Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Gedung Pandurata yang sudah mencapai akhir masa konstruksi dan bisa digunakan pada 2026 mendatang. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kabar gembira bagi warga Kalimantan Timur yang kerap kesulitan mendapat ruang perawatan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.
Masalah antrean panjang dan penumpukan pasien yang selama ini menjadi keluhan utama, diharapkan segera teratasi dengan hadirnya Gedung Pandurata.
Pemerintah Provinsi Kaltim saat ini tengah mengebut penyelesaian gedung baru sembilan lantai yang diproyeksikan mampu menampung hingga 700 tempat tidur tambahan.
Direktur RSUD AWS Samarinda, Indah Puspitasari, blak-blakan mengakui kondisi rumah sakit yang sering kewalahan.
"Selama ini lonjakan pasien sering kali membuat ruang perawatan penuh," ujar Indah Puspitasari.
Menurutnya, kondisi overcapacity ini membuat antrean pasien rawat inap tidak terhindarkan. Gedung Pandurata disiapkan sebagai solusi utama untuk mengurai kepadatan tersebut.
“Dengan Pandurata, kita harap antrean pasien bisa berkurang, dan pelayanan kesehatan di Kaltim menjadi lebih optimal,” tegasnya.
Tidak hanya menambah kuantitas tempat tidur, Gedung Pandurata juga dirancang untuk meningkatkan kualitas layanan secara drastis.
Indah menjelaskan, gedung baru ini akan difungsikan sebagai pusat layanan hemodialisa (cuci darah) yang lebih representatif, selain menjadi ruang rawat inap modern.
“Beberapa layanan seperti hemodialisa akan dipindahkan ke sana agar pasien mendapatkan ruang yang lebih layak dan nyaman,” jelasnya.
Terkait progres fisik bangunan, Kepala Dinas PUPR-PERA Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda, memastikan pihaknya fokus menuntaskan konstruksi tahun ini.
Pria yang akrab disapa Nanda itu menegaskan adanya pembagian tugas yang jelas untuk mempercepat operasional gedung.
”Tahun ini selesai pengerjaan fisiknya, untuk operasionalnya dan manajerialnya itu pihak rumah sakit yang melengkapi, kalau secara fisik selesai,” ujar Nanda beberapa waktu lalu.
Menyambung hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin menjelaskan bahwa Pemprov Kaltim telah mengalokasikan anggaran besar untuk tahap selanjutnya, yakni pengisian fasilitas.
Proyek monumental yang menelan investasi fisik lebih dari Rp370 miliar ini akan segera dilengkapi dengan alat kesehatan (alkes) senilai Rp100 miliar.
"Untuk Gedung Pandurata ini masih tahap akhir. Mudah-mudahan Januari 2026 sudah selesai (siap operasi), kemudian kita lengkapi dengan berbagai fasilitas dan alat kesehatan,” kata Jaya.
Ia menambahkan bahwa fasilitas baru ini akan mengikuti standar Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dari Kementerian Kesehatan.
Penerapan KRIS ini akan menjadi perubahan besar bagi pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“KRIS ini memastikan semua peserta JKN mendapat pelayanan dengan standar yang sama. Tidak ada lagi perbedaan kelas rawat inap seperti sebelumnya,” tutupnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Gedung Pandurata yang sudah mencapai akhir masa konstruksi dan bisa digunakan pada 2026 mendatang. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kabar gembira bagi warga Kalimantan Timur yang kerap kesulitan mendapat ruang perawatan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.
Masalah antrean panjang dan penumpukan pasien yang selama ini menjadi keluhan utama, diharapkan segera teratasi dengan hadirnya Gedung Pandurata.
Pemerintah Provinsi Kaltim saat ini tengah mengebut penyelesaian gedung baru sembilan lantai yang diproyeksikan mampu menampung hingga 700 tempat tidur tambahan.
Direktur RSUD AWS Samarinda, Indah Puspitasari, blak-blakan mengakui kondisi rumah sakit yang sering kewalahan.
"Selama ini lonjakan pasien sering kali membuat ruang perawatan penuh," ujar Indah Puspitasari.
Menurutnya, kondisi overcapacity ini membuat antrean pasien rawat inap tidak terhindarkan. Gedung Pandurata disiapkan sebagai solusi utama untuk mengurai kepadatan tersebut.
“Dengan Pandurata, kita harap antrean pasien bisa berkurang, dan pelayanan kesehatan di Kaltim menjadi lebih optimal,” tegasnya.
Tidak hanya menambah kuantitas tempat tidur, Gedung Pandurata juga dirancang untuk meningkatkan kualitas layanan secara drastis.
Indah menjelaskan, gedung baru ini akan difungsikan sebagai pusat layanan hemodialisa (cuci darah) yang lebih representatif, selain menjadi ruang rawat inap modern.
“Beberapa layanan seperti hemodialisa akan dipindahkan ke sana agar pasien mendapatkan ruang yang lebih layak dan nyaman,” jelasnya.
Terkait progres fisik bangunan, Kepala Dinas PUPR-PERA Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda, memastikan pihaknya fokus menuntaskan konstruksi tahun ini.
Pria yang akrab disapa Nanda itu menegaskan adanya pembagian tugas yang jelas untuk mempercepat operasional gedung.
”Tahun ini selesai pengerjaan fisiknya, untuk operasionalnya dan manajerialnya itu pihak rumah sakit yang melengkapi, kalau secara fisik selesai,” ujar Nanda beberapa waktu lalu.
Menyambung hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin menjelaskan bahwa Pemprov Kaltim telah mengalokasikan anggaran besar untuk tahap selanjutnya, yakni pengisian fasilitas.
Proyek monumental yang menelan investasi fisik lebih dari Rp370 miliar ini akan segera dilengkapi dengan alat kesehatan (alkes) senilai Rp100 miliar.
"Untuk Gedung Pandurata ini masih tahap akhir. Mudah-mudahan Januari 2026 sudah selesai (siap operasi), kemudian kita lengkapi dengan berbagai fasilitas dan alat kesehatan,” kata Jaya.
Ia menambahkan bahwa fasilitas baru ini akan mengikuti standar Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dari Kementerian Kesehatan.
Penerapan KRIS ini akan menjadi perubahan besar bagi pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“KRIS ini memastikan semua peserta JKN mendapat pelayanan dengan standar yang sama. Tidak ada lagi perbedaan kelas rawat inap seperti sebelumnya,” tutupnya.
(Sf/Rs)