Seputar Kaltim

    Ruas Jalan Tidak Sepadan dengan Jumlah Kendaraan, Novan Nilai Pengadaan Transportasi Umum Perlu Dikaji Ulang

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Agustus 2024 pukul 17:35 WITA

    Sekretaris Komisi III DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie. (Foto: Tria/Seputarfakta.com

    Samarinda – Sekretaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, menyebut bahwa ruas jalan di Kota Samarinda saat ini sudah tidak sepadan dengan jumlah kendaraan yang ada, sehingga sering menimbulkan kemacetan.

    Dalam upaya mengatasi masalah ini, pemerintah kota melalui Dinas Perhubungan telah mencanangkan pengadaan transportasi umum. 
    Namun, Novan mencatat bahwa salah satu tantangan utama dalam implementasi transportasi umum ini berkaitan dengan kultur masyarakat Samarinda yang berbeda dengan kota-kota lain.

    “Budaya jalan kaki di Indonesia, khususnya di Samarinda, itu minim. Terlihat dari dibangunnya trotoar bagus oleh pemerintah tapi tidak digunakan untuk jalan kaki, malah untuk parkir dan jualan. Harusnya itu difungsikan sesuai tujuannya,” ujar Novan, Senin (5/8/2024).

    Novan menjelaskan bahwa salah satu fungsi pengadaan transportasi umum adalah untuk mengurai kemacetan, agar pengguna jalan bisa meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi. 

    "Tapi apakah transportasi umum itu sudah dibutuhkan di Samarinda? Iya. Tapi kalau untuk seratus persen dibutuhkan dan jadi kunci dari kemacetan, itu belum," jelasnya.

    Ia mencontohkan bahwa orang dengan mobilitas tinggi dalam pekerjaannya tidak mungkin menggunakan transportasi umum. Saat ini, transportasi yang paling memudahkan masyarakat adalah transportasi online, karena titik penjemputan dan pengantaran sesuai dengan keinginan pengguna, bahkan hingga ke dalam gang kecil. 

    "Transportasi itu yang mendatangi masyarakat, bukan masyarakat yang mendatangi," kata Novan.

    Berbeda halnya dengan transportasi umum, masyarakat harus mendatangi halte. Novan berpendapat bahwa penempatan transportasi umum harus efisien dan efektif dengan mempertimbangkan tujuan penggunaannya. 

    Misalnya, penempatan di area Teras Samarinda yang memiliki kantong parkir jauh sehingga masyarakat harus naik bus terlebih dahulu.

    Selain kultur, Novan juga menyoroti bahwa wilayah Samarinda terbilang sulit untuk ditempatkan transportasi umum karena sebagian masyarakat tinggal di dalam gang dan jauh dari halte-halte yang ada saat ini. 

    "Belum lagi soal biaya, kalau dikira lebih murah pakai motor, pasti orang-orang akan lebih memilih pakai motor ketimbang naik transportasi umum," tambahnya. 

    Untung itu, Novan berharap bahwa sebelum pengadaan transportasi umum dilaksanakan secara menyeluruh, perlu adanya kajian yang mendalam terkait kebutuhan, efisiensi, dan efektivitasnya dalam mengurai kemacetan di Samarinda.


    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Ruas Jalan Tidak Sepadan dengan Jumlah Kendaraan, Novan Nilai Pengadaan Transportasi Umum Perlu Dikaji Ulang

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Agustus 2024 pukul 17:35 WITA

    Sekretaris Komisi III DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie. (Foto: Tria/Seputarfakta.com

    Samarinda – Sekretaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, menyebut bahwa ruas jalan di Kota Samarinda saat ini sudah tidak sepadan dengan jumlah kendaraan yang ada, sehingga sering menimbulkan kemacetan.

    Dalam upaya mengatasi masalah ini, pemerintah kota melalui Dinas Perhubungan telah mencanangkan pengadaan transportasi umum. 
    Namun, Novan mencatat bahwa salah satu tantangan utama dalam implementasi transportasi umum ini berkaitan dengan kultur masyarakat Samarinda yang berbeda dengan kota-kota lain.

    “Budaya jalan kaki di Indonesia, khususnya di Samarinda, itu minim. Terlihat dari dibangunnya trotoar bagus oleh pemerintah tapi tidak digunakan untuk jalan kaki, malah untuk parkir dan jualan. Harusnya itu difungsikan sesuai tujuannya,” ujar Novan, Senin (5/8/2024).

    Novan menjelaskan bahwa salah satu fungsi pengadaan transportasi umum adalah untuk mengurai kemacetan, agar pengguna jalan bisa meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi. 

    "Tapi apakah transportasi umum itu sudah dibutuhkan di Samarinda? Iya. Tapi kalau untuk seratus persen dibutuhkan dan jadi kunci dari kemacetan, itu belum," jelasnya.

    Ia mencontohkan bahwa orang dengan mobilitas tinggi dalam pekerjaannya tidak mungkin menggunakan transportasi umum. Saat ini, transportasi yang paling memudahkan masyarakat adalah transportasi online, karena titik penjemputan dan pengantaran sesuai dengan keinginan pengguna, bahkan hingga ke dalam gang kecil. 

    "Transportasi itu yang mendatangi masyarakat, bukan masyarakat yang mendatangi," kata Novan.

    Berbeda halnya dengan transportasi umum, masyarakat harus mendatangi halte. Novan berpendapat bahwa penempatan transportasi umum harus efisien dan efektif dengan mempertimbangkan tujuan penggunaannya. 

    Misalnya, penempatan di area Teras Samarinda yang memiliki kantong parkir jauh sehingga masyarakat harus naik bus terlebih dahulu.

    Selain kultur, Novan juga menyoroti bahwa wilayah Samarinda terbilang sulit untuk ditempatkan transportasi umum karena sebagian masyarakat tinggal di dalam gang dan jauh dari halte-halte yang ada saat ini. 

    "Belum lagi soal biaya, kalau dikira lebih murah pakai motor, pasti orang-orang akan lebih memilih pakai motor ketimbang naik transportasi umum," tambahnya. 

    Untung itu, Novan berharap bahwa sebelum pengadaan transportasi umum dilaksanakan secara menyeluruh, perlu adanya kajian yang mendalam terkait kebutuhan, efisiensi, dan efektivitasnya dalam mengurai kemacetan di Samarinda.


    (Sf/Rs)