Cari disini...
Seputar Kaltim
Rumah Sakit Islam (RSI) Samarinda yang masih terbengkalai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Rumah Sakit Islam (RSI) Samarinda yang dikelola oleh Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi) belum beroperasi lagi setelah sempat dibuka kembali pada tahun 2021. RSI Samarinda yang merupakan pelayanan gawat darurat dan klinik ini telah tutup sejak tahun 2016 karena penarikan aset oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Pencabutan hak pinjam pakai gedung bekas rumah sakit umum ini berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kaltim saat itu, H Awang Faroek Ishak. Namun, hingga kini, nasib gedung RSI Samarinda masih belum jelas.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong pengelola RSI Samarinda untuk menghidupkan kembali rumah sakit tersebut. Menurutnya, pengelola harus memiliki inovasi-inovasi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
"Rumah Sakit Islam itu kan sudah ada yayasannya atau pengelolanya ya, memang saya akan terus mendorong agar pengelola itu bisa punya inovasi-inovasi. Apalagi kalau urusan operasional itu kan izinnya masih sampai 2025," ujar Jaya di Samarinda, Selasa (24/1/2024).
Jaya juga mengatakan bahwa Pemprov Kaltim mendukung penuh keberlangsungan RSI Samarinda, asalkan pengelola bisa melakukan strategi bisnis yang tepat. Salah satunya adalah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan membuat perjanjian kerja sama (PKS) dengan pihak tersebut.
"Pastilah (mendukung), namun dengan cara yang saya sarankan juga. Melakukan semacam strategi bisnisnya, sekarang korporasi rumah sakit itu kan sama standarnya, harus kerja sama dengan BPJS dan bagaimana agar BPJS bisa langsung melakukan PKS," tuturnya.
Selain itu, Jaya juga menyarankan pengelola untuk memperbaiki gedung-gedung yang tidak dipakai agar bisa dimanfaatkan kembali. Ia mengakui bahwa hal ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun ia berharap pengelola bisa mengelola biaya secara efektif dan efisien.
"Tentu banyak biaya, tapi kan kita juga harus bisa menata, bagaimana caranya agar biayanya juga tidak digunakan secara lebih, namun bisa efektif dan efisien," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Rumah Sakit Islam (RSI) Samarinda yang masih terbengkalai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Rumah Sakit Islam (RSI) Samarinda yang dikelola oleh Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi) belum beroperasi lagi setelah sempat dibuka kembali pada tahun 2021. RSI Samarinda yang merupakan pelayanan gawat darurat dan klinik ini telah tutup sejak tahun 2016 karena penarikan aset oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Pencabutan hak pinjam pakai gedung bekas rumah sakit umum ini berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kaltim saat itu, H Awang Faroek Ishak. Namun, hingga kini, nasib gedung RSI Samarinda masih belum jelas.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong pengelola RSI Samarinda untuk menghidupkan kembali rumah sakit tersebut. Menurutnya, pengelola harus memiliki inovasi-inovasi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
"Rumah Sakit Islam itu kan sudah ada yayasannya atau pengelolanya ya, memang saya akan terus mendorong agar pengelola itu bisa punya inovasi-inovasi. Apalagi kalau urusan operasional itu kan izinnya masih sampai 2025," ujar Jaya di Samarinda, Selasa (24/1/2024).
Jaya juga mengatakan bahwa Pemprov Kaltim mendukung penuh keberlangsungan RSI Samarinda, asalkan pengelola bisa melakukan strategi bisnis yang tepat. Salah satunya adalah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan membuat perjanjian kerja sama (PKS) dengan pihak tersebut.
"Pastilah (mendukung), namun dengan cara yang saya sarankan juga. Melakukan semacam strategi bisnisnya, sekarang korporasi rumah sakit itu kan sama standarnya, harus kerja sama dengan BPJS dan bagaimana agar BPJS bisa langsung melakukan PKS," tuturnya.
Selain itu, Jaya juga menyarankan pengelola untuk memperbaiki gedung-gedung yang tidak dipakai agar bisa dimanfaatkan kembali. Ia mengakui bahwa hal ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun ia berharap pengelola bisa mengelola biaya secara efektif dan efisien.
"Tentu banyak biaya, tapi kan kita juga harus bisa menata, bagaimana caranya agar biayanya juga tidak digunakan secara lebih, namun bisa efektif dan efisien," pungkasnya.
(Sf/Rs)