkulirang harus lewat speed,” jelasnya.

    Selain persoalan akses, ia juga menyebut masih ada kasus kematian ibu melahirkan yang berkaitan dengan kondisi seperti perdarahan. Untuk itu, Dinas Kesehatan mendorong ibu hamil melakukan pemeriksaan secara rutin.

    Pemeriksaan kehamilan dianjurkan minimal enam kali selama masa kehamilan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengetahui kondisi ibu dan janin serta mendeteksi risiko sejak lebih awal.

    “Jadi kita selalu sosialisasikan bagaimana caranya supaya pemeriksaan kehamilan untuk ibu hamil itu minimal enam kali selama kehamilan,” ucapnya.

    Untuk ibu hamil dengan risiko tinggi, Dinas Kesehatan juga menganjurkan agar sebelum memasuki perkiraan waktu persalinan sudah berada di wilayah yang memiliki rumah sakit rujukan.

    “Untuk ibu hamil yang berisiko tinggi sebelum waktu perkiraan lahir kalau bisa dia sudah berada di tempat yang ada rumah sakit pusat rujukan. Misalnya ke Sangkulirang, ke Sangatta,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)